Apa Mungkin Ibuku akan...

April 12, 2013


            Saat kecil, saat mulai tahu untuk tertarik kepada lawan jenis, sejak teman-teman lain mulai menasbihkan segala macam kriteria yang katanya wajib dipunyai sebagai standar dalam memilih pasangan, aku juga ikut-ikutan membuat list meski tak tahu sepenting apa berikutnya list itu ketika kau benar-benar sedang jatuh cinta kemudian bahkan tak sempat lagi mengingatnya. Konyol memang, aku sering menertawakan diriku bila teringat upayaku mencari kriteria spesifik tentang seperti apa pria sempurna itu sebenarnya. Sial betul aku pernah menulis sekian kata macam ini ; baik, perhatian, pintar, bisa bahasa inggris (biar bisa ngajarin), tinggi, putih, gentle (tanpa tahu bahwa gentle itu ternyata berarti lembut), pebasket, ustad, dan—ini yang paling gila—bule. Ya Tuhan, labil betul. Izinkan kuusap dadaku sejenak. Memang pada akhirnya orang-orang dengan tipe macam di atas hampir semua pernah mewarnai hari-hariku di masa lampau, tapi hal tersebut akhirnya membawaku pada suatu simpulan kecil; baik-buruk, sempurna-tak sempurna, masing-masing adalah dua sisi yang relatif.
            Pertanyaannya  mungkin begini, apakah menentukan kriteria selalu menjadi hal tidak penting pada akhirnya? Tentu tidak. Di luar rencana Tuhan yang boleh jadi menjodohkkan kita dengan siapa saja, entah pernah terpikir atau tidak, kita tetap harus punya standar tersendiri. Standar itu yang kemudian kita pakai untuk mengukur diri hingga kita pantas untuk kriteria itu juga. Bukankah tak lucu mengharapkan orang cerdas, sementara pada saat bersamaan orang cerdas itu juga sedang mengimpikan memiliki kekasih yang lebih cerdas darinya. Setidaknya, orang-orang mesti ingat untuk menjadi sepantas kriterianya. Tapi aku tak akan berpanjang lebar membahas mengenai hal tersebut. Ini sepenuhnya tentang sebuah mimpi yang baru terbersit saat di bangku kuliah ini, mengenai aku yang berharap bersuamikan seorang penyair.
     Hm ya, aku sempat bermimpi, ingin sekali tiap hari ada seseorang yang menyanandungkan kekata manis di telingaku sebelum lelap, menyediakan bagiku secarik kertas dengan puisi kecil di dalamnya sebagai sarapan, setiap pagi—perihal aku yang masih sangat ia cintai, bahkan mengenai aku yang masih cantik dalam pandangannya sekali pun nanti kami telah sama-sama menua. Ia bahasakan, digunakannya segala macam kata hingga hal ini tak pernah menjadi membosankan, hingga tiap aku bangun dengan kenyataan, aku tahu lelakiku masih sangat mencintaiku. Haha, konyol sekali yah? Atau lebay? Tenang saja, aku berpendapat sama. Tapi bagiku, orang-orang yang mengambil lebay sebagai dalih untuk tidak menyenangkan hati pasangannya jauh lebih konyol lagi! Dan sebuah cinta yang kehabisan kekonyolan di dalamnya tak lebih dari selembar daun kering yang menunggu tanggal dari ranting. Memang, memang sih tak semua rasa harus diekspresikan dalam kata-kata, namun adakalanya ia harus diluahkan untuk menebalkan kekukuhan. Itu saja, menurutku.
            Oh iya, sebenarnya—ketika menuliskan ini—aku baru saja tiba dari sebuah Pelatihan Kepenulisan dengan seorang penulis favoritku sebagai pembicara tunggal. Sudah lama aku tahu ia belum menikah, orang tua dari mantan kekasihnya tak ridha anaknya bersandingkan ia yang penulis, itu katanya. “Tak banyak orang tua yang bisa merelakan anak gadisnya pada seorang penulis dengan berbagai alasan terutama materi.” Mungkin iya. Aku tidak akan membahas perihal dirinya, juga mungkin perihal penulis lain yang bernasib sama, toh bukankah jodoh tak ‘kan kemana. Aku hanya terpikir mengenai kalimatnya itu sepanjang jalan—makanya aku menulis ini—, sembari mengeja dalam hati sekian puisi—yang ia tuliskan—yang kuyakin juga kutebak asal-asalan adalah perihal ia dan kekasihnya itu. Entah mengapa mengingatnya selalu membuat hatiku tersayat. Entah mengapa. Di luar kata si pria beralis tebal itu bahwa penulis itu pembohong, aku merasa tak penting betul untuk tahu mana yang benar dan salah dari setiap peristiwa yang ditorehkannya. Terpenting bagiku, menikmati karya itu adalah tentang seberapa berhasil si penulis itu menghidupi ceritanya, seberapa mampu juga ia menghidupkan pembaca-pembacanya ke dalam sana. Anggaplah semisal ini :

Lelaki yang engkau cintai itu, mati
dan tak membawamu ke makamnya
Sementara aku,
bertahan hidup
bertahun-tahun sanggup tak mati oleh rindu
dan menanti di surga

Hawa,
aku masih ular yang setia mencintaimu
sepanjang usia Tuhan.”

Nah kan, perasaanku kembali beriak, luka ini selalu sampai setiap aku membaca potongan puisi Kepada Hawa-nya, kak Aan.
            Mengenai mimpi kecil yang kukatakan tadi. Aku tentu tak akan memaksakan diri, juga tak akan berdoa siang-malam hanya agar diberi jodoh seorang penyair. Sebab, Tuhanku yang Mahasegala itu tahu mana yang terbaik bagi hamba-Nya, dan aku percaya. Ini hanya misalkan—ini misalkan saja—kejadian macam ini terjadi, terjadi padaku. Apakah ia, ibuku, akan merelakan anak gadisnya pada seorang pemuda yang tak membawa apa-apa kecuali sebuah keyakinan untuk membahagiakan putrinya, kecuali oleh sebuah janji untuk bekerja keras, kecuali oleh sebuah kematangan hati bahwa menulis bukanlah profesi yang tidak menghidupkan? Apakah perempuan itu, ibuku—dengan bingkai pemikiran yang kurasa dimiliki oleh secara umum orang tua, kira-kira akan mengizini? Ah! Panjang sekali imajinasiku ini. Tapi sudahlah,—sekali   lagi—di luar semua mimpi, di luar semua ingin, jauh dari batasan semua hasrat dan upaya, selalu ada rencana Tuhan yang lebih baik. Lagi-lagi, bukankah jodoh tak ‘kan kemana? Tak perlu cemas, Wahai diri, juga kau yang membaca ini. Life must go on!

You Might Also Like

0 komentar

Say something!

Subscribe