Senyum Perbedaan

Desember 30, 2011

(Disusun dari penggal-penggal kata buku Dalam Dekapan Ukhuwah)


“Ruh-ruh itu bagai pasukan yang dibariskan,
Jika mereka saling mengenal, maka bersepakatlah mereka.
Jika mereka saling merasa asing, berselisihlah mereka.”
HR. Bukhari

            Ada satu penanda penting yang menjadi nilai agung soal ruh-ruh yang diakrabkan iman. Mereka saling menghargai perbedaan. Mereka saling menghormati satu sama lain. Bagaimanapun merasa diri paling baik adalah tanah paling gersang dan lahan paling tandus bagi pohon iman kita, ungkap Salim A. Fillah mengibaratkan. Seiring itu, benih persaudaraan hampir mustahil bisa tumbuh disana. Merasa diri lebih baik dibanding yang lain adalah penghalang terbesar dalam menjalin hubungan baik dengan sesama.
            Bahkan yang mengerikan, seperti ditulis Imam Ahmad ibn Hanbal dalam Kitab Az-Zuhd, “Kami dahulu sepakat dan meyakini,” ujar beliau, “Seseorang yang menghina dan meremehkan sesosok mukmin sebab suatu dosa, sungguh takkan datang padanya kematian sebelum dia jatuh kedalam kemaksiatan dan dosa yang sama.”
            Ya. Maka tidak ada tempat untuk kesombongan dalam menyikapi perbedaan. Begitupula dalam menyampaikan kebaikan, menjadi pembawa kebenaran tak boleh hanya memedulikan soal mengatakan yang benar. Dia harus penuh perhatian untuk mengatakan yang benar, dengan cara yang indah, di saat yang paling tepat.
            Hikmah, inilah yang perlu kita pahami.
            Kita memiliki latar belakang yang berlainan. Maka tindak utama yang harus kita punya adalah; jangan mengukur orang dengan baju kita sendiri, atau baju milik tokoh lain lagi. Setiap manusia adalah tetap dirinya sendiri. Tak ada yang berhak memaksa sesamanya untuk menjadi sesiapa yang ada dalam angannya.
            Berilah nasehat tulus pada saudara yang sedang diberi amanah memimpin ummat. Tetapi jangan membebaninya dengan cara membandingkan dia terus menerus kepada ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz. Berilah nasehat pada saudara yang tengah diamanahi kekayaan. Tetapi jangan membebaninya dengan cara menyebut-nyebut kisah berinfaqnya ‘Abdurrahman ibn ‘Auf. Berilah nasehat pada saudara yang dianugerahi ilmu. Tapi jangan membuatnya merasa berat dengan menuntutnya agar menjadi Zaid ibn Tsabit yang menguasai Bahasa Ibrani dalam empat belas hari.
            Sungguh tidak bijak menuntut seseorang untuk menjadi orang lain di zaman yang sama, apalagi menggugatnya agar tepat menjadi tokoh lain pada masa yang berbeda.
            Segala kecemerlangan generasi Salaf memang ada untuk kita teladani. Tetapi caranya bukan dengan menuntut orang lain untuk berperilaku seperti halnya Abu Bakar, ‘Umar, dan ‘Utsman, atau ‘Ali. Fahamilah dalam-dalam tiap pribadi. Selebihnya jadikanlah diri kita sebagai orang yang paling berhak meneladani mereka. Tuntutlah diri untuk berperilaku sebagaimana para salafush shalih, dan sesudah itu tak perlu sakit hati jika kawan-kawan lain tak mengikuti.
            Sebab teladan yang masih menuntut sesama untuk juga menjadi teladan, akan kehilangan makna keteladanan itu sendiri. Maka jadilah kita teladan yang memahami bahwa masing-masing hati memiliki kecenderungannya, masing-masing badan memiliki pakaiannya, dan masing-masing kaki memiliki sepatunya. Teladan yang tak bersyarat dan sunyi akan membawa damai. Dalam damai pula keteladannya akan menajdi ikutan sepanjang masa.
Ya. Jika hujjah telah bertemu hujjah, tak boleh lagi ada hujat. Yang boleh ada ialah saling peluk mesra. Mereka para ruh yang diakrabkan iman saling memuji dengan tulus betapapun berlainannya pikiran dan pandangan.
“Kita saling bekerjasama, “ ujar Syaikh Muhammad Rasyid Ridha, “Dalam hal-hal yang kita sepakati. Dan kita saling menghormati, dalam hal-hal yang kita perselisihkan.”
Begitulah ruh-ruh yang diakrabkan iman...
+ + +

www.AzureAzalea.blogspot.com

You Might Also Like

0 komentar

Say something!

Subscribe