di sebuah warung makan; beberapa cerita saat duduk bersisian, dengannya

April 13, 2013


Sahabatku—Kami akhirnya berjumpa dalam sebuah syuro’ sore ini. Selalu bahagia bertemu ia. Kesibukan kuliah, aktivitas lain yang tidak senada, barangkali untuk urusan-urusan dakwah saja kami—alhamdulillah—masih selalu sempat dipertemukan.
Ia nyaris pulang dengan angkot, dan aku dengan sepeda motorku, masing-masing seorang diri. Tapi entah bagaimana, akhirnya kami jadi pulang bersama—nekat meski dengan satu helm yang di kepalaku saja. Di perjalanan ia bercerita, sehabis subuh, saat ia melanjutkan tidur, ia bermimpi tentangku, menggelikan katanya. Aku penasaran sekali dan terus bertanya namun ia sibuk sekali tertawa. “Saya lapar, kita singgah di warung makan, di sana akan saya ceritakan.” Ini memang prosesi yang hampir tidak pernah terlewat tiap berjumpa; singgah di warung makan. Yang juga berarti, sebuah percakapan yang sangat panjang akan terjadi, bahwa kami mesti pulang larut, selalu begitu.
Tidak akan kuceritakan detil mimpinya disini, sebab ada yang mengatakan, tak baik mengumbar isi mimpi kepada yang tidak seharusnya mengetahui. Yang pasti ia bermimpi tentangku yang sedang dengan seseorang. Nyata sekali mimpi itu, kata ia, sehingga saat terbangun ia merasa kejadian itu sempat benar-benar terjadi. Dan nyata merasakan kecewanya di dalam hati. Ia benar, mimpinya itu menggelikan, menggelikan sekali. Aku tak henti tertawa. Ia juga. Tak penting betul apa yang tetangga-tetangga meja kami pikirkan. Sialnya, di hari yang sama, kuharap tidak pada saat yang persis, aku juga sedang bermimpi tentang diriku, diriku yang bersama dengan seseorang. Meski orang yang di mimpinya tak sama dengan orang yang di mimpiku, tapi sungguh tema dari kisah itu persis. Pun, persis sama menggelikannya. Kebetulan betul!
Aku tak tahu mengapa hal itu terjadi lagi. Dulu, kejadian seperti ini pun pernah menimpaku dengan sahabatku yang lain. Aku punya dua orang sahabat. Sejak SMA, kami terbiasa saling membawa. Dan ini terjadi lagi, mimpi. Lagi-lagi menyoal mimpi. Tak ada yang bisa kusimpulkan selain; mereka punya firasat yang luar biasa. Hatiku bergejolak, hingga saat catatan ini kutuliskan. Tapi sudahlah!
Kami memesan menu serupa. Selanjutnya, perbincangan kami berubah. Menyoal buku puisi yang terlanjur kusodorkan. Milik si penyair favoritku, Sudahkan Kau Memeluk Dirimu Hari Ini?, demikian judulnya. Aku tak ingat mengapa kami berakhir dengan menyeksamai beberapa buah puisi di buku tersebut. Ia, Sahabat Perempuanku itu, mengejanya dengan sangat lucu, sekata demi sekata, sebaris demi sebaris, untuk memahaminya. Aku menertawakan ia. Tak henti tertawa, mengingat keringat di keningnya mulai menganak. Ia tampak sekali berusaha keras mengusung simpulan demi simpulan perihal makna puisi-puisi itu, terutama bagi judul-judul yang kusebut 'bagus'. Tiap gagal paham pada satu judul, ia pindah ke judul lain, “Satu lagi. Kali ini saya pasti bisa paham. Yang ringan-ringan saja.“ Ia menghela napas. Sesekali dahinya berkerut, kadang kepalanya mengangguk ragu, sesekali mengusap keringat di wajah. “Ah. Mati jika suamiku nanti penyair! Bisa dikata tolol betul diriku ini.” Ia menggaruk kepalanya, sekian detik lalu terbahak. Kurasa air mataku bahkan terpaksa menyeruak keluar sebab tawaku tak mampu lagi menanggung kelucuan ini sendirian.
Kau jangan salah, ia perempuan cerdas. Aku bahkan sering berakhir patuh dalam serangkaian idealismenya yang sukar ditolak. Ia hanya tak menyukai hal-hal absurd. Baginya, kelugasan jauh lebih memikat. Aku tahu, malam ini ia hanya berusaha mengimbangi serangkaian kegilaanku—katanya—pada aksara beserta orang-orang yang bersamanya. Lagipula, kami selalu menikmati momen-momen yang membawa kotak-kotak kenangan perihal masa dimana sejumlah nama beserta syair-syair memasuki otak dan hati kami hingga hampir gila. Mengusut, mengeja, mencari, hingga menjatuhcintai. Banyak hal seputar masa lampau, tentang puisi-puisi yang seolah-olah hanya untuk masing-masing kami. Barangkali, kami hanya rindu. Merindukan beberapa keping kisah yang tak pernah selesai. Barangkali ia-nya, yang mungkin juga ia-ku. Barangkali sesajak di ulang tahun, atau beberapa andai yang menyemburu. Ah, entahlah. Aku hanya memilih betah dimakan nuansa. Membiarkan semuanya mekar lantas menyembunyikan lembut di balik senyuman. 
Nasi goreng kami sudah datang!

 .Apr 11, 2013

You Might Also Like

0 komentar

Say something!

Subscribe