Karena Kau Ceraikan Hati dari Mata Airnya

Mei 04, 2012




            Saya rasa dalam kehidupan kita yang tak panjang ini, belum pernah ada satu manusia pun yang tak pernah merasai keruntuhan semangat, gairah, atau katakanlah dalam redaksi yang lebih singkat, Futur..
            Al Iimanu yaziidu wa yanqush. Iman itu bertambah dan berkurang, naik dan turun. Yaziidu bith thaa’ah, wa yanqush bil ma’shiyah. Bertambah oleh sebab ketaatan dan berkurang karena kedurhakaan.”
            Imam At-Tirmidzi yang mengambil kalimat ringkas diatas sebagai salah satu judul bab dalam kitab Sunan-nya memang telah menjadi mahfudzat terkenal sebagai penggambaran sifat iman.
            Kita paham bahwa iman adalah sesuatu yang sifatnya hidup. Ia butuh makan, butuh suplemen agar tetap sehat di dalam jiwa. Saat tak sengaja bercurhat ria dengan sahabat kita, misalnya. Dengan begitu saja tanpa komando kadang kita mengutarakan betapa membosankannya kehidupan kita belakangan ini, betapa stressnya kita dengan rangkaian masalah yang tak ada habisnya, kadang bahkan ingin mati saja rasanya. Dengan beribu macam alasan kita terus membela diri kita, terus menempatkan diri sebagai korban ketakadilan keadaan, nasib, atau sebagainya. Usut punya usut, Saat kita kembali menanyakan kabar ibadah, selalu saja sampai pada satu jawaban yang sama, “bermasalah”.
            Maka terang saja. Kualitas perasaan dan kehidupan kita ujung-ujungnya sangat bergantung pada kualitas ruhiyah kita. Mungkin sudah sering sekali kita mendengarkan kalimat ini, yang saya sendiri pun tak ingat atau lebih tepatnya tak tahu darimana sumbernya, “Bukan Tuhan yang butuh ibadah-ibadah kita. Kita sendirilah yang butuh beribadah kepada Tuhan.”
            Mata air hati adalah keberserahan yang utuh kepada PenciptaNya. Saat hati dijauhkan dengan mata airnya, jadilah ia kering, layu, bahkan mati. Dan darisanalah terpancar kekeringan yang nyata pada kehidupan dan segala aktivitas kita.
            Sebagai manusia biasa yang tak selamanya berada di puncak-puncak kelezatan imannya, kita hanya sebisanya berusaha menjaga diri dari kejatuhan rasa yang berlarut-larut. Sekuat-kuatnya tetap menjaga diri agar berada dalam konsistensi perbuatan baik yang dasar. Ibadah wajib yang terjaga, meski harus pada paksaan yang keras. Kita semampunya menjauhkan pandangan dan langkah dari kemaksiatan-kemaksiatan yang menggoda.
            “Setidak-tidaknya,” kata seorang Ustadz suatu ketika, “Saat berada pada kondisi terendahnya semangat, jangan tinggalkan yang wajib. Dan saat sedang berada di puncak-puncaknya semangat, kerjakan sebanyak-banyaknya yang sunnah.”
            Dalam kehidupan ini, kita pun ada untuk saling mengingatkan satu sama lain. Karena lagi-lagi, kita hanya manusia biasa yang terfitrahkan lupa dan khilaf. Semoga bermanfaat. :-)



_Rafiqah Ulfah Masbah_

You Might Also Like

0 komentar

Say something!

Subscribe