Saya, Gadget, Jejaring Sosial, Teknologi, dan Interaksi (Beberapa Hal yang Dirampas Perkembangan)

Maret 20, 2013


Rafiqah Ulfah Masbah

Autis!” Bukan untuk menjatuhkan pihak-pihak tertentu. Pernyataan ini mendadak familiar sekali digunakan untuk menyinggung atau sekedar menegur teman-teman yang seolah lupa segalanya jika sudah berhadapan dengan gadget mereka. Kemutakhiran teknologi memprakarsai kemudahan dalam berinteraksi—meski sebuah tuntutan zaman, tidak bisa dipungkiri—memang sudah menjadi hal pasti akan memunculkan dilema tersendiri.
Orang-orang mengistilahkannya; dunia dalam genggaman. Menarik sekali pada sebuah diskusi kelas yang cukup memanas, kepada seorang kawan yang sibuk sekali mendebat kali itu saya spontan menjawab datar, “Hal apa lagi yang tidak bisa kita ketahui hanya dengan memiliki smartphone kecuali kapan kita mati!?” sontak dosen saya terbahak. Seisi kelas terdiam, lalu ikut meledak sekian detik setelahnya. Saya tercengang, menatap seisi ruangan satu per satu, tak tahu berarti apa. Entah apa mereka sepakat, yang pasti saya puas teman saya tadi terlanjur rileks dalam tawanya dan lupa untuk kembali bertanya. Perkembangan teknologi yang semakin canggih patut sekali kita apresiasi. Hanya saja, kemajuan-kemajuan yang terjadi ini jika tidak disertai dengan perkembangan kebijaksanaan dalam pemanfaatannya, jangan-jangan justru bukan menjadi manfaat, tapi penjerumusan.
Perkembangan ada bukan untuk kita perangi, tapi untuk bersinergi dalam membangun kehidupan yang lebih baik. Tanpa harus selalu duduk di bangku-bangku sekolah misalnya, kita sudah bisa mengakses pelajaran-pelajaran atau melengkapi wawasan kita tentang berbagai hal. Dalam mengembangkan bisnis, jasa online marketing sangat mempermudah para pengusaha dalam mempercepat perkembangan bisnis mereka. Begitupun dalam membangun relasi, berbagai jejaring sosial sangat berandil dalam membangun citra diri, berbagi informasi dan promosi. Pada beberapa waktu, keadaan, dan kalangan hal ini bahkan telah beralih menjadi kebutuhan primer.
Hal-hal positif tidak mungkin berdiri sendiri. Perkembangan juga menyertakan pengaruh-pengaruh buruk. Internet, lebih khusus jejaring sosial akan mendatangkan sangat banyak manfaat jika digunakan secara bijaksana, masalahnya adalah jika bukan lagi sekedar kebutuhan tersier, sekunder, atau primer, melainkan sudah menjadi candu. Orang-orang menjadi begitu sibuk dalam dunia maya, membangun citra diri mereka, lalu lupa melakukan hal tersebut di kehidupan nyata. Orang-orang menjadi begitu sibuk berhubungan dengan kawan-kawan mereka yang tidak begitu jelas identitasnya , kemudian tidak lagi ingat menjaga hubungan emosional yang baik dengan orang-orang di sekitarnya.
Saya tidak tahu apakah ini sebuah bentuk teguran. Yang pasti saya memang sempat tertegur. Beberapa kawan mengirimi saya short message—ada yang sekedar basa-basi menanyakan kabar, ada yang berpikir saya sakit, ada yang singkat saja menulis; tumben gak update—saat beberapa hari saya tak menampakkan batang huruf di jejaring sosial. Menegaskan kepada diri saya sendiri betapa kehidupan saya disana sedemikian intensnya. Saya lantas sadar ketika itu disaat bersamaan saya sudah sangat sering hilang  dalam panggung-panggung sosial. Fakta yang lebih pahit, barangkali hal tersebut belum sama sekali berubah.
Di lain sisi, bagaimana perasaan anda saat berbincang dengan seseorang yang tidak menatap anda sama sekali, sibuk mengotak-atik telepon genggamnya, kecuali sesekali mengiyakan apa yang anda katakan. Lantas saat anda bertanya tentang pendapatnya, orang tersebut justru meminta anda mengulangi cerita anda panjang lebar. Atau tentang kencan-kencan anda yang gagal karena anda tak merasa lebih berharga dari membalasBBM. Atau mungkin juga semisal keluarga, sahabat, yang kehabisan kehangatan karena merasa pertemuan-pertemuan tidak lagi sepenting menyelesaikannya dengan ujung jempol kita. Untuk kasus ini teman saya pernah menyeletuk, “Jangan-jangan suatu hari nanti manusia tidak sadar kalau dia sudah bisu dan tuli. Masih lebih mending kalau lupa mandi.”
Banyak hal yang terampas. Keberadaan teknologi bukan untuk menggantikan hal-hal manusiawi. Bagaimana pun teknologi membuat kita tetap bisa bertatap muka dalam layar kaca, kita tetap butuh bersenggama dengan keluarga, tetap penting untuk menjaga hubungan emosional dengan kawan-kawan kita. Sekali pun rapat-rapat kini bisa dilakukan secara online, itu hanya alternatif, bukan untuk dibiasakan sebagai pembenaran. Bertemu tetap jauh lebih efektif. Jangan sampai perkembangan justru merampas hal-hal alamiah kita. Sekali lagi, perkembangan-perkembangan ada tidak lain hanya untuk menunjang, melengkapi, bukan mengganti. Untuk lebih mempertegas keberadaan kita, bukan justru merampas kita dari dunia sosial yang nyata.
http://teknologi.kompasiana.com/internet/2013/03/20/3/544243/saya-gadget-jejaring-sosial-teknologi-dan-interaksi-beberapa-hal-yang-dirampas-perkembangan.html

You Might Also Like

0 komentar

Say something!

Subscribe