Meja ke-4

Februari 06, 2013


(Pada Tempatku Duduk Sekarang dan Segala di Merentang Pelukan)


Milikilah sebuah alasan!
1.
            “Kita sudah sangat lama merentang pelukan, dan di cafe danau esok malam, biar kutuntaskan rindu kita. Ah, maaf. Maksudku, rinduku. Aku hanya punya satu pengharapan. Satu saja. Bertemu matamu. Itu.”
            Malam hari. Sehari sebelum perayaan buku itu digelar, ku tuliskan keisenganku pada jejaring sosial. Hanya iseng, tadinya. Tak bermaksud apa-apa. Ah, tapi kau percayakah. Mataku sejak tadi—sejak  aku duduk manis tepat di hadapan meja panjang dimana kalian duduk bersisian satu setengah jam ini—berkali-kali, hampir belasan, mungkin—bertabrakan dengan satu pasang matamu. Aku sudah berusaha menghindar, sungguh. Khawatir muncul asumsi-asumsi nakal pada imajinasimu yang kutahu mestinya cukup liar untuk ukuran seorang penyair yang—maaf—telah bisa kubaca.  Aku tak tahu, tak mau juga melambungkan fikir tinggi-tinggi bahwa kau barangkali sedang memerhatikanku sedari tadi. Hanya kebetulan. Sekali lagi ini barangkali. Masalahnya? Aku justru tak memirkan aku. Aku sedang mengkhawatirkan kepalamu. Kira-kira. Ini kira-kira saja. Kira-kira bagaimana jika otakmu itu mengolah data yang sama persis seperti apa yang kufikirkan. Argh! Kau orang dengan percaya diri yang cukup tinggi. Itulah. Sayang. Tapi sayang sekali kau bukanlah alasan yang aku bicarakan di atas.
2.
            Takdir punya cara tersendiri menyabarkan kekaguman. Biar kuceritakan padamu—wahai orang yang baru kuseksamai fotonya tadi malam, langsung kukenali rupanya pertama kali jumpa.—Sudah lama sekali ku rindukan perjumpaan ini. Sudah berkali-kali ku paksakan diri melewatkan agenda penting, demi membuat moment ini tak lagi fiktif. Sayang, perjalanan sedemikian rintang, aku tiba baru saat kisah ini kutuliskan.
            Takdir punya variasi klimaksnya masing-masing. Dengarkan! Kau mesti punya seseorang yang kau kagumi. Itu mesti. Tak perlu kutanyakan lagi. Hanya, apa mungkin kau juga  pernah punyai rasa semendesak aku untuk bisa menjumpainya di dalam sebuah tatapan  nyata?. Aku tak sungguh ingin tahu jawabannya. Sudah kukatakan, aku hanya ingin bercerita, dan kuminta kau mendengarkan. Pukul sembilan malam lebih lima puluh sembilan menit. Aku terus menengok arloji. Aku senang sungguh, senang sudah nyata bertemunya dalam diskusi ini sejak dua setengah jam ini. Senang. Namun tak lega. Harapku belum berjabat.
            “Harus tetap konsisten!” kataku sumringah.
Ya, kita harus pulang tepat pukul 10 malam. Aku sudah memastikan tak ada lagi barang tertinggal di atas meja. Sudah menenteng tas, siap, sudah sangat siap beranjak dari dudukan saat suara MC kita mengeja namanya. Satu buah puisi. Satu buah puisi penutup malam ini. Kau tebaklah. Jarum menit sudah bergeser dari angka 12. Aku tak jadi, tak jadi pulang juga akhirnya.
            Sekali lagi, pernahkah kau begitu mengagumi seseorang? Orang itu kini tepat berada di depan matamu. Satu garis lurus dari tempatmu duduk. Dekat, dekat sekali. Tak kurang dari satu koma tiga meter. Dan ia memulai mengantar puisinya ke ruang-ruang hatimu, menggetarkan gendang telinga. Lantas “engkau”-nya puisi itu tertumbuk pertama kali padamu. Ah! Kau tahukah kini, bukan hanya gendang telingaku yang bergetar, hatiku pun.
            Ia terus membaca dan membaca. Di hadapan mata jendela, judulnya. Kufikir aku bahkan mungkin lupa cara berkedip saking seriusnya menyeksamai pria di hadapanku ini. Bait ke delapan baris ke enam dan tujuh.
            fotomu juga ada di dompetku, lebih dari satu
            katanya menunjuk ke diriku, manis sekali
            sebab kau lebih cantik, paliing cantik
            dan, mata itu sempurna menatapku, seolah hanya untukku. Aku, Aku hampir pingsan, sungguh.
            Ruangan pun gemuruh.  Tentu saja. Aku beruntung, kau tahu. Saat itu, kurasa semua wanita di ruangan itu berharap bertukar tempat duduk. Menyesal tak memilih duduk di kursiku.
            Ah, pernahkah kau begitu mengagumi seseorang? Sudah sangat lama. Lamaa sekali hingga tak kau ingat sejak kapan. Kau tak pernah berkesempatan menemuinya. Sekalinya bertemu, kau hampir saja pulang penuh kecewa, tak sekali pun ia melirik ke arahmu. Namun disaat hampir saja kau beranjak, takdir itu menggapai klimaksnya.
            Aku menuliskan tentang ia panjang-lebar. Kau suka?. Jawabanmu tak begitu penting. Karena sebenarnya, sekali lagi, sayang sekali tulisan ini tidak untuk membicarakan ia.
3.
            Bersabarlah, ini memang tentang seseorang.
Pria itu duduk tepat satu garis lurus dari tempatku memukimkan tubuh. Pria itu duduk di sampingmu. Anak-anak—KPSS—ku memanggilnya dengan sebutan Ayah. Sudah kukenal jauh sebelum engkau, bahkan dari penulis favoritku—yang baru saja kuterakan agak panjang di atas.
            Pria itu yang sempat membuatku gangrung dengan segala yang ia tuliskan. Bahkan mungkin segala yang tentang dia. Simpel, unik, kharismatik, dan ah ya, ikhwan. Kuceritakan padamu, bukan bermaksud apa-apa, agar kau tahu saja. Aku sedari tadi tidak juga terlalu sering memerhartikan dia. Meski memang aku nampak sekali salah tingkah tiap kali bertemunya. Ia baru pulang dari Jogja, kau tahu, kan? Lama sudah aku tak bertemu. Mungkinkah kau berpikir aku merindu? Tidak juga. Ini hanya sepenuhnya mengenai aku yang salah tingkah, yang tak pernah habis pikir mengapa pria itu—sepanjang aku mengenalnya—tak pernah mengajakku berbincang hangat secara langsung—berbeda dengan teman-teman Lingkar Pena lainnya. Khusus buatku. Khusus. Catat ini. Padahal dia pria yang narsis—bersaing denganku, agak gila—kata anak-anak, lantas kekhususan itu, perlukah membuatku bahagia? Ah sudahlah, jangan-jangan hanya perasaanku saja, ingin merasa khusus saja mungkin?. Pria itu tak menatapku, sama sekali tidak pernah menatapku. Hanya menunduk.
            Mata yang ingin kutemui di awal tadi—itu benar—adalah matanya. Mata pria cadel itu. Dan ia benar dengan mengatakannya. Aku harusnya memiliki alasan. Alasan yang cukup kuat. Ya, setidaknya perihal aku yang mengapa bisa berada di sini. Hingga pukul segini. Tapi, hey kau, sebelum berpikir ini adalah sebuah paragraf simpulan. Biar terlebih dulu kukatakan sekali lagi, maaf, tapi bukan juga pria itu yang sedang ingin kubicarakan di tulisan ini. Dia bukan alasan untuk segala yang bertanya dengan pola, benarkah?
4.
            Yang ingin kubahas ini perempuan. Ia memakai long dress biru tosca polos, dengan jilbab biru muda bermotif bunga kecil-kecil, lengkap dengan cardigan hitam—sejak tadi, sudah kukatakan—duduk di meja bertuliskan “4”, tepat di depan. Di depan pria-pria yang sudah kubicarakan, kau pun pastinya. Perempuan itu menuliskan catatan ini berputar-putar sekali—sengaja memang—untuk sebuah alasan; menunjukkan betapa banyak motif yang bisa menjadi alasan mengapa seseorang melakukan sesuatu, berada di suatu tempat, dan memilih untuk pada suatu keadaan. Namun, ada saat dimana orang-orang tak mengenali alasannya hingga ia selesai, dan berpikir, sama seperti yang kupikirkan. Perempuan yang menulis ini bilang; aku disini untuk memahami, tak seharusnya aku disini.
Saat melangkahkan kaki dari tempat tersebut aku mengerti itulah alasan paling logis tentang seorang perempuan yang mengaku-aku dirinya akhwat—katanya menjunjung tinggi segala izzah. Namun disana, hingga hampir pukul setengah sebelas malam, andil untuk tak terganggu dengan bisikan saudarinya, “Ukh, tidakkah kau berpikir tidak seharusnya kita disini?”, tertawa-tawa tanpa rasa berdosa, di tempat dimana asap-asap mengepul tanpa rasa bersalah, segala yang asing, berpesta, lantas berakhir dengan menuliskan pria-pria di tulisannya—yang bahkan itu tentang dia. Ah, apa-apaan! Lihatlah!

You Might Also Like

0 komentar

Say something!

Subscribe