Senyum yang Tertahan

April 08, 2012




Ada senyum tertahan dengan tanya-tanya tak berucap
Mengeja prasangka yang banyak tak terkendali pada manusia
Dan itu tak pernah melelahkan.
Sulit memahami tatapanmu padaku.
dengan kata-kata yang tidak terbahasakan,
dengan isyarat yang tak mengudara.

Sering.
Tidak. Bahkan tiap kali berjumpa.
Ingin sekali membagi senyum sebanyak yang kupunya
Ingin sekali menyapa lalu berbincang renyah
Kadang seperti teman-teman lainnya
tertawa-tawa bersamamu serupa sahabat dekat.
Tapi sebelum rasa sampai ke ujung bibir,
ada riak yang tertahan di Unconsious mind.
Apa aku terlalu angkuh di matamu?
Tidak apa-apa.
Itu baik, bukan?

Ada senyum tertahan yang mengapung di kedua bola mata
Entah sempatkah engkau membaca keraguan dan sejuta gelisah
Bukan. Bukan artinya kau bunga-bunga yang memekar di hati selayaknya sejoli
Tapi begitulah system nilai yang mengakar dalam budaya yang menyusui kita,
agar selalu beramah-ramah.
Kau tahu, untukku, menahan meski hanya sebaris senyum untukmu
itu menggerahkan.
Tapi aku selalu bersyukur setiap kali berhasil melakukannya.

Ada senyum tertahan yang menggedor otot-otot wajahku dengan kencang.
Menghardik dan mendesak.
Tapi percayakah? ihsan itu selalu menolong jiwa.

Ada senyum tertahan yang tak sempat merupa
Dan kuharap selalu tertahan disana.
Kau tahu, sering diam-diam aku berterima kasih karena kau juga begitu
Dingin dan cukup gengsi melebur ke-kamu-anmu untuk sekadar
mencipta sesimpul senyum dihadapan dua pasang mata karatku..
karena mengacuhkan senyum orang lain itu adalah sakit yang lain.

Ada senyum tertahan yang mengesankanku munafik.
Kata mereka, pada jejaring maya aku tampak baik
Ya. Itu beda. Imajinasi pria memang cukup jauh kelananya melukis rupa-rupa.
Tapi rekam wajah akan selalu memberi arti tegas.
Dan akan dipotret sebagai gambar permanen.
Meski tidaklah benar untuk menjadi begitu longgar disini.

Ada senyum tertahan yang tak sempat menyampaikanmu maksudku.
Menanyakan kabar tawar-menawar kita kemarin.
Juga janji yang belum sempat ditagih.
“Ah. Itu salahmu. Sok Eksklusif sih?” kata seorang kawan
Tapi diatas segala-galanya, kepentingan hati selalu menjadi utama.
Tak tahukah kau seperti apa aku dulu?
Terlalu ramah adalah teguran yang tak pernah bosan mampir di telinga.
Tidak jugakah kau tahu sudah sekian banyak kesalahpahaman yang kucipta pada banyak lelaki?
Lagi-lagi. Sensitivitas pria mungkin memang lebih tinggi terhadap yang indah-indah.
Ah, tidak. Mungkin lebih tepatnya sangat tanggap dan ekspresif terhadap itu semua.

Mungkin mudah bagimu yang selalu berada pada zona nyamannya interaksi.
Atau kebetulan besar dengan sikap yang netral, Untung-untung cool, untuk berkata betapa berlebihannya aku memaknai satu garis senyum lima detikku.
Itu mungkin hanya karena tak kau tahu sekian pengalaman samaku terhadap pembenaran-pembenaran serupa kau saat ini.
Dulu. Sebelum ini.

Untuk alasan atau justifikasi apapun itu.
Membuka satu pintu sudah cukup mengizinkan naluri-naluri jahat menjadi tamu yang meraja.

Memang ada senyum yang tertahan disini.
Itu tak perlu menjadi urusan persepsimu.
Tapi itu juga hak.
Hanya saja, kelak waktu akan membuka satu-satu maksud kita.
Juga menutur semua alasan.
Karena mengusahakan yang terbaik adalah bagian dari pekerjaan yang harus selalu kita perjuangkan.
Dan memilih itu juga tak sebatas perintah naluriah.
Tapi biar kukatakan,
“Kau adalah jelmaan yang berhak untuk kebaikan. Tapi aku masih menyayangi hatiku dan hatimu untuk berusaha begini.

KAU itu adalah ‘kalian semua wahai ikhwan’.



_Azuza S. Moarum_

You Might Also Like

3 komentar

  1. Aku terlalu suka dengan ini,
    indah.
    Satu kata saja
    Indah.

    BalasHapus
  2. ^_^ Jazakillahu khairan katsiran ukhty.. ^_^

    BalasHapus
  3. Subhanallah.. Ini bagus sekali.. Izin share ya ukhty?

    BalasHapus

Say something!

Subscribe