Tentang Seorang Wanita yang Tak Perlu Lagi Kusebutkan Namanya kepada Kalian

Juli 04, 2012



Oleh : Azure Azalea


            Di meja ruang makan. Setiap pagi. Ya, Hampir setiap pagi segelas susu tersedia disana. Segelas susu yang tidak mungkin dibuat untuk satu pun dari penghuni rumah ini kecuali seorang perempuan yang bukan siapa-siapa.
            Di pekarangan  rumah. Setiap salam  telah tuntas dijabarkan perempuan itu ke seisi rumah. Ya, hampir setelahnya seorang wanita selalu berdiri disana. Mengantarkan sepeda motor itu keluar perlahan hingga melewati pagar, hingga melaju pergi meninggalkan senyumnya. Ya, menunggui dengan sangat sabar. Dalam keadaan apapun ia.
            Di atas sebuah sajadah. Setiap lima kali per hari. Ya, setidaknya tak kurang dari lima kali sehari. Ada rintik yang selalu menghulu hingga bumi. Ada raung tak bersuara yang tak henti mendekap kuat dua belah tangannya tengadah. Ya, untuk semua. Juga untuk seorang perempuan yang bukan siapa-siapa. Wanita itu sayang tak bosan. Tak pernah.
            Di sebuah pembaringan. Setiap malam. Ya, hampir setiap malam ada gelisah yang menikam kedua bola mata wanita itu. Mencederainya hingga ulu jiwa.
“Ápa lagi yang masih mungkin disediakan esok hari?” Kadang juga berbunyi,
“Masihkah ada satu kursi lagi di masa depan? Di hadapan kesuksesan?”
            Di setiap napas. Ada sengal yang selalu buatku gidik. Nyaris setiap kali, kurasa hembusannya disebalik tengkukku. Hingga ganti bertanya juga,
“Kapan perempuan yang tiada siapa itu tahu. Wanita itu semakin sepuh. Bukan dimakan  usianya. Tapi dilahap derita jiwa tentang hidup yang tak bisa digantikan, tentang waktu yang tak bisa disedekahkan. Tentang jerih payah yang tak bisa diwariskan.”
Perempuan itu sering kupanggil aku.
Dan wanita itu??
Bukankah sudah ku katakan tak perlu lagi ku sebutkan namanya kepada kalian.

You Might Also Like

1 komentar

Say something!

Subscribe