apa yang lebih puisi dari ini?

Mei 23, 2013







       Jaringan buruk. Kita jadi sering gantian mengirim sms "sebagian teks hilang". Tapi aku sadar, belakangan ini artinya kita senang menulis sms panjang-panjang. Aku senang. Kau ingat, dalam prolog novelmu yang akan segera terbit itu ada kata-kata macam ini tertulis disana, "jika orang yang mengaku mencintaimu smsnya tak lagi lebih dari lima kata, cintanya sudah tak genap untuk kamu jadikan alasan bertahan, apalagi menunggu—dengan rindu." Aku menyesal membacanya waktu itu. Aku sadar aku selalu melakukannya, bahkan lebih tak jarang membiarkan sms-smsmu berlalu begitu saja tanpa balasan. Aku jahat sekali. Tapi kau tetap bertahan, tapi kau masih tak bosan mengirimiku sms--meski hanya sekadar menyapa, tapi kau masih mencintaiku. 
    Baru hari-hari ini aku mengirimimu sms lebih sering, lebih banyak, lebih selalu membuatmu khilaf meluputkan untuk menjawab pertanyaanku yang mendadak lebih banyak dari biasa. Aku tak marah. Diantara kesibukanmu yang membadai, menyempatkan untuk membalas smsku dengan tak hanya kata Ya, Tidak, atau Oke, itu sudah lebih dari cukup. Apalagi mendadak kau jadi lebih sering mengatakan; Saya mencintaimu. Hm, kenapa baru sekarang aku tahu bahwa kau bisa lebih manis jika aku sedikit lebih memerhatikan untuk membalas sms-mu dengan baik.
       Sore ini, mendadak aku menerima sms yang membuatku hampir menjatuhkan air mata. Dalam pesan singkat itu kau menulis bahwa kau mencintaiku, kau memintaku bersabar untuk mencintaimu dan agar segala yang bisa membuatku marah tak pernah menjadi alasan untuk mengurangi kebahagian kita. Aku membalasnya. Mengatakan bahwa aku tak marah dan bertanya mengapa tiba-tiba kau berkata demikian.
       "Saya sangat rindu. Dan saya merasa bersalah telah mengabaikanmu akhir-akhir ini karena kesibukanku. Kamu perempuan yang sangat baik. Saya lelaki yang sangat beruntung."
       Ah, Sempurna sudah haruku. Hujan, senja, kopi, dan perasaan rindu--pun dirindukan. Apa yang lebih puisi dari ini?
       Aku kian mencintaimu, akulah yang sejatinya lebih beruntung. Kau sibuk, dan kau tak melupakanku. Kau tak melupakanku bahkan kau masih sempat menghawatirkan perasaanku. Kau lelaki yang baik. Baik sekali. Itulah yang membuatku lebih sering menangis. Bukan sedih. Bahagia. Terlampau bahagia. 
       Kuseruput tenggakan terakhir kopi dinginku. Apa kau tahu, tiba-tiba ia tak lagi sepahit kemarin.




Makassar, 23 Mei 2013

You Might Also Like

5 komentar

  1. Akan sangat bagus jika kau tulis saja namaku. :)

    BalasHapus
  2. Kenapa kamu bisa sebegitu merasa bahwa saya sedang membicarakanmu? Hm. Hahaha

    BalasHapus
  3. Hahahaha, saya tahu kamu tak akan mengakuinya di sini.

    BalasHapus
  4. dia baik. dan kamu cerdas. :p

    BalasHapus

Say something!

Subscribe