Sengaja Ditulis Tak Memadai

Februari 20, 2013





Sepulang kita malam itu, kau memintaku menulis sesuatu. Sebenarnya ingin kuceritakan banyak hal supaya dunia tahu; kita bahagia. Jikapun ternyata kau tidak, paling tidak aku, aku bahagia. Meski begitu—maaf—aku memilih tak menuliskan yang banyak itu disini. Aku hanya tak mau ada yang sedih, terlalu cemburu karena kita terlalu bahagia.

Lewat tulisan tidak baku dan terstruktur ini, hanya ingin kusampaikan pada kamu(ku), maaf. Maafkanlah dirimu karena berlelah-lelah demi aku, karena mau-maunya berjanji untuk setia, karena tak hentinya berusaha membuat “kita” menjadi indah untuk di kenang, dan terlebih karena sudah memilihku. Serta terima kasih, terima kasih untuk masih mau bersabar, bersabar bersamaku. Kau tahu akhirnya, aku agak sedikit keras kepala, cenderung egois, mungkin sedikit penuntut. Kau penyabar, sungguh. Itu yang kutahu. Namun, maukah kau menjadi lebih batu dariku? Maksudku, kuharap kau menjadi lebih keras. Aku khawatir kehilangan rasa hormat. Hanya takut melampaui batas ego yang seharusnya. Maukah kau menjadi lebih batu? Kuharap kau tak selalu menjadi iya untuk setiap kalimatku. Ah, aku penuntut sekali yah! Maaf, aku juga mengkhawatirkanmu (masalahnya), takut kelak kaukehabisan bekal kesabaran dan menyerah untuk terus berjalan.

Sementara bagaimana, harus bagaimana jika sudah tak seharusnya kita berpisah? Apa aku harus ikut di sampingmu? Berhenti, juga? atau membuntut? Aku tak mau. Itu saja.

You Might Also Like

0 komentar

Say something!

Subscribe