Makam

April 16, 2013

Telah lebih dari setengah tahun ini tak pernah lagi kulakoni ritual menziarahi itu. Dulu, paling sedikit dua kali sepekan aku pasti datang menengok, bahkan bisa setiap hari. Sekadar menuangkan kesah atau gembira, sekadar menabur kisah-kisah, memasrahkan perasaan-perasaan memendam yang tak sanggup lagi terpiara, atau sekadar menghabiskan sisa-sisa air mata.

Di segunduk tanah yang telah dibatasi keramik sisi-sisinya, terpampang jelas nama itu disana;
Masbah Amier
lahir : 8 Desember 1964
wafat : 12 Juni 2002
Ia, Pria itu, Ayahku, tak akan lagi pernah sanggup memarahi, menggertak, atau sekadar memelototiku hingga seluruh persendian berasa putus, tiap kali bersitatap, dulu, duluu sekali, ketika aku masih kanak dan seperti tak mengenal hal lain kecuali berbuat kesalahan. Ia kini barangkali hanya bisa memerhatikanku dari suatu dimensi yang entah bagaimana caranya kumengerti, sebab hanya jasadnya yang terbenam disini. Mungkin juga tak pernah ia tahu aku begitu rutin menemuinya, kadang sendiri, sesekali menyertakan sahabat 'tuk turut mendoakan, pernah juga bersama dua orang pria yang salah satunya tahu-tahu meritualkan dirinya sendiri untuk melakukan hal serupa aku, sejak saat itu; menziarahi makam pria itu, ayah dari perempuan yang katanya dicintainya, hendak dinikahinya kemudian, namun selalu ada jalan yang tak pernah dimengerti harapan. Aku tak tahu masihkah pria itu kini datang menengok serutin dahulu. Aku tak tahu, sungguh. Aku tak pernah lagi datang. Tak pernah lagi secara tak sengaja menemuinya.

Aku rindu, merindukan banyak hal dari tempat yang telah kunisbatkan sebagai satu dari tempat terfavorit setelah kamar tidurku sendiri dan toko buku. Jajaran penjual bunga-bunga dan bebotol air, anak-anak yang berlomba membersihkan nisan tiap aku datang, tentang deru pesawat yang gelegar suaranya memekikkan jika lewat, dekat, dekaaat sekali rasanya dari kepala, tentang pohon-pohon asam yang dedaunnya selalu setia luruh bila dipeluk angin, jatuh, kadang melatari drama air mataku, membuat nuansanya kian menyembilu. Aku merindu,. Hatiku sejauh ini kubiarkan penuh, agar ingat indahnya tiap melapangkan dada melaluinya. Aku tak ingin, tak pernah ingin ayahku luput dari sekian pergolakan yang menghantarku hingga dewasa, hingga nanti, hingga mati.

Apakah rerumput liar telah semakin meninggi di atas gundukan sana? Aku merindukannya, jauh dari itu semua; Ayahku, sebuah tempat dimana kukebumikan semua rasa tanpa segan. Aku akan kesana lagi, pasti! sebelum--mungkin--tak pernah bisa kembali. Lagi.

You Might Also Like

0 komentar

Say something!

Subscribe