Mengeja Kehilangan

April 01, 2012




        "Terang matahari sinarlah
        Burung berkicau ramailah
        Mari kita nyanyi bersuka ria."

         Itu masih tergambar dengan jelas.
         Sebuah lagu yang kata ibu merupakan lagu yang cukup populer di masa-masa kemerdekan dulu. Meski entah kebenarannya.

         Dengan suara yang sedikit serak, Puang, begitu aku dan kami semua memanggil Kakek, ayah dari ibuku, sangat senang menyanyikan lagu ini dulu, seingatku saat Puang masih sangat kuat meski sudah 70 tahun lebih, dengan kipas rotannya, tanpa baju kecuali sarung, duduk di samping pintu. Sangat damai. Sangat sehat.
          Tapi begitulah waktu. Penyakit itu bernama "masa tua". Puang mulai sering sakit-sakitan. Pernah stroke. Tetapi beliau adalah satu dari sedikit orang yang dokter bilang mendapat mu'jizat ketika itu. Semanga beliau luar biasa. Tapi kembali lagi, waktu yang selalu memaksa fisiknya melemah.


*Mare, 02 Januari 2012

         Pertama kali tiba, kucari tangannya untuk menyampai kerinduan. Saat kusadar betapa ia makin payah, hanya tulang yang terbungkus kulit, kerut yg menggelayut, mata kaca, dengan suara yang terbata.
         "Iga iko?", "Kamu siapa?" tanyanya lemah. Mataku panas. Tentu sudah tak beliau ingat wajah anak-cucu-nya satu-satu.
         "Ini Fiqah, Puang." jawabku dengan suara getar. Aku memeluk tubuh ringkih itu dengan hati berdarah-darah. Tuhan, Ramadhan lalu ia bahkan masih bisa bernyanyi.

*Ahad, 01 April 2012, 00.14 WITA

          Aku masih gelisah, mencoba memaksakan mata terkatup, kudengar dari luar kamar, ibu masih juga terjaga dan beres-beres rumah. Tak lama kemudian pintuku diketuk dengan tempo cepat. Suara ibu serak memaksa menyampaikan,
          "Fiqah, meninggal Puang, Nak. Meninggal Puang."
          Dengan fikiran yang mengambang antara sadar dan tak sadar segera kuangkat tubuhku dan meraih gagang pintu. Ya, wajah ibu sudah merah, basah. Tuhan, ku harap ini hanya permainan tradisi konyol. Kuharap seseorang lalu tertawa padaku dan berteriak,
          "April Mop!!" (atau seperti apapun tulisan dan namanya). Tapi siapa yang sebodoh itu melakukannya dalam keluargaku?. Itu muyskil!. Aku terisak dalam sambil memeluk ibu. Kurasa bahunya berguncang kuat.
         "Bereskan pakaianmu, Nak. Besok pagi kita pulang ke Mare."
         Tanpa ba-bi-bu aku menyambar koper baju, mengeluarkan pakaian apa saja yang bisa kujangkau dari lemari. Pikiranku kacau. Aku hanya bisa menangis dan menangis pedih.
         Puang. Ini adalah kehilangan yang lain. Beda, ketika ayah pergi saat masih kelas lima SD dulu, juga nenek, tepat dihari ulang tahunku setahun berikutnya. Pedih ini beda. Beda. Dulu aku belum bisa mengeja sebuah kehilangan. Masih cukup kecil rasanya untuk memahami kata sayang dan pelukan. Tapi Puang adalah sosok yang mengilhami sebuah kehidupan yang menakjubkan.
          Aku adalah cucu kandung tertua puang. Aku biasa menyaksikan Puang menikahkan sepupu-sepupuku dulu. Selalu kubilang, kalau aku menikah nanti aku ingin puang yang menikahkanku. Setidaknya aku sangat berharap puang bisa melihatku menikah sebelum kepergiannya. Tapi pupus.
          Ada sesuatu yang dari Puang lah aku tersadar dalam. Ada satu nama yang selalu dipanggilnya, selalu diingatnya, dan selalunya menjadi cerita tak berkesuduhan setiap kali kami bicara. Ini tentang Ibu. Saat Puang sakit, Puang selalu bercerita betapa sayangnya beliau pada Ibu. Betapa besar sosok seorang Ibu beejuang demi Puang dan adik-adiknya. Dan memang tak ada yang lebih telaten mengurusi Puang selain Ibu. Aku tahu betul hal itu. Ibu mengambil peranan besar saat nenek meninggal diusia yang masih sangat kecil, Lalu mengambil peranan Ayah membesarkan aku dan adik-adik karena ditinggal saat kami juga masih kecil-kecil. Tak mudah menjadi Ibu. Dan aku selalu berpikir apa kelak ibu juga akan merasa atau mengungkap hal serupa dari putri sulungnya ini?, bukannya keluh bahwa aku hanyalah beban yang tiada pernah menjadi akhir. Ah, sudahlah.
          Puang. Ini.yang terpenting tentangnya. SEMANGAT dan KETELATENAN. Jika ada yang bertanya padaku kemana aku mencari guru. Aku berguru padanya. Pertama kali aku belajar menyayangi keluarga. Pertama kali bisa membanggakan diri sendiri. Pertama kali membangun keharusan berjuang. Dan pertama kali sadar tentang arti ibuku yang dulu selalu jauh.

***
          Tak mengherankan begitu banyak yang mengantar kepergiaanya. Siang ini, Kurasa beliau sedang menatap kami satu-satu. Kuharap sedang menyanyikan kembali lagunya disisi pintu :
          "Mari kita nyanyi bersuka ria..."


#Semoga Allah menerima seluruh amal perbuatan. Mengampuni segala dosa. Dan memberi tempat terbaik disisiNya.



-Mare, 01 April 2012, 14:30 WITA
_Rafiqah Ulfah Masbah_

You Might Also Like

0 komentar

Say something!

Subscribe