1.2.3

Januari 15, 2012




1
    2
        3
Serupa menghitung  sebuah permulaan.
Kita mengeja anak-anak tangga dengan seribu helaan napas.
“Dan ini hanya harus kaulewati.” katamu.
Aku mengangguk.
Dan ikut berlarian bersama kilat.
Lalu meraung-raung sepersekian detik kemudian.
Meluruh bersama hujan.
Kering bersama waktu.
Itu.
Jika hanya sampai disitu.
Namun, setiap badai
hanyalah tenggang waktu yang pasti terputus.
“Ini hanya harus kau lewati, kawan...”
Itu Benar!
***

_Azuza S. Moarum_

You Might Also Like

0 komentar

Say something!

Subscribe