Cerita Setengah Keparat

Mei 14, 2012


Jangan jadi penulis, Kata orang tidak ada duitnya!. Nanti kamu miskin, Nak.1
***
Langit perlahan memerah, satu dari sekian juta pemandangan yang paling kusuka. Dan ini yang paling cantik. Saat sabit yang sedang runcing-runcingnya mulai terlukis tegas. Sabit yang selalu menyerupa sunggingan tipis senyum seseorang. Kadang bergantian sengaja kujelma wajah siapa-siapa yang kusuka. Ya, Petang yang menghibur.
Aku meraih lembar kertas yang baru saja tercetak. KRS  semester ini. Kuusap dalam dadaku. Tak tegar mata ini menatap lembaran itu lama-lama. 2,1. IP-ku semester ini 2,1. Hatiku perih mendidih. Ingin menumpahkan air mata. Tapi tak kuasa. Kering. Sudah kering di bulan-bulan belakangan ini.
            Aku masih berdiri dengan tubuh tak tegak  menghadap keluar jendela. Jendela kaca yang lebih mirip pintu tempatku melarikan diri. Atau kadang serupa  layar televisi dengan sajian drama melankolis. Langit menangis, bulan pemalu, tarian angin, kuncup tersipu. Ah, aku bosan menyelancarkan kalimat ini lagi—Inikah galau!?
***
            Galau memang. Itulah satu-satunya alasan aku disini.
Gadis itu masih merutuk. Mungkin auramu genit!. Itu pertama kali aku mendengar istilah macam itu disabdakan dan—dengan ekspresi beku. Dingin sekali. Bercanda?. Ah, agaknya tidak. Tapi, Aura? Genit?. Lebit tepat disebut sikap—kukira.
            Kau terima sajalah. Memang ada yang ditakdirkan hidup dengan sisi kemenarikan alami. Usahlah bimbang. Toh, tak  pernah kau bermaksud begitu kan? Dan aku yakin pasti. Lagipula pria baik-baik takkan sesumbar mengawinkan ekspresi ketertarikannya pada setiap lakunya dihadapanmu. Cuih! Aku saja yang tak sholeh-sholeh amat tahu pria seperti itu golongan flamboyan!. Tak sudi aku kau dekat-dekat dengannya.
            Ah, aku mengeja ulang kalimat-kalimat ‘bijaksana’ yang seperti biasa cair begitu saja dari bibirnya yang sudah menghitam—karena racun dari batang putih yang diisapnya tiap hari—saat kuceritakan perihal masalah klasik yang selalu kutemui. Aku tak cantik tapi kata orang aku memikat. Bukankah bagus?. Tidak! aku harus selalu kerepotan meladeni pria-pria disekitarku yang entah kenapa selalu kubuat jatuh hati.
Dan—Sholeh—tadi dia bilang Sholeh?. Tahu juga dia melafalkannya dengan fasih. Hmm, Apa mungkin ia tak sadar disetiap perbincangan selalu menyelipiku bahan  analisis yang cukup memeras otak? Orang ini memang aneh!. Aku mendengus.
            “Hai! Halo, Nona!?” Aku terkesiap mendengar bunyi jentik jarinya tepat di depan hidungku. Ia menatapku sekilas sebelum membuang jauh pandangannya ke garis cakrawala.
            “Maaf.”
            “Terlalu banyak berpikir! Huh.. Perempuan zaman sekarang.” Ia menyeloyorkan tubuhnya pada sandaran bangku. Mengerjap. Tentu—masih—dengan ekspresi tanggungnya.
“Bagaimana dengan keinginanmu kemarin?”
“Tak tahu. Masih bimbang.”
“Apa kau kira waktu mau menunggumu mengambil keputusan?”
Aku membisu. Tertunduk gontai.
“Heh. Kukasih tahu, yah. Zaman itu berubah cepat. Kau jangan terlalu canggung kalau kau tak mau hidup menertawaimu terpingkal-pingkal.” Tak sengaja aku mencipta senyum oblong dari wajah tak putihku yang biasanya anggun. Jelas sekali aku tampak bodoh jadinya. Ia menatapku lagi. Lagi-lagi dengan ekspresi yang sama. Menertawaikukah?. Ibakah?. Ah!
“Sudah. Aku pergi dulu! Kau pulanglah! Sudah malam.” Ia berlalu. Kalau masih mau berpikir, Pikirkanlah mana suara hati dan mana nafsu. Itu kata-kata terakhir yang dibisikkannya padaku. Aku mendongak. Mencipta tiga garis kerut di dahi. Menagih. Tapi ia berseluncur pergi. Hilang diantara remang lampu jalan dan lalu lalang kendaraan. Sesuatu seketika menghentak. Nafsu? Suara hati?.
Aku hanya sulit mencerna semua ini. Izinkan aku berpikir kembali!
***
Ah, Kita memang diberi batas waktu untuk hidup di luar yang kita pahami. Mengisyaratkan bahwa memang kita harus banyak berbuat. Terus berbuat. Tidak cuma berpikir terus.
Pukul 18.30 WITA. Gadisku yang cantik itu meraih kunci motornya. Melesat pergi tanpa pamit sama sekali. Lalu, hilang. Tak pernah kembali. Kehilangan?. Kuharap aku tak perlu merasa kehilangan seseorang yang bahkan tak pernah mengindahkan sepatah pun kata-kataku. Tapi kenapa aku menangis? Ah, haruskah lagi-lagi dengan alasan klasik—naluri?.
Ia lelah. Aku juga lelah. Sama-sama berpikir tapi tak berpikir sama-sama. Pergi. Mungkin itu satu-satunya hal yang bisa ia perbuat dari pelbagai macam pilihan. Keterlaluan!
***
            “Keterlaluan kau bilang? Aku sudah bosan bersitegang dengan kalimat-kalimat—tanya—kenapa-nya yang seolah tak pernah kehabisan amunisi membakar kulit-kulit pitamku. Kenapa kau tidak begini?, kenapa tidak begitu?, kenapa kau tidak berbuat seperti ini dan seperti itu?. Yang jika disemaknakan dengan kata perintah kurang lebih akan berbunyi: Harusnya kau begini! Harusnya begitu! Harusnya seperti ini! Harusnya seperti itu!. Tak bisakah sekali-kali ia bertanya : APA menurutmu hal ini baik? APA kau berpikir hal ini buruk? Atau, APA ia tak tahu apa itu musyawarah?. Ah, aku muak!. Memangnya ini hidup siapa!?”
            “Tapi maksudnya kan baik. Kau tak harus begini.”
            “Kau ini terlalu waras. Tahu apa sih, hah!? Sudahlah!” Tiit!
            Aku tak butuh kalian. Tahu apa tentang diriku?. Biarkan aku berjalan dalam pembuktian! Meskipun aku harus sendiri—melakukannya—mengejarnya!
***
Songsonglah lautan. Meski mungkin ibumu telah menasehatkan agar takut terhadap air. Kamu adalah seekor angsa liar—bukan binatang ternak yang harus tinggal di dalam tempat sumpek!
            Aku ingat betul. Siang itu ia masih sempat berceloteh ketus di depan pintu kamarku. Dengar baik-baik. Itu kata si Rumi!. Lalu ia membanting pintu. Tidak sedang marah padaku. Ia sedang kesal pada dirinya sendiri. Aku diam saja.
            “Prak!” Dan daun pintu sebelah tak ketinggalan kebagian amuk. Malam ini ia dioleh-olehi celoteh panjang karena semua pekerjaan rumah terbengkalai. Piring, cucian, dan barang-barang lain berpesta ria dimana-mana.
            “Diam, Bun!” teriaknya. “Apa Bunda tidak mengerti saya capai seharian ini. Memangnya cuma saya satu-satunya anak perempuan yang hidup di neraka ini !?”
            Wanita paruh baya—yang duduk diatas ambal ruang tengah—itu kulihat kembali hanya bisa menangis. Parodi air mata yang sudah terlalu sering terjadi di rumah ini. Sesaat hening. Jeda memberi nafas sejenak untuk memahami lagi kejadian yang sedang terjadi. Sampai sebuah suara tak lagi bisa tertahan untuk memuncrat dari gerahnya.
            “Bundamu ini memang bodoh. Iya kan? Kamu sudah lebih pandai mungkin. Jelas lebih pandai. Kamu ngerti Nak apa artinya dosa?. Kamu tahu apa akibatnya durhaka pada orang tua?. Tidak berkah! Hidupmu tidak akan pernah berkah! Kamu tahu itu.” Suara itu masih anggun meski terbata, patah, dan terdengar retak. Aku merenda kuncup mataku dengan dua belah tangan. Turut merasa bersalah, tapi tak berani bersuara. Pun ia.
            “Kenapa cuma ada anak yang berdosa pada orang tuanya. Dan orang tua tak pernah berdosa pada anaknya?” Suara lirih itu tercuat. Nyaris berbisik. “Ah tidak, tapi ada jenis orang tua yang mendosakan anak-anaknya!” Ia membuang pandangan jauh-jauh. Sesaat kemudian diantarkan kaki dan seluruh jiwanya beralih ke pintu keluar. Terakhir kali wajah gadis yang hanya terpaut menit dengan usiaku itu merupa di rumah ini. Ia benar-benar tak pernah pulang. Tak pernah. Aku menunduk dalam. Entah harus ridha pada pihak siapa.
Oh Tuhan betapa drama ini penuh dengan dosa.
***
            “Aku tahu telah berdosa besar, Anggun. Tapi kita harus membuktikan keyakinan kita masing-masing. Mana kita tahu apa yang terbaik jika kita tak pernah mencoba melakukannya?”
            “Haruskah dengan cara lari?”
            “Memangnya masih ada cara lain yang tersisa disana?”
            “Tapi, apapun pencapaian kita tak akan pernah berberkah tanpa restu.”
            “Kau ini kanak sekali!. Hey, Apa kau sendiri menerima pendapatku?”
            “Apa maksudmu?”
            “Meskipun sudah kukatakan pria flamboyan itu bukan pria baik-baik, Apa kau sudah berhenti mencintainya?”
            “Apa yang kau bicarakan?”
            “Aku tak buta!”
            “Aku...”
            “Sudahlah! Aku tidak menyalahkanmu. Kau itu gadis pintar. Aku tahu kau tak sembarang suka pada laki-laki jika tak ada sepuluh hal baik berbanding satu hal buruk yang kau lihat dalam dirinya. Kau sendiri, Kau sendiri kan yang mengerti tentang dirimu? Jadi apa pendapatku menjadi penting?” Ia menghela napas berulang kali. Apapun yang kukatakan meski tak bersangkut-paut tetap selalu bisa mematahkan lidahnya. Hah, kurasa gadis ini juga aneh!. Tapi diluar semuanya, jujur aku salut—ia masih bisa bertahan dalam patuhnya hingga titik ini—sekaligus kasihan karena ia tak pernah—meskipun sekali—berani berbuat untuk dirinya sendiri.
            “Jadi kau tak mau ikut?”
            “Aku berpikir dulu..”
            “AH! Kau berpikirlah terus sampai otakmu mendidih!” Kesal juga aku dibuatnya.
***
            Betapapun aku sering kesal dibuatnya. Betapapun aku sering kecewa. Tapi aku tak pernah sanggup meluap. Aku bisa saja meruahkan kekesalanku setiap hari bila saja tak menenggang bahwa perempuan tua itu tetaplah orang yang bersipayah melahirkan dan membesarkanku.
“Bun, Mengapa tak Bunda terima saja lamarannya?” Kubuka perbincangan sore itu dengan sebaik-baik kesopanan yang kupunya.
“Kau masih kecil.”
“Tapi bukannya kita sudah bersepakat. Aku ingin menikah pada usiaku yang ke 20.” Ia diam. Entah sengaja tak peduli atau memang menghindar. Aku terus merepet.
“Bun, Aku sudah belajar keras.” Ah, mengapa suaraku jadi lirih begini. “Aku masuk kelas Akselerasi di SMP, pun SMA. Aku bahkan sudah sarjana sekarang. Tapi kenapa Bunda? Bukankah Bunda sendiri yang bilang, kalau kita tak boleh takabbur asal menolak.. Bukannya..”
“Jadi kau juga sudah belajar membantah?”
“Tidak, Bun. Aku cuma..”
“Kau pandai. Pandai sekali. Tapi kenapa tak kau ajari saudara perempuanmu yang satu itu bagaimana cara belajar yang benar?.” Suaranya datar. Tak berteriak seperti biasanya. “Apa kau tak peduli dengan nilainya yang berantakan seperti itu? Mau jadi apa dia?. Bahkan dia mungkin sudah menggelandang di luaran sana. Dan sekarang kau bilang ingin menikah!?” Ia mendongak. Menahan genangan air yang nyaris jatuh dari mata kerutnya. Lalu perlahan beranjak.
“Kalau memang Bunda masih peduli dengan Gempita.” Langkahnya mendadak terhenti. “Kalau Bunda ternyata masih sebegitu memikirkannya. Mengapa Bunda selalu mengabaikan dia?. Kenapa tak bisa bersahabat dengan anak-anak Bunda sendiri? Bunda tahu, Gempita bahkan lebih cerdas dariku. Tak seperti aku, sejak kecil ia selalu melakukan semuanya dengan senang hati—membahagiakan Bunda, mengajari aku. Tapi kenapa untuk satu saja keinginannya, Bunda tak bisa ridha? Tak bisa restu?” Aku berdiri dan menatap rambut ikalnya yang sudah banyak putih.
“Kau tak tahu apa-apa.” Ia berlalu ke kamar tidur. Mengunci rapat pintunya. Meninggalkanku seorang diri. Tergugu.
Jangankan Gempita, aku sendiri tak bersulam jawab dengan jalan pikiran Bunda.
***
            Bagaimanapun aku cukup mengenalnya. Sama sekali bukan sosok matrealistis, lebih-lebih kolot untuk senaif itu mengarang alasan berkisar uang atau kedudukan. Bundaku adalah perempuan agamis dan berpendidikan. Ia bahkan sangat ketat menelurkan ajaran—kerja keras, pantang minta—nya pada kami. Lalu apa?. Nah, itulah yang tak pernah bersambung jawab.
            Aku memulai obsesi tingkat dewaku pada sastra wabil khusus Puisi juga sedikit banyak—(Ah,yang benar adalah sangat banyak)—karena candu Bunda terhadap karya-karya sastra klasik sampai modern bahkan sejak aku masih di kandungan. Dan ia akan selalu dengan riang berceloteh panjang lebar tentang sejarah kesusastraan Indonesia, kadang-kadang bersajak sendiri.
Dongeng-dongeng pengantar tidurku bukanlah dibumbui imajinasi tentang si Kancil yang katanya nakal, tak ada cerita Cinderella bahkan Gadis Berkerudung Merah. Aku sudah diakrabkannya dengan nama-nama Chairil, Rendra, Sutardji, Gibran, Sapardi ,GM sampai pemuka Arab setenar Jalaluddin Rumi. Aku sudah terbiasa diperdengarkan contoh mainstream puisi yang batang tubuhnya terbentuk dari rangkaian diksi aerobik, juga yang tenang seperti aliran sungai macam Chairil dan Gunawan Muhammad. Oh kau bisa bayangkan! Untuk  anak kecil usia sejari, apakah itu masuk akal?. Kadang aku tertidur bukannya karena larut dengan cerita-cerita Bunda. Lebih sering karena lelah mengernyit dahi. Bosan tak mengerti.
 Setelah aku akhirnya turut jatuh hati dalam sastra dan semua tentang kepenulisan, dengan tak bertanggungjawabnya Bunda tak sudi menggandengku menyelaminya. Lagi-lagi selalu dengan alasan klasik. Uang. Ah, sudah kukatakan sebelumnya, pasti ada alasan lain. Tapi ia bungkam berterus terang. Dan itu yang kubenci. Tak diberi alasan logis!
Aku beruntung seorang kawan sudi menampungku dikamar kost-nya yang masih terbilang elit disaat semua kawan-kawan baik menolakku. Alasannya sederhana, nasib kami hampir-hampir mirip, katanya. Ya, bagaimanapun pagi dalam empat bulan belakangan ini sama dengan pagi-pagi biasa. Agenda rutinnya adalah menyuapi mata. Kali ini sajiannya jatuh pada kumpulan puisi terbaru Min Absurd yang dihadiahkan Anggun tepat pukul 12 semalam tadi. Hari ini ulang tahun kami yang ke 21. Rasanya aku ingin melompat kegirangan saat pertama kali melihat ujung sampulnya.
Dari sekian penjelajahanku pada karya-karya penyair terkemuka di Indonesia, aku menemukan Min Absurd, Seorang penyair wanita yang coba mengalahkan waktu dengan kata-katanya yang selalu membuatku mengigil - dalam kacamataku saat ini - ia seorang pesajak liris yang berbakat dan mewarisi ketajaman batin dari para penyair-penyair hebat terdahulu.2
Aku menyelancarkan mata halaman demi halaman. Larut. Sampai tiba di sebuah...
“Ya Rabbi. Tidak mungkin!!”
***
            “Apa yang tidak mungkin, Anggun!?”
            “Lalu kita harus kemana sekarang?”
            “Rel, Anggun!. Rel!!”
            Kami berlari tanpa sempat lagi berpikir bahwa teknologi telah memrakarsai sesuatu yang disebut kendaraan bermesin. Mungkin satu-satunya yang masih kami sadari adalah kami masih punya dua kaki.
“Oh, Tuhan. Bunda!!”
            “Kenapa kalian disini?”
            “Bunda, Gempita mohon, Jangan berdiri disana, Bun. Gempita minta maaf. Gempita tidak tahu!!” Napas kami tersengal, tempo suara Gempita pun tak lagi padu. “Bunda, Gempita sudah pulang kan? Gempita sudah pulang. Gempita mohon maaf Bunda.  Tolong Bunda! Tolong jangan berdiri disana!!” Ia terus berteriak.
            Kulihat Bunda terus menghela napas berkali-kali. Aku sendiri masih menghimpun kewarasan.  Rasanya seluruh tubuhku dingin dan bergetar kuat.
            “Kenapa baru pulang sekarang?”
            “Gempita tak tahu. Kenapa Bunda tak menceritakan semuanya?”
            “Bunda, Anggun juga menyesal. Kami tak tahu. Tolong Bunda kemari.”
            “Baiklah, Bukan salah kalian. Kita bicara!” Aku tersenyum sekilas.
            “Cepat, Bun!!”
            “Baju Bunda tersengkut, Nak!!” Seluruh urat-urat saraf kami menegang seketika. Ya Tuhan, keretanya.
“Bundaa!! Awaas!!”
            “Oh, Tuhan. Gempitaaa!!”
***
            Wanita paruh baya yang bahkan dari kejauhan masih menghimpun bekas-bekas keremajaan yang memesona di pendar wajahnya itu nyaris tiap hari kesana. Begitu yang kutahu dari tetangga yang biasa memerhatikan. Ke tempat rindang dengan pohon asam yang berdiri kokoh nyaris di setiap petak gundukan. Aku menyeksamai bulir-bulir yang berlomba jatuh dari sudut-sudut matanya yang layu tiap kali.
            Aku menguntit. Awalnya bermaksud meredam penasaranku tentang kegiatan rutinnya diluar rumah saban matahari hampir tergelincir selama beberapa tahun belakang ini. Tapi aku akhirnya terbiasa. Aku hanya tak ingin mengganggu khusyu’nya menabur kelopak-kelopak kertas yang diserak dari puisi-puisi kasih yang ditulisnya sekali duduk. Tentang dua perempuan yang semasa adanya tak pernah begitu tergerus harapnya. Lalu menyiramkan dengan air mata. Aku mengunci bibirku yang bergetar tiap kali agar tak juga menggesek rintih di pita suara. Tapi aku sungguh sudah tak tahan. Hatiku remuk-rengsa.
            “Sudah petang. Mari kita pulang...” Kuulurkan perlahan tanganku disisi kanan bahunya.
            “Ke..Kenapa bisa...?” tampaknya ia terkejut sekali. Aku hanya tersenyum.
            “Mari kita pulang, Bun.”
            “Tapi, Aku belum sele...”
            “Bunda, Orang-orang disekitar kita meninggal, dan mereka akan mencari kesempatan untuk meninggal sekali lagi di dalam tubuh kita. Tidak tahu apakah karena suara atau wajah mereka terlalu jelas terekam dalam ingatan, ataupun kita sudah tidak begitu lagi teringat mereka, dan seakan-akan lupa mereka tiada.3” Ia menatap mataku lekat sekali. Menghela napas panjang dan akhirnya beringsut dipelukanku. Aku tak tahu ia bisa layu.
            “Sekarang kita pulang yah, Bunda.”
            “Iya.”
Kami menyusur jalan berbatu diantara puluhan pohon asam yang setiap kali digelitik angin akan menjatuhkan puluhan dedaunan diantara kami. Aku menggandeng tangannya perlahan.
            “Boleh aku bertanya?”
“Hmm?”
“APA mungkin Bunda menyukaimu, Yah?”
            “Hey. Tentu saja. Bunda tahu, dulu hampir semua ibu yang memiliki anak gadis berebutan ingin menjadikanku menantu.” Aku terbahak. Wanitaku itu tersenyum kecil. Manis sekali.
“Tapi kenapa Ayah bisa disini?”
“Kenapa? Karena aku memang selalu disini. Tapi enggan sesumbar menampakkan diri.” Aku tersenyum. “Tak mau dipanggil flamboyan lagi.” Ia menatapku datar, diam, sekian detik sampai tawanya pecah, gelakku buncah.
***

Kisah Setengah Keparat

 Kenapa cuma ada anak yang berdosa pada orang tuanya?
Orang tua tak pernah berdosa pada anak-anaknya
Ah, tapi ada jenis orang tua yang mendosakan anak-anaknya!
Ia akan menebusnya pada titik balik sejarah

Kebisuan
Kau memang tak perlu dengar
Geram
Kakekmu, Ayah, Paman, menebusnya di ujung peluru penjajah!
Air mata
Dunia cuma tak boleh mencibiri kalian haram
Kau?
Lupakan masa lalu!
Kita?
Tak ada. Aku juga tumbal!
Kami?
Bukannya tak ada yang sudi pulang?

_Ujung kereta yang akan menelanjangi kita, tahun ke 21_
Min Absurd_
***

Ket :
1. Kutipan berasal dari kumpulan Puisi dan Sketsa “Racun” (Glitzy Book Publishing, 2011)
2. Potongan pujian Topi Jerami, seorang sahabat dunia maya saya,  untuk Dyn Ambigu, seorang penyair muda asal Sidoarjo.
3. Topi Jerami

Makassar, 12-13 Mei 2012

You Might Also Like

0 komentar

Say something!

Subscribe