Bukan tentang Diberi atau Tidak, Ini Tentang Bagaimana Ia Memberi

April 08, 2012




            Banyak orang yang terlalu takut gagal dalam kehidupannya. Tidak sedikit orang yang tak pernah puas dengan apa yang ia punya. Tak jarang juga diantaranya itulah yang menjadi penghalal segala cara. Yang tak pelak kebanyakan dari merekalah yang mengotori makna suci proses penemuan karunia Ilahi.
            Ya. Kadang kita terlampau mencemaskan masa depan kita secara berlebihan. Yang tak tertangani dengan baik hingga rasa itu menjurus menjadi negatif. Bukankah banyak orang yang kaya di dunia ini namun hidupnya menderita?. Bukankah banyak petinggi-petinggi di negeri ini yang memiliki ranjang mewah tapi tak mampu tidur dengan damai dibawah selimutnya?. Bukankah sangat banyak pelaku-pelaku pacaran diluar sana yang kemudian kecewa dengan pilihannya padahal dahulu tak pernah lepas dari doanya agar Allah mempersatukan mereka?. Bukankah banyak hal manis yang pada akhirnya terasa pahit ketika sampai dikerongkongan?. Bukankah dan bukankah... memang tidak sedikit yang demikan... Karena terkadang bukan soal diberi atau tidak, tapi bagaimana Ia memberikannya.
            Dalam buku Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan, Salim A. Fillah pernah mengingatkan, oleh sebab sikap yang tidak benar, tidak menginsyafi siapa Allah siapa kita, Allah memberikan karuniaNya dengan cara berbeda. Setahu kita, kita diberi sesuai keinginan kita. Ternyata, Allah memberikannya bukan dengan uluran lembut penuh keridhaan, tapi dilempar ke wajah kita dengan penuh amarah dan laknat, “Nih ambil! Terserah mau jungkir, mau nyungsep, ambil aja!” Astaghfirullaahal ‘Adhiiim, Na’udzu billaahi min dzalik...
            Ya. Bukan tentang diberi atau tidak, ini tentang bagaimana Ia memberi. Bukankah jika Allah telah menetapkan sesuatu hal itu sebagai hak kita. Bagaimanapun itu Ia akan memberikannya?. Persoalan jalan apa yang kita pilih untuk sampai pada hal tersebut. Persoalan akhir apa yang kita mimpikan dari Allah untuk kita nantinya. Ya. Persoalan pilihan. Dimana kita memahami, pilihan tak ada sejarahnya tak seiring sejalan dengan niat diawal, di proses dan akhirnya. Karena ini bukan tentang diberi atau tidak saudaraku, tapi bagaimana Ia memberi....

You Might Also Like

0 komentar

Say something!

Subscribe