Untuk Sahabatku, Topi Jerami : Biar kita nikmati secangkir ajal ini

April 14, 2012



Serangkaian kata tersusun menjadi banyak kalimat untuk menggambar puisi-puisi yang tak pernah menjadi sepadan puisimu.
Tapi tak pernah tercipta satu pun kata sekedar untuk berani-beraninya menuliskan sesuatu untuk mengapresiasi apapun itu tentang dirimu, Sahabat. Sebelum tiba disini.
*
Maghrib yang masih sangat biru. Tepat sesaat Pak Imam menyuarakan salam kedua.
“Meninggal Topi Jerami.” begitu kata seorang sahabat setengah berbisik pelan di telinga. Sesuatu yang entah bagaimana harus membahasakannya.
Seperti pertama kali mendapat berita tanggalnya bulan sabit. Membayang digantungnya Topi jerami sebagai penghormatan terakhir tidak bisa diterima logikaku sebelumnya. Tidak ada tangis, tidak ada gidik. Aku menyelesaikan aktivitas Liqoat sebagaimana biasa, berkendara dengan tenang, lalu menyengaja langsung mengambil posisi terbaik untuk merebah diranjang empukku sesampainya. Aku tak tahu harus seperti apa menanggapi ini. Aku tahu, saat itu hanya ingin terpejam dan berharap esoknya terbangun dan sadar sekiranya ini hanya mimpi lalu tersenyum lagi.
Tapi. Satu jam lebih aku memaksa mataku memasuki titik paling rileks. Sudah pula kubantu imajiku beristirahat dengan musik relaksasi. Tapi apa daya, fikiranku panas dan akhirnya mendidihkan selaput air mata.
            Aku hendak memastikan gelisah. Menghambur keluar dan memarkirkan kaki disebuah warnet dekat rumah. Benar. Tak lagi ada TJ. Tuhan telah sempurna merengkuhnya dari rangkulan hidup yang keras, juga derita yang tidak kutahu takarannya. Ia sempurna menemui harapannya. Tidak lagi ada kalimat tanya semacam, “Kapan yah bisa dipanggil olehmu Tuhan? Rasanya tak sabar.”
            Kini hanya bisa dengan secangkir rindu dan doa yang katamu akan selalu disatukan langit, menikmati setiap sajak yang sempat menyapa mata hitamku, juga berbincang hangat dengan hatiku yang menua dan banyak keropos.
            Benar. Inilah kehidupan. Semua memang ada musimnya. Dan musim tenang di kota kita kali ini menjadi waktu pilihan Tuhan kita yang Mahabaik itu untukmu. Tidak juga kering yang membuat kulitmu dibawah sana mungkin terpanggang. Tidak juga hujan yang membuat gigil.
            Rasanya aku masih sangat hijau dengan pena retakku untuk memaknai kata-kata. Masih sungguh mengharapkan waktu panjang untuk belajar tentang substansi. Masih sungguh merindu petuah kecil semacam,
            “Sesekali jadilah lidah, bukan mulut.”
            Tapi lagi-lagi. Rangkaian nasehat sempurna harus digenapkan dengan jeda panjang untuk lalu merenungi seluruhnya. Dan begitulah pembelajaran ini. Kali inilah saatnya aku harus berani menengok panjang kedepan dan kebelakang, terutama bersahabat kedalam. Katamu sampai aku tahu cara tertawa yang benar.
            Topi Jerami. Sepanjang cerita kepenulisanku yang entah ditutup kapan nantinya, kau adalah sebuah inspirasi yang tak pernah menguap. Sosok yang akan selalu kuhadirkan disetiap puisi-puisi kehidupan. Kau adalah guru yang akan selalu menyejarah.
            “Tuhan itu Mahabaik loh, Azure.” katamu selalu, “Dari-Nya, sebuah ujian bukanlah paksaan ataupun hal yang dipaksakan untuk  kita lalui.”
            Kuseka lagi air mataku. Ya. Tuhan itu baik untuk menyertakan TJ digaris takdir pembelajaranku.
            Akhirnya, tulisan ini tak akan pernah kau baca. Tapi setiap doa akan sampai, kan?
            Pergilah meraih Tuhan, kawan!
            Seperti pintamu, Semoga Ia memberi sedikit tempat disana. J
**
            Teman meninggal, dan mereka akan mencari kesempatan untuk meninggal sekali lagi di dalam tubuh kita.Tidak tahu apakah karena suara atau wajah mereka terlalu jelas terekam dalam ingatan, ataupun kita sudah tidak begitu lagi teringat mereka, dan seakan-akan lupa mereka tiada. –TJ
            Dan kesempatan kali ini dan esok hari adalah belajar diantara kenangan baik tentangmu dan kebijakasanaan untuk terus berjalan benar, agar tidak ada jeda untuk seorang TJ meninggal satu kali lagi di dalam tubuh AzureAzalea. Bukannya di pemakaman nyata yang sama.
***
Izinkan kuangkat lagi puisi kecil ini dihadapan seluruh pasang mata yang membaca, biar turut menghadirkan tenaga kebesaran jiwamu yang pernah diabadikan, agar doa semakin banyak mengantarmu bermesra denganNya.


Nyanyian Dewi Damara : Sebuah puisi Penutup Topi Jerami



Semenjak dirimu melangkah ke barat

ke jalan p..a..n..j..a..n..g matahari



                   aku tak lengah meniup musim

          menata namamu satu-satu

pada daun-daun kayu kentang

jari-jemari tuan yang turun

                   berayun

          berpelukan semangkuk janji



tak lagi tunai

tak pernah penuh kita selesaikan



aku menggesek putik-putik bunga

nyanyian nada-nada kecilmu

                   ~desaku yang kucinta

                             pujaan hatiku

                   tempat ayah dan bunda

                   dan handai tolanku ~



barangkali semilirku tak lagi setanggung

kaki-kaki pepohonan miranti dan binuang

namun kelak kambiumku tersampaikan jua

kekal membaca helai-helai daun rambutmu

kembali tuk kembali mengeja lagi

                             kaf ha ya ain shod

                   -ha mim ain sin kaf





; dewi damara : Dewi kesuburan dalam mitologi Inggris kuno

***



-Salam Perpisahan dari anak kecil yang coba menulis langit, untuk guru pecinta kata yang penuh kesederhanaan.
Innalillahi wa  inna ilaihi Rojiun...

You Might Also Like

0 komentar

Say something!

Subscribe