Mau Dikemanakan Rindu Kita

Desember 30, 2012

(Judul diangkat dari kalimat pengantar pulang sore tadi, by : Arini)




Tak ada yang pernah tahu, akan seberapa panjang sebuah keakraban berlangsung. Tak ada yang pernah tahu akan seberapa lama sebuah deklarasi berjalan. Yang kita tahu--dulu--ada benang yang mengantar tawa kita, menghimpunnya menjadi sebuah ikatan, yang sebenarnya tak bisa diterangkan oleh nama apapun juga. Hanya agar lebih mudah bagi kita mengenalnya, hanya agar lebih mudah lidah kita mengucapkan. Keluarga Pucak Sepoi-Sepoi. Keluarga. Lidah kita terhantar begitu saja untuk menamai "kita" dengan istilah keluarga.

Setahun sudah. Setahun!
Kau ingat, hari itu, Desember terlampau mendung untuk bisa menjadikannya latar yang senada. Kita tak memungkiri gelisah, tapi tetap saja tersenyum. Mungkin sedih, namun sangat sungkan menangis. Barangkali panggilan pulang telah sedemikian mendesaki rongga-rongga perasaan. Namun--sekali lagi--kita masih tertawa. masih secara gagah menorehkan kenangan yang harus indah tatkala mengingatnya. Kalian membuat canda, menyengaja berbagi cerita apa saja. Kita tertawa tanpa memedulikan apa kata orang, tak sempat menerka-nerka apa yang orang lain pikirkan tentang betapa berisiknya kita. Kita hanya sempat mengingat satu hal; kita terlampau bahagia, barangkali. Lantas tak tahu bagaimana meluahkan rasa yang "terlalu" dalam keanggunan yang santun. Ah! Kau lihat kan? hanya oleh 48 jam yang itu pun belum menghitung rentang panjang perkenalan, hanya oleh sebuah celetukan, maka lahirlah. sesederhana itu.

Mungkin. Sekali lagi kufikir mungkin. 
Mungkin kali ini, benar kata Arini. Ada kenangan yang tertinggal.
Terlampau berharga hingga kita mau tak mau selalu terpanggil pulang, pulang pada tawa yang sama, pulang pada kehangatan yang pernah memeluk erat, pulang pada keributan itu, pada sapaan bunda, adik, kakak, dan, ah yah, juga ayah kalian yang tak pernah nyata itu.
Kenangan itu barangkali terlampau berharga. Tapi--mungkin--kita sungkan, seringkali sungkan menyatakan. Bingung memilah kalimat yang tepat untuk mengalamatkan rindu kita, sehingga entah akan dikemanakan. Kita barangkali beberapa bulan kemarin akhirnya terbiasa melakoni kekata sederhana Suthe', "Aku tahu, tapi aku diam."
Kita sama saling tahu, namun banyak diam. Namun terlalu menikmati jeda.

Lantas sekian hari belakangan ini, kurasa sedikit-cukup membayar. Cukup untuk menggenapkan bahu bagi pelukan, untuk secara nyata menikmati setiap detik cerita yang terbongkar, mengungkap fakta-fakta yang tidak sedikit mengejutkan. Merelakan aktivitas lain, menanggalkan rencana kegiatan, melupakan sejenak tugas-tugas. Itu menyenangkan. Ya, menyenangkan.

Dan hari ini, baru ku pahami mengapa di awal kita sebut diri kita keluarga, karena ternyata akan ada hari ini, akan ada kenangan itu. yang meski kita telah kembali pulang. meski tangan kita tak lagi bersentuhan, kita telah sempurna mengetahui 'akan dikemanakan rindu kita" setiap kali ia hadir. Meminjam judul sebuah buku, karena diamana pun kita berada, kita selalu dapat 'merentang pelukan'.


Kita bertemu lagi, nanti, dengan cerita kita masing-masing. Cerita yang--berdoalah--akan dibaca oleh lebih banyak orang, dan mengabadi hingga nanti kita tak lagi disini.

Keluargaku, izinkan saya berucap untuk terakhir kali, meski ia tak pernah menggenapi, terima kasih atas segalanya. terima kasih untuk semua warna yang kalian oleh-olehkan. :-)

Sayang Ismi, Arini, Wina, Suthe, Icha, Nea, Ima, Armi, dan Cita.

#Matinro ka dolo, hehehhe ^_^



_Rafiqah Ulfah Masbah_

You Might Also Like

0 komentar

Say something!

Subscribe