“1”_Arloji_“9”

Januari 17, 2012



/1/
Dikau menamaiku “pendamping”,
Yang meski tanya tak sempat
mampir didaun telingamu
memekar serupa bunga makna
dilintasan suara.
Aku menebak.
Kurasa gadis ini ingin kau
sembahkan sebagai bukti kesetiaan.

/2/
Dikau menamaiku “sahabat”.
Yang meski tak sempat kita berjumpa dikelas kedewasaan
Kukira..
Mungkin itu yang engkau simpan.
Ingin kau tumbuhkan aku sebagai bukti kesetiaan.

/3/
Dihitungan ini
Para petanding biasanya sudah mulai pacu.
Engkau tegakkan namamu tepat di potongan ketiga.
Mendermagai titik terakhir sebut dan baca.

Aku sedang menyusuri warisan hari yang selalu kupakai.
Nama.
Ingin aku menjadi sahabat yang selalu mendampingimu, hai Priaku sayang.
Tapi angka-angka, seperti sahabatmu hari-hari
Tengahi rumus kali-kali.
1 dan 2
Kemudian 3.
“9”

Arloji /9/.
Sebuah pagi merah muda.
Tanpa kata sayang, tanpa ungkapan panjang.
Dan Arloji perak itu kau lingkarkan ditangan gadis kecil ini
yang kata orang masih mewarisi gula-gula wajahmu.

Arloji di kebeliaan usia.
Dan kini 9 menggandengkan satu angka didepannya, Pak.
Aku mahfum dihari-hari belakangan.
Nyatanya mungkin itu yang ingin kau sampaikan
Bahwa waktu akan sangat banyak mengejutkan.

Jarum-jarum arloji ini sudah berhenti berputar.
Mungkin lelah sekian kali mengitar bundarannya hari-hari.
Tapi kini aku belum berhenti.
angka masih berjalan, dan aku makin menua.
seperti purnama malu-malu yang mulai mau menyerupa purnama.

/19/
tahun usiaku kini.

tak menyimpan harapan  lebih besar selain bisa menjaga seterusnya warisan-warisan Bapak.
Terus menjadi sebaik-baik sahabat..
Pendamping  yang indah.
Dan terus terbit seperti hitam yang setia pada malam.
SETIA.
Sahabat pendampingmu di surgaNya Ayah....

#Rafiqah Ulfah Masbah#

Hey. Tapi tunggu.
Bukankah ada lain yang sedang kucari dengan arloji ini.
Separuh, Pak.
Separuhnya yang belum kumengerti.
/1/
tahun lagi..

^_^



_Azuza S. Moarum_

You Might Also Like

1 komentar

Say something!

Subscribe