Mengenang Topi Jerami dalam 7 hari menyatunya jari-jari emas itu dengan tanah

April 13, 2012



“Bila sudah disana TJ masih boleh menulis kan Tuhan?”
Aku mengingat dengan jelas kalimat tanya itu dalam sebuah status suatu hari. Ya. Bukannya pertama kali isyarat itu ia abadikan dengan baik. Dan bukan juga untuk pertama kali aku kehilangannya.
Topi Jerami. Lebih akrab ia, aku, dan sahabat lainnya memanggil dirinya TJ. Tanpa sebuah nama yang bisa membuatku yakin apakah dia adalah sosok yang kukenal, ataukah sebuah rupa yang bisa kuingat.
“Biar cukup Tuhan yang tahu. Saya bukan siapa-siapa. Cukuplah mampir dan belajar dari penulis semacam anda, Sist.” katanya suatu ketika saat kutanya lebih serius.
Ya. Tak tahu. Tak pula jelas siapa, bagaimana, dan seperti apakah sosok guru yang kukagumi sejak sekian tahun lalu. Tapi benar katanya, Tidaklah penting siapa dia, tidak lagi menjadi penting untuk terkaan-terkaan tak berkesudahanku selama ini. Aku hanya benar-benar sedang merasai kehilangan mendalam yang membuat kantukku tertahan semalaman.
“Mengapa harus menangis,” katanya di momen penanda pertama kali saat terang aku menangisinya, “bukankah kehidupan yang lebih hijau ada setelah kita tiada dan kembali untuk ada, lebih kekal dan lebih indah bersama dengan yang Maha indah?”
Jum’at, 06 April 2012
Tuhan menjawab sudah panggilanmu.
Ini bukan lagi dustanya firasat.
Apakah sudah terlalu lelah?
Mungkin tidak. Hidup ini tidak melelahkan, lebih tepatnya mungkin sesuatu yang kau cicip dengan betul-betul bahagia.
Benarkah tak lagi ada jeda panjang untuk merebahkan mataku diantara bait-bait puismui yang harus kumaknai dengan tertatih-tatih?
Aku tak pandai memaknai kata sepertimu yang kutahu menjadi perenungan panjang diantara hidup dan kematian.
Tidak lagi ada sore kemerah-merahan dimana kau bisa melihat langit menyorakimu dengan gembira. Bahwa istirahat hari ini akan tetap menyenangkan.
Tak lagi ada malam tempatmu memintal harapan bersama bebintang yang tak habis kau hitung sampai lelap setiap harinya.
Dan juga bagiku,
Seperti hari-hari girang setiap kali masih mendapati kata-katamu berirama di beranda facebook.
Haruskah kemarin menjadi Esai terakhir yang memuat “aku”, yang sangat akrab kau panggil “si penulis Azure Azalea” dijajaran nama-nama Chairil Anwar, GM, Rendra, dan Sapardi?
Aku membacanya lagi dan nyaris ingin berteriak.
Aku tahu aku tak pernah menjadi dewasa.
Kutemukan cacat terbesarnya karya-karyaku dalam untaian pujianmu yang sangat banyak hari ini.
Aku bahkan tak pernah sempat banyak bertanya
Karena selalu kehilangan keberanian
Tapi selayaknya sahabat, kau mengajarkanku bijaksana dengan sedikit-sedikit dan sabar.
Bukankah aku pernah berjanji untuk tak pernah berhenti belajar?.
Dan kau bertanya dengan hati-hati makna dari kata belajar yang selalu kukambing hitamkan sebagai jawaban atas apa yang kadang aku sendiri tak pernah ingin tahu
Dan seperti biasa. Aku diam seribu bahasa.
Lalu kau menitip senyum lewat simbol dengan sepenggal kalimat-kalimat sederhana yang berbeda. Dan percakapan akan selalu berakhir demikian.
Aku menangis terisak-isak bukannya karena belum sempat mendapat jawaban apa-apa lantas kau begitu saja tiada.
Aku hanya kehilangan seseorang yang untuk pertama kalinya dalam hidupku kukatakan, “AKU MENEMUKAN SEORANG PENULIS SEJATI YANG NYATA.”
***
            Subuh menemuiku dengan megah. Berharap menemukan lukisan tanganmu dari atas sana, pada awan-awan yang menggantung air mata. Kau selalu bisa menulis dimanapun berada. Dan setiap goresanmu mengabadi, TJ. Bukan aku atau kami. Karena engkaulah sejatinya pecinta kata yang budiman. Ya, Tuhan tahu. Tuhan pasti sangat menyayangimu. Inilah waktu beristirahat dari semua jemu. Dunia kita hari ini makin terbakar, usah lagi kau memenuhi kepalamu dengan semua sampah dari Rumah paling tinggi sampai jalan-jalan yang biasa menjadi tempatmu pulang melelapkan hati. Di Bantimurung, Jembatan Layang, Losari dan puncak Gunung Bawakaraeng masih menyimpan semua rekam ceritamu. Mereka selalu siap mendongengkan kembali kisah kearifanmu dalam tidur panjang. Dengarlah dari sana, semua kata gelisah mencari jari-jarimu untuk kembali dirajut. Kemarin langit yang warna-warnanya tak pernah bosan menjadi latar puisi-puisimu sedang mengering. Air matanya habis memandikan ruhmu, TJ.
            Ini April yang abu-abu. Untuk dua kehilangan yang beruntun. Izinkan aku menyembahyangi mu dari kata-kata yang tak rapi ini dikediaman sunyi. 

Sebuah langkah tidak hanya akan berhenti sampai disini,
Karena didepan sana masih banyak jalan yang harus kitalewati,
Tapi percayalah, dengan sebuah keyakinan yang sepenuhnya,
Apapun itu akan slalu menjadi indah diakhir cerita dalam setiap perjalanan kita masing-masing,
Karena seperti kata seorang sahabat
Hari ini indah dan esok juga akan indah kawan.

_Status terakhir Topi Jerami, 02 April 2012_


Salam perpisahan ini cukup menyalamiku dengan anggun. Setidaknya kau tak pergi begitu saja. Kau masih sempat menjengukku dengan kalimat kesayanganku diakhir paragraf penutup itu.
            Terimakasih TJ. Untuk ke 42 kalinya. Lagi-lagi Terima kasih atas semua inspirasi, atas semua kebijaksanaan, untuk seluruh kebaikan. Apakah lagi yang harus kukatakan?, rasanya ingin marah, Siapa suruh kau bilang ingin ditikam lebih dalam biar lekas berkelana dalam hidup yang tak lagi mati. Tapi, tidak. Sejatinya memang itulah yang benar-benar kau rindukan.

Selamat jalan sahabat, guru, kakak ..
Surga sedang riuh menunggu kehadiranmu...
Dan semoga Allah SWT mengganjar dengan sebaik-baiknya balasan.

 Biar kukatakan :
Dunia sastra pasti kehilangan penggiat sejatinya.
Seperti sebuah ulasan yang kau buat untuk memuji seorang kawan,
Apapun ciri bertutur dalam puisi yang kita kenal, bentuk narasikah, absurbkah,realiskah, sureliskah, mbelingkah,liriskah, dengan ragam topologikah dll. maka  kukira yang mengandung unsur  kontemplatif / mengajak pembaca merenunglah yang selalu berada di puncak-puncak legenda sastra kita. Dunia kata-kata dalam puisi tanpa pusaran renungan di dalamnya bakal menguap kembali ke kitab induk di langit sana baik sejak ia mula dilahirkan atau beberapa waktu kemudian.”
Dan itulah kenapa, Bagiku Topi Jerami adalah penyair ‘timur’ terbaik generasi ini.

***

Ah, bagaimana bisa kau menitipiku pesan terakhir untuk belajar tertawa dengan benar disaat harusnya aku diizinkan menangis. T_T
**Semoga benar-benar masih bisa bersua diwaktu & tempat yang lebih indah TJ.



Jum’at-13 April 2012
Ya. Hari ini indah, Esok juga indah.
Harus terus berjalan!

You Might Also Like

0 komentar

Say something!

Subscribe