Perihal Aku dan Kata-kata (ku)

Desember 23, 2012




Aku tak pernah sempat menghitung
sudah kali ke berapa, atau sebanyak apa
aku memulai kata-kata dengan kata—entah.
dalam ucapan batin, misalnya. atau yang langsung 
terbaca di paragraf pertama.
“Entah harus menulis apa, atau entah bagaimana harus memulainya.”
Begitu kira-kira.
Bahkan tak jarang sampai ku dengar samar-samar riuh sorakan putih monitorku
menonton konflik dan pertikaian di layar mataku yang cekung secara serius,
menghayati setiap episode kisah yang tampak egois karena tak mau kubagi padanya.
Diantara sekian banyak benda—yang tak pernah kupikir—mati, aku tahu
lembaran kosong adalah rekaman yang paling memahami aku.
Mungkin. Ya, mungkin.
Akhirnya, kau tahu bukan, aku orang yang sulit.

Kau akan membaca terlalu banyak
koleksi kerusuhan dalam hampir seluruh tulisan yang pernah
kujajakkan, kadang buntu,
sering datar, kebanyakan berputar-putar, pernah dipenuhi belukar.
Aku sering tergesa, tak sempat—kadang-kadang—bernafas sejenak
untuk memasnaskan gairah kata-kata agar mencumbui substansi makna dengan cara-cara  santun.
Kau tak salah jika pernah atau sering—tiba-tiba—lelah setelah berkelana pada baris demi baris huruf yang kususun.

Tak ada prolog yang memadai. Tak ada basa-basi yang perlu. Tak ada pengantar.
Karakteristik yang cukup mencolok, mungkin.
Konflik selalu sudah berada di depan.
Ah, tidak. Bahkan, kurasa hampir dikeseluruhan cerita.
Tak ada jeda yang cukup tenang untuk mengantar satu demi satu masalah dengan sahaja.
Kau sadari atau tidak. Aku bukan orang yang sabar, dapat diterjemahkan dengan kalimat;
Seseorang dengan ketidakstabilan emosi yang kronis

Tidak sepertimu, aku hanya mengaku-aku diriku penulis.
Aku pernah puas, dengan hanya menyumbang status di beranda tiap hari.
Aku berkali-kali cukup, dengan berkicau tak tentu setiap waktu.
Apa saja, bahkan yang tak sempat bahkan mau orang-orang baca.
Aku hanya mengaku-aku diriku penulis.
Tak terhitung berapa banyak kawan-kawan dekat yang menagih, ‘tanda’ nyata dari deklarasi yang ku umbar dengan begitu percaya diri.
Saat-saat paling ranum bagi kekosongan untuk berpesta dalam kosongnya.

Aku  terlalu kaku. Iya.
Kata-kata sejauh ini belum  juga sudi menjadi sahabat yang penyayang.
Aku menemuinya tiap hari, tapi kami belum  juga pernah berjabat dengan hangat.
Aku menyedekahkan berpuluh-puluh malam larut untuk berkawan akrab,
Tapi mungkin aku sahabat yang belum layak.
banyak lembar yang berakhir menggantung—ujung-ujungnya.
Semoga—meski perlahan—aku tak lelah. Tak pernah.

Perihal aku, kau tahu aku hanya mencoba dan memaksa diri dewasa.
Perihal kata-kata, sebutlah mereka pintu-pintu yang membukakan
padaku jalan-jalan pilihan bagi upaya mencoba dan memaksakan
menuju surga atau neraka di bukit otakku yang belum banyak berserat.
Aku dan kami belumlah sebuah kesatuan yang bisa disimpulkan dengan tanggapan; sama saja.

Tetap semangat.
Kau tahu. Mereka Ayah.
Terus berlatih.
Dan, itu ibu.

Mereka yang tak pernah membuat jari-jariku terlantar
Selalunya masih setia memangku setiap salah sehingga pada kata terakhir, aku masih disini.
Masih bisa kau baca hingga sejauh ini.


Azure Azalea


You Might Also Like

6 komentar

  1. Terharu :) #SempatMenitikkanAirMata :"( Lanjutkan ade'... :)

    BalasHapus
  2. kamu tahu, sebuah alat tes di Psikologi bernama TAT (thematic apperception test)yg merupakan tes kepribadian menunjukkan bahwa 80% subjek yang dites dengan kartu kosong "sebuah kartu putih bersih" justru mengatakan sulit mendeskripsikan kartu itu, tetapi dirimu justru mampu berkreasi dengan "lembar putih" yg disebut dalam tulisan mu ^_^ #serching di google apa itu TAT dan bgm cara mengetahui kepribadian dari alat tes itu hehehehe

    BalasHapus
  3. "lembaran kosong adalah rekaman yang paling memahami aku." dan "Seseorang dengan ketidakstabilan emosi yang kronis" merupakan kalimat yang WAJAR untuk usia seperti kita, kedewasaan itu sbenarnya bisa di percepat, tetapi ada batasan usia dan batasan pengalaman serta kemampuan memaknai arti hidup yg terkadang membuat kedewasaan itu prematur....berusahalah dewasa, sambil menikmati masa muda, karena berada di persimpangan muda dan dewasa adalah sinergitas, bukan kontadiksi ^_^

    BalasHapus
  4. k'Mujahidah : makasih banyak yah kak :-)
    k'Didit : akan berusaha lebih dewasa.. :-)

    BalasHapus
  5. maaf salah sebut itu de' bukan 'kontadiksi' tp kontradiksi hehehehehe...oke duuuueeeeeehhhhh mantap ^_^

    BalasHapus

Say something!

Subscribe