Katakanlah Hidup Terlalu Sempurna

Mei 21, 2012




Katakanlah hidup terlalu sempurna. Laki-laki itu tak perlu menaruh timbangan sebesar gunung di bawah hatinya. Lalu bermesra dengan gelisah. Hari itu seentengnya ia berlatih dan hanya berlatih dengan tenang di karantina. Bersiap mengadu keberuntungan atas perjuangan yang memeras keringat sekian lamanya. Tapi, Kehadiran teleks itu menghadirkannya sebuah rasa yang hanya ia dan Tuhan yang tahu.
“Sayang sekali, Pak. Padahal ini kesempatan emas anda.” Wajah-wajah lengkap dengan cap kata mengiba berselingan menyapa. Tersenyum saja. Tanpa tanggapan. Karena memang bukan kalimat tanya yang perlu dijawab.
***
            Katakanlah hidup terlalu sempurna. Tanpa golakan, tanpa resiko, tanpa pengorbanan yang menggandeng kata mesti. Sebenarnya cukup setengah hari untuk menuntaskan pertandingan lalu kembali pulang dengan ketersediaan waktu sampai tak terhingga. Satu hari saja takdir boleh diajak kompromi. Ya, katakanlah hidup terlalu sempurna. Meski saat itu saja.
            “Bapak yakin akan pulang?”
            “Iya.”
            “Bapak selesaikanlah dulu semuanya. Bukannya ini impian Bapak sejak lama?” suara itu tersengal, dipaksakan tenang, “Disana masih ada yang menemani. Pasti akan baik-baik saja.”
            “Saya tetap harus pulang.”
***
            Katakanlah hidup terlalu sempurna. Bukannya tak harus memilih. Tapi bisa memilih keduanya. Apa mungkin masih ada cerita ini? Atau hari ini?. Atau ia beserta ceritanya hari ini?. Segalanya hari itu menggantikan tubuh laki-laki tak hitam itu bertanding di arena. Cinta. Obsesi. Bukannya ini biasa terjadi?. Tapi ia jatuh di tanggal ini, menjadikannya tak bisa dikatakan biasa.
            “Sayang sekali, Pak. Padahal ini kesempatan terakhir anda.”
            Laki-laki paruh baya itu lagi-lagi hanya punya segaris lengkungan yang tak sepenuhnya tuntas di bibir sebagai bentuk tersantun sebuah respon. Lagi-lagi, dan berulangkali.
            Siang itu aroma hangat sudah menyengat dari jauh. Bahana. Gempita. Ketegangan bahkan sudah menyatu sampai ke saraf-saraf rambut, andai kata ada. Tak jauh beda dengan siluet yang tergambar di jiwa lalu direflesikan di garis-garis wajahnya. Bedanya, arah lemparan hati mereka tak sama. Jika hari itu sekitar 200-an atlet berharap-harap tegang demi kemenangan mereka, laki-laki itu sibuk berharap bagaimana agar ia bisa secepatnya pulang. Berada disana, tepat disisi ranjang istrinya.
***
Katakanlah hidup terlalu sempurna. Kita jadi serba tahu. Tak salah. Dan tak pernah bersalah. Tapi ini dunia, bukannya surga. Kita hanya boleh memilih sekali pada saat yang sama. Kalaulah ada yang menaruh percaya bahwa yang baik berbuah baik, dalam kondisi terburuk sekalipun akan setia dengan yang terbaik.
Dari kota Helsinki, Finlandia, Final Olimpiade Kano, 1952. Telegram itu baru saja tiba. Ia menatap sebentar telegram tersebut. Memastikan. Ya, itu dari Frank. Benar-benar Frank!.
Ayah. Mungkin tak cukup dengan sekedar terima kasih. Tapi saya tetap ingin berterima kasih. Terima kasih telah menunggui kelahiran saya. Segera saya akan pulang dengan medali emas yang harusnya dimenangkan oleh Ayah beberapa tahun yang lalu.
Anakmu tersayang, Frank!”
Air mata laki-laki itu luruh ke tanah, tanpa sepatah kata. Kecuali rasa haru yang lagi-lagi cuma ia dan Tuhan yang tahu. Mungkin memang keputusan yang sayang. Tapi kasih sayang yang diinvestasikan dalam kenangan Frank tak pernah tidak lebih berharga dibanding semua penghargaan atas pekerjaannya.
Ya, sayangnya hidup tidak sepenuhnya sempurna. Tanpa kompromi, semua mesti dipilih. Namun apalah arti sebuah tropi untuk mengganti air mata yang tercinta dan gema tangisan pertama buah yang dirindukan. Dia hanya dunia. Tapi mereka—juga—akhirat.
***
            Katakanlah hidup terlalu sempurna bagi Bill Havens. Seorang pendayung berskala Internasional. Ya. Laki-laki itu bernama Bill Havens. Tapi, Tidak!. Ternyata Tidak!. Tak ada hidup yang sempurna. Semua hanya disempurnakan oleh ketidaksempurnaan kita.
***
Makassar, 20 Mei 2012
(Mengisahkan sendiri rasa hati  memaknai kisah Bill Havens)

You Might Also Like

0 komentar

Say something!

Subscribe