Tempatku Bercerita (Rumah Ayah)

Desember 08, 2011



Tanah ini tak berubah,
masih dijejeri ratusan nisan bertuliskan nama-nama.
Kuparkirkan motor tepat disisi jalan.
Burung-burung sejak tadi berkicau.
Angin berhembus tenang,
mengajak menari puluhan pohon asam disekeliling,
membawa lari satu-satu daun kering,
berjatuhan di atas kepalaku dan menyentuh pipiku dengan lembut.
Seperti sebuah sambutan...
Ini juga akan menjadi tempatku pulang.

Aku duduk ditempat yang sama
pada pekan-pekan aku menengokmu dengan rasa yang sama.
Berolehkan cerita-cerita yang berbeda
membawa wajah-wajah yang tak kau temui mungkin sebelumnya.
Jika bisa kukatakan,
ini adalah tempat yang paling kusukai didunia.

Ayah...
Pusaramu basah.
Kutahu belakangan ini hujan selalu turun di tanah kita.
aku biasa merasa dingin.
Kadang ditengah malam pun menggigil.
Dan rasa macam apa yang kau temui tiap hari?
Adakah juga ikut menangis, atau tetap tersenyum bersama matahari dibalik onggokan awan tebal?.
Sungguh aku tak tahu Ayah.
Engkau pernah berada di duniaku,
tapi aku belum pernah menziarahi duniamu.
Aku hanya mengerti satu hal,
kelak, aku juga akan pulang..
Entah kapan.
Namaku juga akan berdiri tegak,
Rafiqah Ulfah Masbah
lahir : 17 januari 1993
wafat : ........

Masih tanda tanya, Yah.
Allah tak pernah memberitahu kita kapan waktunya.

Dan itulah mengapa aku ingin menangis setiap kali.
Kadang pekuburan ini tak lebih kotor dari jiwa anakmu ini,
kadang banyak rasa membadai disini.

Sungguh, Yah.
Aku sungguh tak meminta Izrail pergi jauh-jauh.
Hanya ada dua hal yg selalu menggelisahkanku..
Jika waktuku datang..
(1)
bagaimana keadaan hatiku?
(2)
sudahkan aku berjalan dijalan yang benar semasa hidup?


Dan itu pertanyaan yang tak pernah berkesudahan, Yah.
Hari ini kembali dilema.

Ayah masih hafal wajah Bunda?
Ayah tentu hafal.
Itu adalah wajah yang begitu kau cinta.
Sebuah pahatan yang selalu menawan.
Disana ada mata yang berlambang kasih sayang,
ada lukisan senyum yang damaikan jiwa.
Sebuah guratan yang selalu indahkan, Yah?
Tentu saja. :-)
tak akan pernah ada yang rela menghadiahi mata itu embun.
Ayah, begitupun aku,
tentu tak pernah sudi memahat kecewa di wajah itu.

D
I
L
E
M
A


hari ini mesti kutumpahkan lagi air matanya.
Bukan untuk menyakiti,
tapi jalan ini terlalu terjal.
Anakmu ini semakin hari semakin memangku berat usia.
Dan ia harus terus berjalan.
Berjalan dengan benar.
Akhirnya pun aku harus berterus terang,
bahwa mungkin harus kuambil jalan lain,
yang tanahnya tak subur,
penuh dengan musim rusak.

Tentu saja ia akan menangis Ayah.
Tak rela anaknya disentuh kebengisan.
Tapi begitu aku harus hidup.
Tak boleh selalu tersenyum..
Aku paham, Yah.
Tapi bagaimana harus kukatakan padanya?


Aku selalu meleleh dihadapan wajah itu..

Yaaa....
Dunia ini memang bertabur pilihan besar..

Tapi apakah aku benar untuk yang satu ini, Yah?

Jika anakmu ingin hidup pada pilihannya,
pada cita-citanya...??
Tak sama dengan jalan orang kebanyakan


aku hanya ingin hidup sebagai seseorang.
Diatas restu Tuhan,
diatas restu kalian berdua.

Aku hanya ingin hidup dengan benar,
dan tersenyum kemudian,
meski berbaring dihimpit tanah..
Nisanku bisa kugambar senyum..
Seperti yang selalu kubuat...


Ah..
Sore ini mendung lagi..
Semoga badai ini segera berakhir...


Aku pulang dulu, Yah..
Aku belum makan siang,
dan bunda pasti baru pulang dari sekolah.
Mungkin lelah..
Aku harus kembali membantunya...

Esok,
atau lusa,
dan seperti pekan-pekan sebelumnya,
aku akan datang lagi Ayah..
Masih dengan motor Jupiter hitamku.
Atau mungkin keranda hijau.

:-)
hmm..
tak tahu.
Tapi biar kukatakan lagi...
Aku selalu merindukan Ayah..
Dan selalu cinta...

Wassalamu alaikum... :-)

You Might Also Like

3 komentar

  1. assalamu'alaikum.... tanah kita basah, mendung memang sedih, tapi hujan lbh sedih lagi... yang pasti setelah hujan, matahari akan kembali dengan bonus pelangi jika beruntung....

    postingannya sendu... Fiqah keifa haluki??? jln2 ke kos kuuu...:)

    BalasHapus
  2. alhamdulillah bikhoir ukh.. ^_^
    insyaAllah..
    tapi saya nda tahu kost-an ta dimana? :-)

    BalasHapus

Say something!

Subscribe