Mungkin Doa yang bukan Hak

Februari 03, 2012



Tiap hari mengharap Tuhan menyampaikan pada momen itu,
Kita duduk bersila menatap langit bersama
Saling bercerita tentang impian dan masa depan
HAnya ada senyuman dan kebahagiaan
Dan engkau berkata tulus,
"Jadilah yang engkau mau. 
Kejar semua mimpi dengan teguh
Selama dalam kebaikan, aku mendukungmu.
Dan jika kau rasa lelah,
datanglah kemari
dalam pelukanku dan ungkapkan semuanya.
Tidak apa-apa"

Apa mungkin boleh ?
Atau entah kapan.
Karena kau tak pernah disini,
disampingku,
bahkan meski sejenak menghapus air mataku.

Kau tak pernah disana
kemarin-kemarin
saat aku bersipayah 
terlempar-lempar mencari jalan hidup.

Apa kau tahu rasanya sendiri ?
Tentu.
Karena kita sama merasainya
diantara jurang keterasingan
belasan tahun yang terlanjur melebar.

Lalu sekarang semua telunjuk teracung di depan mataku.
Kau menangis, dan aku juga menangis.
Bedanya, tak ada yang menanyai hatiku.
Apakah harus lagi aku yang mengajari mereka  maupun itu kau
cara bertabayyun?
Tapi lagi-lagi aku dilirik anak kemarin sore yang tak tahu diri
mengambing hitamkan kajianku yang faktanya hanya sekali seminggu.

Coba sekarang katakan apa yang harus kulakukan diantara luka-luka kita ?
Dan tolonglah mengerti
karena sejak kecil aku tak pernah kau ajari
bagaimana harusnya menunjukkan kasih satu sama lain.

Aku tak berhak atas doaku,
tak jugakah berhak meminta kalian berpikir?

Aku terluka!
Apa kau, mereka, paham !?
sebelum kalian semua menjadikanku satu-satunya tersangka 
bersalah dalam drama kita?

Aku juga merindukan surga di rumah kita.
Menjadikannya sebenar-benar tempat pulang yang hangat.
Tapi aku mungkin tak berhak.
Lagi-lagi tak berhak.

_Rafiqah Ulfah MAsbah_

You Might Also Like

0 komentar

Say something!

Subscribe