Dalam Perjalanan

Maret 21, 2012



Rabu, 14.12 WITA.


         Mata.
         Sejak tadi bermusuh gaya gravitasi. Tarik-menarik dan harus memaksa otot-ototku berkontraksi. Kita harus pulang. Itu saja.
         Deras!.
         Memutuskan melaju diantara jarum-jarum bening yang sejak kemarin terus begitu. Melukai pori-pori.
         Kubangan.
         Jalan itu tepat di depan Pondok Madinah. Membiarkan genangan kotor bergerai memancur dari sepeda-sepeda motor ke wajahku berkali-kali. Meski tak ingin mencaci. Kesal sedikit.
         Angin kencang.
         Pohon-pohon menari seirama hujan... Kesah ini lagunya.

         Ini tentang Jalan.
         Demonstrasi.
         Harus menjadi pelengkap diantara keram kakiku, pegal bahuku, dan ronta lambung. Ini sama sekali tak indah. Hitam-hitam. Mereka tidak mengerti. Aku  tidak membenci demostrasi. Mereka yang membuat ibu, tetangga-tetangga, juga tetua-tetua harus menjadikan demonstrasi kambing hitam. Serupa racun yang menyentuhnya pun terlarang. Begitu juga aku, kukira.
         Macet.
         Ini cerita tak berkesudahan. Ah, Makassar. Kata kawan itu kisah yang selalu tertulis, “bersambung”.

         Sore dan Ungu.

         Maafkan aku tak menyapamu kali ini, Guru.
         Aku tak sedang membuat baris-baris kemunafikan.

         Aku benar tak bisa.
                  Ada saatnya kita bermesra.
                  Izinkan saja kali ini seluruh alam bersembahyang.
         AKU PULANG!.
                                                                   ***


17.30 WITA (Setelah sempat memimpikan malam)

#Azuza S. Moarum

You Might Also Like

0 komentar

Say something!

Subscribe