Perihal Lupa, Perihal "mu"

Januari 30, 2013


__Fiqah


Aku tak pernah lupa.
Itu nasehat paling pertama yang menyajak "sangat" indah di gendang telingaku.
"Kau tahu kenapa Tuhan menciptakan satu mulut dan dua telinga?" tanyamu, "karena, manusia diminta lebih banyak mendengar daripada berbicara." Setelahnya kau pergi, menggauli kembali kesibukan yang entah apa.
Namun dalam sewindu ini, aku hampir lupa memercayainya.
Karena ku rasa kau bahkan tak lagi berbicara sama sekali.
Bukan! kau tak lagi pernah cukup mendengar, apa yang mesti kau bicarakan?
Kau barangkali sudah melupakanku sejak lama. lama sekali sampai kau tak lagi ingat selama apa. Tapi aku masih sempurna mengingatmu.
Kau barangkali lupa. Atau tak mau lagi mengingat orang-orang macam apa yang mesti kau tampung suaranya.
Tapi aku belum lelah. Masih terus setia berbaring di sisi kiri ranjang kita--ah, maaf, mungkin lebih tepatnya; ranjangmu--, mendongengkan kisah-kisah cinta yang tak sengsara.
Tersenyum, berdiskusi singkat dengan helaan napas dan suara dengkurmu yang parau.
Aku hampir, hampir juga lupa. 
Terakhir kali kau bernasihat agar memelihara hal-hal yang cukup penting saja.
Ah, celakanya aku sudah lupa. Lupa sudah membedakan serupa apa urusan penting-tak penting itu wujudnya.
Itulah salahnya takdir ini.
Ia juga lupa memberimu waktu mengajarkanku perihal lupa-melupakan..


<kutuliskan untuk"mu", biar kali ini aku, kau, kita tak lupa>

You Might Also Like

2 komentar

Say something!

Subscribe