Satu lagi tentang : Apalah Arti Sebuah Nama

April 21, 2012




            Agenda hari ini adalah Bedah Buku di Gedung Training Center UIN Alauddin Makassar. Kali ini tiket sudah ditangan. Seperti biasa, mengantri adalah prosesi yang harus dijalani sebelum duduk manis di ruangan. Tak terkecualikan untukku dan saudari kecintaanku, Ami.
            Saat baru memasuki pintu ruangan, seorang akhwat dengan wajah sangat kuhafal lebih dulu menyambutku dengan antusias yang tergurat jelas. Ah, ini masalahnya. Aku lupa. Benar-benar lupa dimana pernah mengenal gadis ini, lebih-lebih mengingat namanya. Dengan cepat kupaksa otakku berputar. Kesalnya, upayaku nihil.
            Aku menyambut tangannya yang sepaket dengan cipika-cipiki  ala ikhwah saat bertemu. Tak lupa dengan sesemat senyum termanis yang kupunya. Tanpa dosa bertanya, “Apa kabar?”. Tanpa nama, tanpa ‘ukhty’, tanpa ‘dik’, tanpa ‘kak’. Karena aku juga tak ingat sebayakah, diatas atau dibawaku kah usianya. Ah, berdosa rasanya.
            Kulihat ia tetap tersenyum hangat menjawab pertanyaanku dan langsung menggiringku memilih kursi paling depan. Rasanya bahagia tak terkira. Aku paling hobi duduk di baris terdepan. Tertebak. Ya. Aku visual. Paling mumet jika ada yang menghalangi pandanganku dari pembicara.
            Belum semenit, seorang akhwat berjilbab putih menghampiri. Dengan sangat anggun langsung meraih tanganku, “Assalamu alaikum, Dik..”. Aduh!. Lagi-lagi. Kenapa aku bisa menjadi begitu pelupa. Siapa ini?. Dimana aku pernah mengenalnya?. Beruntungnya aku masih terselamatkan dengan kata “dik”-nya. Yang berarti cukup aku membalas dengan sapaan ‘kak’. Lagi kemudian lagi, jurus senyum antusiasku satu-satunya pilihan untuk menutupi kecanggungan. Aku menepuk jidat.
            Dan ini tidak berlangsung dua-tiga kali. Setelah ini masih ada beberapa orang lagi yang tak ketinggalan menyapa. Tebak? Cuma satu orang yang separuh daya bisa kuingat namanya. Aku hanya tak menyangka. Kukira disini tak ada yang akan mengenalku. Karena ini bukan daerah yang sering kujangkau.
            Bukannya sok terkenal yah. Hanya saja, mungkin benar kata Ami, aku cukup rajin mengikuti pelatihan-pelatihan, dan juga sering ke-PeDe-an kenalan. Tapi, pelupa-ku sungguh akut.
            Aku teringat kata seorang kawan di FKM kemarin saat lagi-lagi lupa membawa novel yang dipinjamnya dariku sejak setengah tahun yang lalu.
            “Maaf Fiqah,” katanya melas. Aku yang seperti biasa always stay cool dengan kalimat ‘tak apa’ku harus malah ikut tertegur,
            “Aduh. Kata orang, Lupa itu artinya tak peduli, Fiqah.” Dan dia meminta maaf sekali lagi.
            Aku menunduk lama di dudukanku. Terus mengutuk. Bagiku, disaat-saat seperti ini slogan ‘Apalah Arti Sebuah Nama’ itu tak berlaku. Mengingat nama saudara kita, kata seorang Ustadz suatu ketika, juga merupakan akhlak. Rasulullah SAW selalu mengingat nama sahabat-sahabatnya dengan baik. Bahkan orang-orang yang baru sekali-dua kali beliau temui. Hingga sering sahabat-sahabat beliau terheran-heran, bagaimana bisa Rasulullah menghafalkan nama orang-orang disekitarnya yang tak terhitung jumlahnya dengan  sangat lengkap. Dan itulah salah satu hal yang membuat beliau spesial di hati orang-orang.
            Ah, aku sering ingin menangis tiap kali bertemu sahabat yang bagiku ajaib masih mengingat namaku hanya dalam satu kali tatap muka di seminar atau event lainnnya. Karena terkadang nama adalah penghargaan tertinggi diatas semua kata termanis sekalipun bagi seseorang. Begitu yang selalu kurasakan. Dan aku hingga kini tak bisa melakukan hal serupa. Bukan disengaja tak peduli. Memang aku harus mengakui kalau aku perlu terapi lebih dalam hal mengingat.
            Bagaimanapun tak mungkin memaklumkan semua orang yang ditemui hanya dengan kalimat, “Mengertilah, Aku pelupa.” karena itu sungguh tak menyenangkan. Berbincang lama dan hangat, lalu ujung-ujungnya rusak dengan tanya kecil, “Afwan. Siapa lagi nama anti?”.
            Kawan, nama itu penting. Nama dan salam sudah selalu cukup menjadi hadiah termanis dalam setiap jumpa singkat kita. Don’t be like me.


_Rafiqah Ulfah Masbah_

You Might Also Like

0 komentar

Say something!

Subscribe