Baiklah. Saya Koki!

Desember 03, 2012


Rabu, 28 November (H-2)

          Ini kemunculan saya yang kedua (catat! yang kedua!) dalam rapat persiapan TOWR FLP ranting UNHAS. Dan, pekan ini sudah pemberangkatan ke Malino. Maaf! Harus saya katakan memang kurang partisipasi dalam membantu persiapan teman-teman sekalian mulai dari pekan-pekan sekolah menulis sampai persiapan TOWR puncak. Yah, dengan alasan yang sebenarnya sangat mudah dijawab dengan kalimat seperti, “Semua orang juga sibuk kalle, Fiqah”. Namun begitulah diriku dengan aktivitas so’ sibuk yang luar biasa ini.
          “Fiqah kepala koki!”
           Hah? Saya!? Kepala koki!? Ya Tuhan, adalah bukan suatu kebohongan besar jika saya katakan saya sungguh tak tahu masak, Kawan-kawan! (meskipun tidak saya katakan saat rapat karena gengsiku yang selangit sebagai  perempuan peralihan dari remaja ke dewasa muda. Ah! Perempuan gak bisa masak!? Aduh! Akhirnya jujur.) Jadii saya menolaknya bukan sekedar basa-basi karena ingin dipaksa-paksa (igh!? Hahay) tapi karena memang khawatir akan membuat berantakan, atau malah menciptakan sejenis makanan racun yang bisa mencemari perut peserta  dan panitia. Masalahnya, kalau terjadi apa-apa dengan pencernaan, saya tak bisa membayangkan kita harus mengeluarkan dana lagi sekedar membeli Fresh Care (jadi ingat Ranti), minyak angin, obat diare, atau sejenis itu. Yah, kita semua ngertilah kondisi keuangan kita yang sangat tebal.
          Ah! Tapi tak ada pilihan kalau sudah berhadapan dengan kalimat bernada sedikit maksa’ ini,
          “Cuma mengkoordinir ji, Fiq. Masaknya kan bareng ji toh.” 
           Oh ya, okay. baiklah! Saya Koki! Itung-itung pengalaman, pikir saya. Toh, selama ini, disetiap kepanitian saya cuma berkutat dibagian acara, humas atau dokumentasi. Konsumsi jarang. Sangat jarang! Paling pun kalau dapat bagian konsumsi tidak pernah yang berbau masak-memasak.
          Daaaan.. Dalam waktu dua hari dimulailah aktivitas persiapan besar-besaran. Pinjam rice cooker, pinjam panci, pinjam pisau, pinjam blender. Ah! Pokoke apa saja yang bisa dipinjam, dibawah dari rumah, diselundupkan, disedekahkan, ataupun yang diambil paksa (apakah!? wkwkwk), belanja ini, belanja itu, dan semuanya. Mohon dimaklumi, barangkali saat itu yang ada difikiran kami lokasi yang akan kami tempati terlalu terpencil untuk sekedar mendapatkan bumbu dapur atau bahan-bahan makanan yang kurang, sampai-sampai dengan polosnya pak ketua berkata, 
          “Nda adakah biar alfamart disana?”. Malino... Malino...


Hari H. Sabtu, 1 Desember

         Pkl. 08.00 am. Terpelanting dari kasur. Shock! Terkejut! Kaget! Panik! Berteriak, refleks! Ambil handphone, seribu panggilan tidak terjawab, ratusan sms! (sedikit hiperbola). Yup! Telat bangun (faktor begadang). Ugh! Saya masih di ramsis, belum mempersiapkan barang-barang bawaan, belum shalat subuh, belum mandi. Pkl. 10 teng sudah harus berangkat. Daaannn,,,,, semestinya pkl.06.00 tadi saya sudah harus menemani Wina belanja bumbu masakan karena ayam yang sudah direbus harus segera dibumbui dan dibawa dalam keadaan siap saat pemberangkatan. Ya, tebaklah! 70% dari sms yang kusebut ratusan tadi itu adalah dari Wina. Saya tahu kekesalan Wina pasti sudah menjadi berlipat-lipat untuk bisa disebut sangat. Hanya saja tak ia luahkan saat berjumpa. Saya tahu dia gadis yang sabar (modus. Hehe). Saya bangkit segera dari tempat tidur. Melakukan hal-hal yang seharusnya dilakukan seseorang yang telat bangun. Hanya saja karena saya tidak sedang dirumah, saya tak bisa mandi.
         Melesatlah saya ke Aqsho dengan kecepatan tak penuh—berharap semua akan baik-baik saja—dengan  membawa oleh-oleh muka bantal yang meski begitu masih tetap sedap dipandang, terbukti masih ada juga yang mau-maunya bilang,
          “Biar nda mandi cantik ji” Hahaha, sungguh itu sangat membantu saya menenangkan diri.
           Saya mencari-cari sosok Wina, tapi dia tak ada. Saya harus menunggu lagi!? Fine. Tak apa. Ini kesalahan saya sendiri. Akhirnya saya menemui Wina setelah menemani Ina menjemput printer. Tanpa babibu saya langsung mendesak Wina untuk pergi. Tujuannya adalah pasar pinggir BTP, terus ke rumah untuk mandi mengambil pakaian dan tugas lainnya. Masih mencoba optimis bahwa tak mungkin juga saya akan ditinggalkan, maklum saya kalau mau kemana-mana siap-siapnya saja mesti satu jam. Biasalah, wanita.
          Oke semua siap. Masaknya dibatalkan. Akhirnya bumbu-bumbu itu baru akan bergumul dengan ayam-ayamnya di Malino. Kami pun berangkat dengan mobil biru, sahabat sejati kemana pun, dimana pun, dan kapan pun.


Di lokasi... 

          Mengambil napas. Kesejukan Malino—seperti yang sudah sama-sama kita tahu dan pikirkan—memang sangat kental. Jauh dari kondisi Makassar yang selalu memaksa kita mengeluhkan peluh. Tiba di penginapan ikhwan. Yah, keren, pikirku. Yang pertama kali menarik perhatianku adalah sebuah kompor di atas meja dan rak piring. Baik. Apakah kita akan memasak disini? Entahlah! Untuk sementara belum waktunya menanyakan itu. Rasanya hanya ingin berbaring dan meluruskan badan.
          Setelah bus peserta tiba, panitia akhirnya mengarahkan untuk shalat. Setelah itu, makan siang. Makan siangnya, nasi bungkus yang sudah kami bawa dari Makassar. Suka sekali saya bungkusan-bungkusan itu saat dibagikan Asih. Lapar! Saya sangat lapar!
Setelah bersantap, waktunya mengecek lokasi penginapan akhwat. Dan, owh! Lumayan jauh. Cukup untuk melengkapi jatah 1000 langkah per hari yang dicanangkan pemerintah (eh, emang iya?). Tapi sesampainya... Tadaaa... Rumah yang bagus! Yey, ada sofa, kamar tidur yang cukup, dapur yang lumayan luas, daan—ini  yang paling penting—taman yang cantik untuk mengambil banyak jepretan.
          Setelah puas melihat-lihat, kami kembali ke penginapan ikhwan untuk pembukaan acara, setelahnya mengambil perlengkapan-perlengkapan yang diperlukan untuk dibawa ke penginapan akhwat. Kami fixFix masak-memasak di penginapan akhwat.


          Tak ada istirahat. Bakda shalat Ashar beberapa orang panitia akhwat sudah stand by di dapur untuk persiapan makan malam perserta dan panitia. Estimasinya 50 porsi.  Saya—yah dengan percaya dirinya—bergelut  dengan bahan-bahan sederhana itu. Ayam (aduh, saya phobia dengan hampir semua hewan. Dan juga phobia darah, jadi sebenarnya untuk urusan kerja-mengerjakan ayam saya sudah pasti akan mundur duluan. Tapi berhubung tinggal membumbui, jadi tak ada masalah). Potong sini, potong sana. Campur ini, campur itu. Semua pakai insting dan ilmu kesottaan. Ternyata masak itu simpel saja. Kalau hambar, tambah garam, kalau keasinan, tambah air, kalau kepedisan tambah gula. Yah, itu saja. Gampang, hehe.
          Ada Ranti dan Wulan dibagian sayur-sayuran, ada Ummi di hadapan kompor dan wajan, bergelut dengan tumisan ayamnya. Ada Ina, Wina, Asih, dan Lita membantu meng-handle apa saja yang bisa diiris, dipotong, dsb. Ada saya dengan blenderku bereksperimen dengan bumbu-bumbu, bawang, merica, ketumbar, cabai, lengkuas. Ah, kupas semua! Potong semua! Campur! Blender!. Yang lain juga tak akan pusing soal apa yang kucampur kalau sudah jadi halus. Hihi. Dan lagi pula saya masih dengan topeng, tetep yang so’2an mengarahkan perihal bagaimana dan apa yang kami masak. Istilahnya kak Qia, jaga wibawa (colek Memet, hehe). Ahay. Finish! Masakan pertama berhasil. Ayam bumbu. Sayur tumis, dan sambal. Meski kata kak Atun, sayurnya agak pucat sehingga estetikanya kurang. Over all (eh, maklum kalau salah-salah english ku kasian, kelamaan tinggal di BTP soalnya. Hubungannya!?) komentar yang masuk positif. Yah, lumayan. Puas! Kecemasan kami akan kurangnya makanan juga alhamdulillah tidak terjadi. Seperti yang saya katakan diawal, sepenuhnya hanya tentang mengira-ngira.
          Setelah semua peserta berlalu, kembali menerima materi yang berpusat di penginapan ikhwan. Kami, Tim Koki, yang—baru saya sadari—kalau semuanya manis-manis—pun terduduk menyaksikan kenyataan bahwa kami harus mencuci sekian peralatan makan. Dan saya juga baru sadar. Betul-betul baru sadar saat menuliskan ini bahwa selama disana saya tidak pernah mengambil posisi mencuci piring. Lantas apakah yang saya lakukan??. Ah! Saya memanggang roti untuk snack peserta bersama Ina dan Touchy. Alat pemanggang ditangan kiri, Handphone Crossku—yang kebetulan terlalu canggih sampai ada TV nya—di tangan kanan, sibuk mencari signal demi menyaksikan pertandingan timnas menyerbu habis Malaysia yang berakhir mengecewakan. Heboh sendiri! Geram sendiri! Tim-ku yang lain hanya bisa geleng-geleng kepala mengetahui bahwa wanita anggung macam diriku ini ternyata menjadi kehilangan estetika saat menyaksikan pertandingan sepak bola. (Hahahaha)
          Baik, roti bakar selesai, teh sudah dibuat. Pinjam gelas juga sudah. Kami dengan pengawal yang berupa Aris, Memet, Ahmad dan kak Jumrang akhirnya berjalan melintasi jalan yang gelap bak putri-putri raja. Kami datang dengan wajah yang sangat berseri. Menampakkan muka kepada peserta. Karena kami khawatir saking sibuknya bekerja di belakang layar kami jadi kurang eksis dalam hal kena jepretan kamera, dan jadi kurang terkenal di kalangan peserta. Kami sangat tidak menginginkan dan mengharapkan hal itu, Sungguh! Haha.
          Pukul 21.30. Mengantuk!. Cuma itu yang rasanya saya tahu. Beruntung Lita dan Asih berinisiatif mengajak kami pulang. Hari ini sudah sangat melelahkan, beristirahat adalah ide yang bagus. Pukul 04.00 besok kami bahkan sudah harus curi start untuk mempersiapkan sarapan pagi. Dan sialnya, saya tidak bisa tidur sama sekali. Terlalu dingin. Entah kenapa saya merasa terlalu dingin. Agak kesulitan bernafas karena hidung saya yang tidak mancung ini rasanya membeku dan sakit. Ditutupi malah semakin tidak bisa bernapas. Saya sibuk mondar-mandir dari ruang tamu ke kamar, kamar ke ruang tamu, hanya untuk mencari posisi atau kondisi yang sesuai. Tapi nihil. Saya kembali ke sofa, menelungkupkan wajah diantara kedua paha. Dalam keadaan duduk dan tertunduk itulah saya nyaris tertidur. Rasanya mulai nyaman, namun sayang sepersekian detik sebelum nyawa saya mengelana ke alam mimpi, alarm berbunyi. Waktunya bangun, shalat lail. Ah! Pahit! Tapi sudahlah. Mau bagaimana. Saya bangun. Langsung menuju dapur memasak sepiring indomie. Setidak-tidaknya untuk menetralisir rasa lapar akibat begadang, dan rasa dingin yang terlalu. Kultum dimulai sambil menunggu subuh. Saya lebih memilih mandi, dingin!? Ah! Kebetulan otak saya saat itu agak encer. Jadi sambil mengantri ke kamar mandi, saya panaskan saja air. Berhasil mandi air hangat. Mantap!

Hari ke dua

          Sarapan pagi. Menunya nasi goreng dan telur dadar. Kali ini cukup simpel. Yang ribet paling cuma campur-mencampur nasi. Karena porsinya agak besar dan wajan yang tersedia tidak terlalu besar, juga dengan tangan saya dan Ina yang “agak” sedikit mungil. Rasanya ingin patah. Yang ini tidak terlalu berkendala. Done!.
         Pukul 06.00, sementara peserta diarahkan untuk berolaharaga, saya dan beberapa orang lainnya berbincang perihal tour menulis ke air terjun. “Tim Koki juga harus ikut, tapi paling sejam balik lagi untuk persiapan makan siang.” Saya berpikir agak keras untuk ikut. Rasanya hanya akan buang-buang tenaga dan waktu. Meskipun yah tentu akan ada banyak hal yang dilewatkan. Tapi saya dan Ina sudah memutuskan untuk tidak ikut. Aris, Memet, dan yang lain ngotot membujuk. Dan, dasar emangnya saya gampang saja dipengaruhi, akhirnya ikut juga. Lagi-lagi, kata nda tahu siapa, “Itung-itung adami foto ta disana baru pulang meki.”
          Air Terjun Bulan. Air terjun yang baru bisa disaksikan keindahannya setelah—Subhanallah—melewati seribu anak tangga (bede’) terlebih dahulu. Tim Koki kembali berpikir keras. 1000 anak tangga? Trus kami hanya buang kentut disana and naik lagi!?. Realistis? Jawabannya tidak. Kami bisa tewas!! Dan kalau kami tewas di anak tangga itu dengan jumlah kami yang hanya lima orang, agak terlalu tidak keren (pemborosan kata), terlalu tragis, dan siapa yang akan memasak!??. Akhirnya pada anak tangga yang belum sampai lima puluh (sepertinya, karena nda sekurang kerjaan itu ka menghitung), kami memutuskan untuk menyudahi perjalanan kami. Kami berpisah dengan perasaan yang berat, melepaskan teman-teman yang lain menuju mimpi dan harapannya; Air Terjun. Tapi sebelum berpisah tak lupa kami meminta salah seorang memotret kami (harus tetap eksis dalam setiap kondisi : slogan tim koki).  





Kami pun manaiki kembali anak tangga. Memulai cerita kami sendiri!. Kami tak ingin sia-sia tanpa sesuatu yang bisa dilihat oleh dunia. Maka, kami terus saja singgah dan mengambil pose di setiap tempat yang kami nilai menarik. Bermodalkan HP Sams*ng ku dengan baterai yang tinggal 50%. Kami berusaha tetap tersenyum di depan kamera. Berusaha tetap manis meskipun kami memang sudah manis meski sedang tidak tersenyum (gila!). Kami memulai ekspedisi jalan kaki daari air terjun menuju Pasar. Kali itu, feeling kami cukup bagus; Jika tidak ke pasar saat itu juga, kami tak akan punya oleh-oleh untuk dibawa pulang, mengingat waktu yang agak-agak mepet. Kami dengan percaya diri menyusur jalan, singgah di depan vila-vila mewah sekedar mengabadikan foto di depan gerbangnya (kodong), singgah di pinggir jalan yang kebetulan banyak bunganya, mengacuhkan mata-mata yang memperhatikan kami sambil berbisik, kami sungguh tak peduli. Sembari bertanya kiri-kanan arah pasar dan ATM, kami terus saja berjalan. Ternyata perjalanan kami jauh. Cukup jauh!. Kami merasakan pegal diseluruh kaki. Meski saya yakin teman-teman yang turun jauh lebih pegal lagi.






         Dan ternyata perjalanan jauh itu belum menuju ke pasar. Itu baru menuju ATM. Setelah kami sampai ke ATM, kami harus memutar arah kembali ke pasar. Oh, Tuhan. Aku menyerah. Beruntung ada pete-pete. Kami memilih naik pete-pete menuju pasar. Di pasar kami sibuk memilih oleh-oleh untuk dibawa pulang, sampai-sampai melupakan bahwa harusnya kami membeli bahan-bahan bumbu seperti bawang, cabai, dsb untuk masakan siang ini. Kami baru menyadarinya setelah ojek yang mengantar kami pulang berlalu. Celaka! Kak Nendenk sudah pulang.Tak ada motor yang dapat dipakai.  Teman-teman belum kembali. Kami panik, sementara jarum jam sudah menunjukkan pukul 10.00, kentang maupun wortel untuk sup belum dikupas sama sekali, tempe belum dipotong, daaann gawatnya bumbu tak ada. Kami belum menyiapkan apapun. Kami berpikir keras. Sembari yang lain berinisiatif untuk mengerjakan apa yang bisa dikerjakan, saya dan Ranti sibuk menghubungi Memet dan kak Jumrang, berharap ada salah seorang dari mereka yang sudi kembali dan membantu kami membeli bahan, tanpa itu semua kami tak bisa berbuat apa-apa. Dan masakan tak akan selesai. Memang salah kami, terlalu lama membuang-buang waktu untuk berfoto, jalan-jalan, dan memilih-milih di pasar.


          Beberapa menit berlalu akhirnya ada berita dari kak Jumrang. Ada masalah dan panitia belum bisa naik. Kami tak tahu masalah apa. Kami terlalu sibuk dengan masalah kami sendiri di dapur tersebut. Tak lama berselang, kak Jumrang datang, tapi untuk mengabarkan bahwa ada peserta yang asma, dan beliau harus mengambil uang untuk membeli obat-obatan segera. So, kami tak mungkin meminta kak Jumrang ke pasar dalam kondisi segenting itu. Kami mencoba menenangkan diri, kabar ini cukupmenambah beban pikiran kami. Khawatir. Pasti!.
          Kami terus berusaha menyelesaikan masakan. Langkah yang paling simpel, menggoreng tempe lebih dahulu, karena bahan-bahan untuk sup belum ada. Saya dan yang lain berusaha dengan cepat menyelesaikan kupasan wortel dan kentang yang sangat banyak itu.
          Pukul. 12.00 Asih sudah tiba, kami meminta bantuan Asih untuk membeli bumbu. Asih menyanggupi dan meminta tolong Memet yang kebetulan telah selesai mengantarkan peserta yang sakit tersebut ke sofa ruang tamu. Saat itu saya sungguh tak sempat lagi menengok kondisi peserta yang sudah ramai dilingakri banyak orang tersebut. Saya terlanjur gelisah. Peserta sudah kemabli sementara masakan belum selesai bahkan 30% nya. Mereka sudah pasti lapar. Bahkan ada yang sudah meminta makan karena mag.
          Ah! Saya semakin panik. Lita memberi ide untuk mebuat sajian tempe yang lain sembari memanfaatkan bahan-bahan yang ada, dan agaknya lebih simpel. Saya menyetujui ide Lita. Lita dengan gesit langsung mengerjakan. Beberapa menit kemudian bumbu-bumbu sudah datang. Saya meraih bungkusan tersebut dan langsung mengerjakan semuanya dengan cepat, yang utama bawang merah dan putih. Saat ingin memasak sup. Kami kembali terhambat karena memikirkan cara untuk memasak semua bahan-bahan sementara periuk yang tersedia berukuran terlalu kecil, kami coba meminjam kepada ibu pemilik rumah, tapi ibu juga hanya memiliki periuk ukuran sedang. Timbullah ide untuk memasak bahan tersebut satu per satu. Pertama-tama kami memaak wortel, setelah itu ditiriskan dan dilanjutkan dengan kentang, kemudian sayur. Setelah semua masak, barulah kami memberi bumbu pada kuah dan menyatukan semuanya dalam satu wadah. Dalam proses memasak itulah saya membuat sambal Unforgetable and unbelievable (istilah kak Jumrang) ku. Saking paniknya saya tak sempat lagi menakar jumlah tomat dan cabai rawit. Saya sama sekali tidak memikirkan apa-apa lagi. Yang saya ingat saat itu, saya langsung memasukkan sekantong cabai rawit ke blender, setelah hancur saya menumis langsung dengan tomat. Tak sempat memedulikan tingkat kepedasan yang mungkin terjadi. Setelah dicicip sedikit, subhanallah rasanya sensasional. Saya menambanhkan gula yang agaknya sudah cukup banyak, tapi tetap saja rasa pedasnya masih kental. Tapi saya tak sempat lagi memedulikan sambal. Bukan itu fokus utamanya.
          Akhirnya masakan selesai. Kami menyajikannya disaat bus jemputan sudah datang. Pukul 03.00. Peserta diarahkan untuk makan dengan tetap tenang. Tak lupa sebelum makan saya memperingatkan peserta bahwa sambalnya cukup pedas, agar mereka tidak mengambil terlalu banyak sehingga menyesal.
          “Sssstt...Ussstt...” 
          Muncullah suara-suara khas yang saya kenali. Suara lidah terbakar. Kuperhatikan satu per satu wajah peserta dan panitia. Banyak ekspresi lucu yang sibuk saya tertawakan sampai tak sempat makan. Ada Memet yang tertunduk bak orang galau karena baru putus cinta dengan air mata yang sepertinya sudah menetes, ada kak Tajrim dengan kalimat simpelnya, “Nda sanggup meka, pedis sekali.”, Ada kak Aiys yang memang benar-benar sudahh berjatuhan air mata, untung kak Nendenk sudah pulang, kalau tidak, saya bisa disemprot karena bikin kakak Aiys nangis. Ada kak Dewi yang meskipun wajahnya sudah merah menahan pedas, tetap saja menikmati makanannya bahkan melengkapinya dengan roti isi sambalku. Kata Isma, “Enak Fiqah, tapi pedis, tapi enak, tapi pedis.” (aduh apa sih. Isma.. Isma....) Dan saya tertawa lagi. Tak saya sangka bahwa sambal ekstra pedas itu masih jadi topik hingga kini. Sudah  saya katakan, saya tak bisa masak. Sudah saya katakan. Tapi dasar si Mr.Aris tak percaya,
         “Tidak ada orang yang tidak pernah belajar langsung pintar masak, Fiqah” Saya hanya mengendus. Pintar apanya, bikin sambal saja gagal. Ckckck.
          Kalau bukan berkat tim koki, saya tidak tahu apa yang akan terjadi. Akhirnya saya tidak heran saat Aris mengatakan, “Saya menaruh respek yang cukup tinggi pada tim koki”. Ya, wajar. Karena meski berada dibelakang layar, pekerjaan kami cukup kompleks, menguras tenaga, dan mangambil banyak jatah istirahat. Akhirnya, di akhir tulisan saya yang luar biasa panjang ini.. Saya mengucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya untuk teman-teman sekalian yang sudah berkerja keras.

          Saya rindu, sangat rindu momen kebersamaan kita di Malino. Berharap bisa mengulang cerita ini lagi, dalam bentuk yang lebih menarik dan menantang.

          Benar yah kata teman-teman, FLP selalu punya cerita..



"___AzureAzalea___"



Baca juga kisah TOWR IV FLP UNHAS yang lain (disini): 
>Nunu

You Might Also Like

0 komentar

Say something!

Subscribe