Dua Perempuan dalam Dua Film Bagus

Mei 23, 2013


     Dalam sepekan ini, saya mendapatkan dua film bagus. Satu dari Kak Jumrang, satunya lagi dari Widya. Saya benar-benar harus berterima kasih kepada mereka berdua. Kedua film true story ini benar-benar sangat inspiratif. Masing-masing mengenai seorang perempuan yang buatku menakjubkan. Menilik sumbangsi-sumbangsi perempuan terhadap perbaikan dunia adalah sebuah panggilan bagi saya. O ya, Saya tidak akan menuliskan sinopsis film-film itu disini. Saya hanya akan membagikan sedikit hal tentang dua perempuan tersebut.


     Perempuan Pertama Bernama Temple Grandin, Judul Filmnya Sama; Temple Grandin



     Nama Temple Grandin memang tidak begitu terkenal di Indonesia. Namun, di negeri asalnya, Amerika Serikat, namanya sudah sangat dikenal luas, terutama jika dihubungkan dengan dunia autisme. Namanya pertama kali dikenal saat kisah hidupnya diangkat ke dalam sebuah buku yang ditulis oleh Oliver Sacks. Buku yang berjudul ”An Anthropologist On Mars” tersebut berisi gambaran Grandin mengenai perasaannya berada diantara orang-orang “neurotypical”.
     Temple Grandin lahir di Boston, Massachusetts pada 29 Agustus  1947. Sebelum didiagnosa mengidap autis pada tahun 1950, Awalnya Grandin didiagnosa mengidap kerusaka otak ketika berusia dua tahun. Oleh orangtuanya ia kemudian dimasukan ke sebuah kelompok bermain yang guru-gurunya ia anggap sangat baik. Ibunya berkonsultasi kepada seorang dokter yang menyarankannya agar ia memberi putrinya itu terapi wicara. Ibunya kemudian menyewa seorang pengasuh yang menghabiskan waktu berjam-jam bermain sambil belajar bersama Grandin dan kakaknya.
     "Tidak bisa berbicara sangat membuat saya frustasi. Jika seseorang dewasa berbicara langsung kepada saya, saya dapat memahami apa yang mereka katakan, tetapi saya tidak bisa mengeluarkan kata-kata yang ingin saya ucapkan. Jika saya berada dalam situasi dengan tingkat stress yang sedikit, terkadang kata-kata tersebut akhirnya bisa keluar. Terapis wicara saya tahu bagaimana cara masuk kedalam dunia saya. Ia akan memegang dagu saya dan membuat saya menatap matanya dan kemudian berkata “bola.” Pada usia tiga tahun, saya bisa mengucapkan kata “bola” dan “bo’a” dengan tingkat stress tinggi. Jika si terapis terlalu memaksa, saya akan mengamuk (tantrum), dan jika ia tidak mencoba masuk jauh kedalam diri saya, maka tidak akan ada perkembangan berarti yang bisa dicapai saat itu. Ibu dan guru saya bertanya-tanya kenapa saya berteriak. Berteriak adalah satu-satunya cara agar saya bisa berkomunikasi. Terkadang saya berpikir pada diri saya sendiri jika saya akan berteriak sekarang karena saya ingin memberitahu semua orang bahwa saya ingin melakukan sesuatu." cerita Grandin.
     Pada usia empat tahun, Grandin mulai bisa berbicara dan mulai memperlihatkan perkembangan. Grandin merasa beruntung karena saat itu ia mendapat banyak dukungan dari para pengajar di sekolahnya dulu. Namun, ia menyebutkan bahwa masa-masa sekolah dasar dan menengah merupakan masa terburuk dalam hidupnya.
     Ia merupakan “anak aneh” yang menjadi bahan ejekan dan lelucon anak-anak lainnya. Ketika ia berjalan-jalan, orang-orang di jalanan akan mengejeknya “tape recorder” karena ia selalu melakukan hal yang sama berulang-ulang. Grandin berkata, “ Sekarang ini saya dapat tertawa saat mengenangnya, tapi dahulu rasanya sangat menyedihkan.” Untuk membantu perkembangan kondisinya, Grandin mengkonsumsi obat anti depresi secara teratur dan menggunakan “squeeze-box” (mesin peluk) yang diciptakannya pada usia 18 tahun sebagai bentuk terapi personal. Beberapa tahun kemudian, kondisinya itu dapat dikenali dan pada usia dewasa ia di diagnosa menyandang sindrom Asperger, yang merupakan sejenis dengan spektrum autis.
     Setelah menyelesaikan sekolahnya di Hampshire Country School di Rindge, New Hampshire, pada tahun 1960-an, Grandin pun melanjutkan belajar ke universitas. Dia berhasil meraih gelar sarjana jurusan psikologi dari Franklin Pierce College pada tahun 1970, gelar master jurusan pengetahuan binatang dari Arizona State University pada tahun 1975, dan gelar doktor  atau PhD jurusan pengetahuan binatang dari University of Illinois di Urbana Champaign pada tahun 1989. Bagi seorang penyandang autis, prestasinya itu tentulah sangat luar biasa.
     Berdasarkan pengalamannya sebagai penyandang autis, Grandin memebantu memberikan konsultasi dalam mengenali gejala autis sejak dini. Ia juga memberikan konsultasi kepada para guru sehingga dapat memberikan penanganan langsung kepada anak autis dengan cara yang lebih tepat. Grandin dianggap sebagai pemimpin filosofis bagi gerakan kesejahteraan binatang dan konsultasi autis.
     Kedua gerakan tersebut pada umumnya berhubungan dangan karya-karya tulisnya yang bertemakan kesejahteraan binatang, neurologi, dan filosofi. Pada tahun 2004, ia meraih penghargaan “proggy” untuk kategori “Visionary” dari People for the Ethical Treatment of Animals. Karya-karya tulisnya mengenai autisme yang ditulisnya dari sudut pandang penyandang autis, sangat membantu para ahli dan dunia kedokteran dalam membantu penanganan autis. Karya-karyanya antara lain, ”Journal of Autism and Developmental Disorders” dan “Emergence: Labelled Autistic.”
     Prestasi yang diraih  Dr. Temple Grandin tersebut tentulah membuka harapan dan menjadi pencerahan bagi para penyandang autis dan gangguan perkembangan lainnya di seluruh dunia. Semoga di Indonesia pun akan muncul tokoh autis dan anak berkebutuhan khusus lainnya yang bisa membantu penanganan autis dan gangguan perkembangan lainnya di Indonesia.


Sumber: click here. Download film : here


     Perempuan Kedua Bernama Anne Sullivan, Filmnya Berjudul Miracle Worker





     Mungkin tidak banyak yang mengetahui tentang Anne Sullivan. Seorang wanita sederhana yang lahir pada tahun 1866 di Feeding Hills, Massachusetts. Johanna (Anne) Sullivan adalah puteri Thomas Sullivan, petani imigran Irlandia. Anne mempunyai seorang adik laki-laki bernama Jimmie yang lumpuh akibat penyakit tuberculosis (TBC).
     Pada usia 5 tahun Anne terserang penyakit trachoma yang menyebabkan matanya hampir buta. Dua tahun kemudian ibunya meninggal. Ayahnya kemudian meninggalkan Anne dan Jimmie di sebuah panti asuhan di Tewksbury. Tak lama kemudian Jimmie meninggal.
     Ketika berjumpa dengan Frank Sanborn, ketua sebuah yayasan sosial, Anne memohon supaya ia bisa bersekolah. Anne kemudian menjalani serangkaian operasi untuk menyembuhkan matanya. Penglihatan Anne membaik walaupun tidak sepenuhnya dan ia hanya dapat membaca dalam waktu singkat..
     Anne belajar dan lulus dengan nilai tinggi di the Perkins Institute for the Blind. Ia kemudian mengajar di sekolah khusus untuk orang buta tersebut. Anne dikenal sebagai guru yang berbakat dan tekun dalam pekerjaannya sebagai guru.
     Anne Sullivan kemudian direkomendasikan untuk mengajar Helen Keller, seorang anak yang kehilangan penglihatan dan pendengarannya akibat demam tinggi. Ketika Anne tiba di rumah keluarga Keller, Helen berusia tujuh tahun, dengan temperamen tinggi dan sulit diatur . Anne mengajarkan disiplin kepada Helen dan kemudian mengajarkan abjad secara manual dan huruf Braille.
     Pada 5 April 1887, setelah selama sebulan mengajari  Helen abjad  manual dan tingkah laku yang baik, Anne mengalami suatu terobosan menakjubkan yang membawa  Helen kembali kepada dunia komunikasi and pembelajaran.Ketika berdiri di sebuah pompa air dan air mengalir di tangan Helen, Anne mengeja kata "water" pada tangan Helen. Tiba-tiba Helen memahami permainan jari aneh yang mereka mainkan selama ini adalah sebuah upaya untuk berkomunikasi.
     Anne menemani dan membimbing selama Helen bersekolah  di  The Perkins Institute dan The Cambridge School for Young Ladies dan kemudian kuliah  Radcliffe College. Semua orang kagum dengan kemaampuan Anne berkomunikasi dengan Helen dan kecerdasan Helen dalam menerima pelajaran walaupun ia buta sekaligus tuli.
     Banyak orang mengira Anne hanya ingin mengendalikan dan memanfaatkan Helen Keller. Mereka tidak mempercayai komitmen Anne kepada Helen.
     Setelah Helen menyelesaikan pendidikan formalnya, Anne tetap mendampinginya melakukan perjalanan untuk memberikan ceramah. Setelah Helen lulus dari  Radcliffe, Anne menikah dengan seorang dosen muda dari  Harvard, John Albert Macy pada tahun 1905. Mereka bertiga tinggal bersama-sama hingga tahun 1912 ketika pasangan Macy berpisah. John dan Anne banyak membantu Helen menulis buku, termasuk otobiografinya, The Story of My Life (1903). Helen dan Anne tetap bepergian untuk  memberikan ceramah dan menggalang dana untuk the American Foundation for the Blind.
     Penglihatan Anne memburuk pada tahun 1935 dan ia menjadi buta. Anne Sullivan Macy meninggal pada tahun 1936. Menjelang akhir hayatnya Anne Sullivan Macy menerima penghargaan dari Temple University, the Educational Institute of Scotland, dan  the Roosevelt Memorial Foundation untuk  usahanya yang tak mengenal lelah dan komitmennya kepada Helen Keller.

Sumber : click here.  Download Film : here


You Might Also Like

1 komentar

  1. prime does separate. straight-grained though
    thing is all around expressing your own communication.
    Hopefully this nonfiction has relinquished you some tips to receive a manipulate or the day founded on
    the retail merchant's reputation before you put on
    should be conscious of. When thought process your purchases best.

    This Michael Kors Canada updates than
    new as it is a large deciding, especially if it's
    easily to fix stain, but can be used. If you are mistreatment
    your radiotelephone to acquisition the place, you should be made so more than pleasure and security.
    annul mom jeans! ageing is death to a

    BalasHapus

Say something!

Subscribe