Tidak Perlu Bertanya dan Menjawab Apa-Apa

Maret 03, 2013



Di hati kita, musim juga ternyata  tak lagi mau diikat waktu. Persis, persis sama seperti musim kota kita. Kata orang, bumi kita sudah tua, sebagian lagi mengatakan sudah terlalu banyak kerusakan yang diciptakan tangan manusia. Berapa usiamu sekarang? Usiaku dua puluh tahun lebih empat puluh enam hari. Apa hati kita memang sudah demikian  tua? Atau barangkali ini tersebab tangan manusia?

Mengapa hati kita ikut koyak? Tak peka, mudah terluka, diawani duka? Sebentar, ada yang pernah mengatakan kepadaku bila cinta itu tak mungkin menyakiti. Jika sakit--katanya--bukan cinta namanya. Lantas bagaimana ini? Ini bukan musim penghujan, hanya hujan sedang senang-senangnya turun. Belakangan ini banyak sekali badai, bukan? Bagaimana nasib cinta kita? Di hatiku ia sedikit gigil, bagaimana kabar ia di hatimu?

Aku ini naif sekali. Aku punya akun facebook, punya twitter, aku bisa saja menanyaimu di situ, bukankah kau rutin membukanya setiap hari? Ah, meski begitu kedua dunia itu selalu menyisakan keganjilan, entah apa. Aku punya telepon genggam, sebenarnya bisa saja kubuka daftar nama di sana lantas menghubungimu, menanyaimu secara langsung. Tapi tak lengkap rasanya mendengar jawabanmu tanpa memahami matamu. Jangan-jangan kau hanya berusaha terdengar baik-baik saja saat berkata baik-baik saja. Aku bisa saja mendatangimu, atau memintamu datang ke tempatku. Namun meski kita bertemu. Meski kau dengan seluruh kesabaranmu yang kau pelihara baik sekali di hadapanku itu dan berkata tenang,"Intinya saya mencintaimu dan kau bahagia bersamaku." kadang aku merasa tak cukup, maaf. Kalimat itu lebih berbunyi seperti, "Cintaku tidak membahagiakan."

Hati kita barangkali memang sudah tua. Terlalu banyak menampung kerinduan. Lama tak terpelihara. Ataukah mungkin aku salah menggunakan kata ganti kita? Atau jangan-jangan ini hanya perasaanku? Ataukah hatiku saja yang terlalu purba? Jika benar begitu, aku--artinya--sedang menjahatimu. Jika benar begitu, jangan-jangan air yang kau rasa di dadamu itu berkat hujan yang badai di hatiku. Percaya diri sekali aku mengatakannya. Ah! di luar hujan agak deras. Semoga kau melihatnya dan tahu aku pun melihatnya. Hatiku selalu ribut. Sekarang sibuk bertanya-tanya. Apa ini cinta? Apa benar hati kita sudah bersepakat? Lebih dari itu, bahagiakah? bahagiakah kita? aku? kamu?

Ah! apa yang sedang kutuliskan ini? Jika kau membaca tulisan ini, aku sungguh tak tahu kenapa harus menulis ini, tak tahu mengapa menulis begini. Jangan-jangan hanya karena kau selalu menagih tulisan-tulisanku. Kutuliskan apa saja. Bacalah saja semua (jika kausuka). Aku tak pernah berbohong dengan apa yang kutuliskan. Yah, anggaplah untuk sedikit membantumu mengerti dengan setiap apa yang kurasakan. Aku masih di sini, di samping telepon genggamku, merindukan short message yang selalu bertuliskan, "Syg" ditemani cangkir kopi yang sejak tadi sudah kulucuti habis, masih bernapas, meski tak baik-baik saja. Jangan bertanya. Musim lagi tak mau diikat waktu, semua akan segera kembali seperti dahulu.

Kita harus tetap bahagia, bukan begitu?

You Might Also Like

0 komentar

Say something!

Subscribe