Sudah Secantik/Setampan Apa Dirimu Hari Ini?

November 23, 2012




Kalau hanya sekedar cantik (rupawan dalam persepsimu), ah! Sudah terlalu banyak perempuan cantik di muka bumi ini. Kalau hanya sekedar tampan (dalam persepsi dangkalmu)—sekali lagi—juga—sudah cukup banyak laki-laki tampan  di muka bumi ini. Tapi toh, mngapa juga orang tak pernah ada habisnya mencari kecantikan dan ketampanan?? Sebenarnya bukan karena kuantitasnya sedikit, tapi menemui makna atau katakanlah kualitas dari sebuah kerupawananlah yang sulit.
Kenapa saya akhirnya kembali dan lagi-lagi membahas topik—setidak penting—ini, karena toh nyatanya tidak juga ada lelahnya panca indra ini memotret fenomena yang—harusnya—mengiris hati bahkan pada diri saya sendiri.
Agus Noor, dalam salah buku puisi ciuman-nya menulis, “Di antara semua yg dimiliki perempuan, kecantikan ialah yg paling rapuh oleh waktu.” Saya sepakat sekali. Tapi tidak hanya perempuan, pria pun demikian, saya kira. Entah seunyu, seimut, semanis, secool, se-apapun itu dirimu. Mau asli kek, mau oplas kek. Mau udah capek2 fitness ampe six(six....six...six...apa lagi sih tuh namanya? Nah itulah pokonya ye), mau seminggu tujuh kali nyalon, mau perawatan juta-jutaann cuma buat kelihatan putih, tinggi, langsing, berotot, or apapun lah itu, Mau dah invest waktu, uang, dan sepenuh tenaga buat cuman “kelihatan” oke, cuman biar orang-orang bisa bilang Wooww.  Pulang-pulang (misalkan nih ya. Ini misal loh. Doa yg baik-baik aja) kita ditakdirin Tuhan nabrak sesuatu, keplingsat, jatoh, nabrak jemuran, muka mu yang jerawat pun kayaknya gak mungkin tumbuh disana lecet permanen, anggaplah bahkan bibir dan hidungmu dah gak jelas bentuknya apa. tanganmu yang bulu pun malu nyokol patah dan mesti di gips. Kakimu yang mesti pake lotion sekian senti saking takutnya item itu jadi malah item beneran karena ngepel aspal. Trus pacarmu yang cantiknya dah kayak putri indonesia, cowokmu yang kecenya minta ampun kayak boy band korea. Saya nanya yah. Simple aja. Masih “mungkin” gak sih bilang kamu cantik? Bilang kamu cakep?. Atau sederhananya, MASIH SUDI GAK DIA MENGANGGAPMU ADA? Sama seperti “dulu” saat dia memujamu sampai langit dan bulan sok2an dijanjiin. Sampai agaknya surga tidak lagi jauh lebih indah dibanding semua tentang kalian. Seketika itu, Sesimpel terjadinya insiden itu. Semua mendadak berubah begitu saja.
Hanya dalam sekejap kau tertunduk merenungi dirimu di ranjang rumah sakit yang dikelilingin perwawat dan pasien lain. Hanya bisa tertunduk lesu. Mungkin ada diantaranya yang tak sempat lagi berpikir persoalan mengenai rupa, kecuali sebuah kesyukuran, “Setidaknya bukan nyawa saya yang lansung dicabutNya, hanya nikmat kecil, yang pasti juga ada hikmahnya nanti”, mungkin ada yang justru mengutuk Tuhan atas kesialan yang menimpanya, bahkan menganggap mati lebih baik seketika itu dibanding hidup menanggung luka yang memalukan. Dan kalau itu dirimu, menurutmu, apa hal apa yang pertama kali terpikir? Sesal macam apa?
            AH! Kecantikan dan ketampanan itu abstrak sekali, kan Kawan?. Menyerap banyak sekali energi tapi bersamaan dengannya jatuh satu per satu. Karena usia bukankah tak bisa melawan waktu?. Andai kata kesehatan, andai kata usia, atau andaikata surga bisa dibeli dengan uang, maka keberuntungan bagi mereka-mereka yang berada. Tapi toh, semua kan lenyap juga. Tapi toh, kita akan sama-sama kembali pada satu kesimpulan, bahwa bukan. Kerupawanan hakikatnya ‘bukanlah’ hanya tentang fisik. Bukan hanya tentang yang tampak dari mata kasar kita. Keindahan sesungguhnya bermekaran jauh di dalam diri seseorang yang memancar dalam raut-raut wajahnya yang mungkin bagi kita biasa tapi selalu mendamaikan, tersirat dari setiap ukiran senyumnya yang entah mengapa selalu membawa keteduhan. Kala bersama dia, kita tak dibuatnya terpesona dan sibuk memuja dirinya, tapi justru tenggelam dalam keindahan-keindahan Rabb kita, membawa kita merasa selalu cukup dengan seperti apapun keadaan, bahwa tak ada yang berbeda antara kita maupun dia. Padanya kita dituntun menyelami kelebihan-kelebihan diri kita sendiri. Berjalan bergandengan dengannya menjadikan kita lebih kuat dan kokoh sebagai “pribadi” yang terus menerus tumbuh menjadi lebih baik.
            Kerupawanan itu intisarinya adalah akhlak. Dan akhlak seseorang sebagamanapun berusahanya dipoles dari luar, tak akan bisa ditekan pancarannya. Jika buruk, buruk jugalah yang keluar, jika baik, baik jugalah yang tampak.
            Kecantikan dan ketampanan (dalam persepsi awal kita) hanyalah se jauh mata memandang. Kecantikan dan ketampanan (dalam persepsi yang benar) adalah sejauh hati merasa.

Terakhir, izinkan saya bertanya, Sudah secantik/setampan apa anda hari ini? ^_^





[Maafkan jika terdapat kata-kata sedikit kasar, kurang sopan, lebih-lebih jika menyinggung. Sepenuh hati saya mohon maaf. Saya memang sengaja, dengan maksud baik. Semoga kita semakin dekat dengan pemahaman yang benar tentang keindahan dan penampilan] ~SEKIAN~

Rafiqah Ulfah Masbah

You Might Also Like

0 komentar

Say something!

Subscribe