Antara Cinta dan Kepentingan

April 21, 2012



            Dalam Bedah Buku Mutiara yang Telah Tiada di Training Center UIN Alauddin kemarin, Ibu Dra. St Saymsudduha, M.Pd sebagai salah satu Pembicara mengangkat sebuah kisah yang saya kira cukup menarik. Dan judul kisahnya pun saya culik langsung sebagai judul dalam tulisan saya kali ini. Dalam redaksi saya sendiri kira-kira begini kisahnya,
            Katakanlah seorang pria ini bernama Fulan. Fulan adalah saudagar yang kaya. Suatu ketika ia sedang berada pada pelayaran menuju suatu daerah untuk berdagang. Tanpa diduga cuaca yang cerah mendadak berbalik 270° (penggunaan 360° agaknya terlalu hiperbolik, hihi ^). Badai mengguncang perahunya dengan keras, Fulan terhempas kelautan dan nyaris tenggelam, disaat itulah kemudian ia berdoa kepada Allah,
            “Ya Allah, tolonglah aku dari badai ini dan bantu aku agar tak mati tenggelam di tengah lautan seperti ini. Aku berjanji akan menyedekahkan seluruh ternakku kepada fakir miskin jika Engaku menolongku, Rabb.”
            Allah mengabulkan permohonannya. Badai reda dan ia selamat dari maut karena menemukan pecahan kapalnya untuk bersanggah. Meski demikian, ia masih terlontang-lantung di tengah lautan tanpa seorang pun yang bisa  dimintai tolong, Maka berdoalah si Fulan kepada Allah lagi,
            “Ya Allah, bagaimana aku bisa menuntaskan hajatku jika masih berada dalam ketidaktentuan nasib seperti ini. Tolonglah aku agar bisa kembali kedaratan, Ya Allah. Kumohon padaMu. Aku berjanji setelah ini aku bahkan akan menyedekahkan setengah dari harta kekayaanku kepada fakir-miskin. Tolonglah hambamu yang tak berdaya ini, Rabb.”
            Maka Allah SWT pun lagi-lagi mengabulkan doa si Fulan. Sebuah kapal lain mendapati keberadaannya dan ia diselamatkan dari sana.
            Akhirnya sampailah Fulan didaratan dengan selamat meski seluruh perbendaharaan yang dimilikinya lenyap karena badai sebelumnya. Fulan mengerjap lega dan membatin, Ia sudah berjanji akan menyedekahkan separuh hartanya namun barang-barang bawaannya lenyap semua, itu bahkan sudah hampir separuh dari apa yang ia miliki. Maka muncullah keurungan untuk menjalankan nazar tersebut.
            Tak lama kemudian sebuah angin kencang tiba-tiba menyapu dirinya. Si Fulan lalu berteriak keras sembari memelas.
            “Ya Allah... TOLONG URUSAN DI LAUT JANGAN KAU BAWA-BAWA DI DARAT!!”
***
            Mungkin anda tertawa atau setidaknya  tersenyum kecil membaca cerita di atas. Tak lain mungkin karena sedikit mengena sebagian kebaiasaan atau bahwa sering kali kita menjelma sebagai seorang pedagang kotor dihadapan Allah SWT. Kita menjadikan hidup ini sebagai panggung transaksi tawar menawar sesuai kepentingan kita.
            Kita berdoa dan beribadah saat kita perlu. Kita pandai sekali membuat janji setelah ini, setelah itu, jika begini dan jika begitu. Sementara setelah semua kita dapatkan, mendadak kita seolah kehilangan sebagian ingatan bahwa kita pernah berjanji atau kadang tertahan karena selalu merasa tak cukup. Terang saja tak pernah cukup, karena peningkatan pendapatan kita diperbandingluruskan dengan penambahan daftar kebutuhan sekunder yang dialihkan menjadi kebutuhan primer.
            Kalau kata teman saya, “Bukan tak ada kesempatan. Tapi kita yang tidak menyempatkan.”. Dalam redaksi saya, “Bukannya tak ada kemampuan. Kita yang tidak memampukan diri kita sendiri untuk berbuat baik sebanyak-banyaknya. Bersedekah sebanyak-banyaknya, beribadah sebanyak-banyaknya.”
            Kita terlalu termakan dengan stigma politik yang akut dalam otak kita. Kepada Tuhan menjadi penuh perhitungan. Lalu dengan begitu anggunnya kita selalu mengaku-aku diri kita cinta kepada-Nya. Sejak kapan definisi cinta tanpa pamrih yang diagung-agungkan dihadapan manusia itu lengser saat kita berhadapan dengan Allah SWT ?. Rabb dimana semua cinta bermuara. Zat yang harusnya menjadi hakikat teragung dan tertinggi dari cinta. Ya, Antara cinta dan kepentingan. Mari merenung, Sahabat.

You Might Also Like

0 komentar

Say something!

Subscribe