Memang

Oktober 12, 2012



Memang benar
kau tak memberiku janji
untuk bisa dikata telah mengudarakanku tinggi ke alam
bernama masa depan bertitel bahagia.
Tak pernah.
Memang!

Tapi tidakkah kau pahami
cara kerja dari rasa?
Ia bisa mengambil tanganmu 
bahkan sebelum kau menawarkannya untuk dijabat.
Lantas, menurutmu setelah kau bahkan menyodorkannya
dihadapan dua pasang mataku yang baru melewatkan
sembab setelah luka yang terlalu banyak ditangiskan,
itu tidak nampak seperti tawaran hidup yang lebih baik?

Bukan janji.
Memang.


Tapi setiap daftar sapaan,
tiap rentetan kata yang merupa di layar ponselku hari-hari.
Lalu setiap hitungan kata sayang yang pernah termuntah.
Kau membuat banyak harap menari terlalu lincah di benak,
membuat sangkaan tak bertempat.
Sudah terlalu banyak lukisan rupa-rupa yang tak cukup 
bermodalkan penghapus karet ukuran satu kali tiga
untuk begitu saja memusnahkannya
untuk begitu gampang kau telantarkan.

Kau tak pernah memberiku janji. Memang!
Tapi kau melukiskanku terlalu banyak harapan!
Meski aku bertaruh penuh,
kau amat mahfum ;
di kanvas bernama rasa,
setiap tinta yang menempel menjadi permanen!



__@MIB -03.54 (Iseng sambil nunggu interview calon Staff)__

You Might Also Like

0 komentar

Say something!

Subscribe