Sebuah Kisah yang Lahir dari Hujan

Desember 13, 2011




November ’95.
Siang ini padam. Matahari menutup wajah. Langit menumpah-numpahkan airnya tanpa peduli rengekan burung-burung. Jalan-jalan yang menjadi saksi beribu langkah yang entah kemana mengarah mulai tergenang. Sedikit-sedikit lengang. Hanya ada wajah-wajah penuh harap agar pemandangan tak lagi kabut. Ya, hujan selalu penuh prahara. Orang-orang memanggilnya tak bersahabat. Tapi untuk seseorang yang menemaniku ditengah jarum-jarum angkasa ini, Hujan adalah musim kesayangan.
            “Siapa namamu dik?” Sambil melompati kubangan air, aku bertanya basa-basi dengan anak laki-laki yang berdiri memayungiku sedari tadi. Masih sangat kecil. Kurasa mungkin usianya barulah 5 atau 6  tahun.
            “Kenalkan kak,” Ia meraih tanganku dengan sigap tanpa sempat kucegah, “Nama saya Ihsan. Muhammad Ihsan.” katanya dengan antusias yang menyala. Ada gelora dikilas mata anak ini. Sebuah pahatan ekspresi yang ikut menyesaki dadaku dengan semangat.
            “Namanya bagus. Kalau kakak boleh tahu, umur Ihsan berapa? Trus disini tinggal sama orang tua?”
            “Umur Ihsan masih enam tahun..” Dugaanku tepat. “Dan iya. Ihsan tinggal sama orang tua.”lanjutnya.
            “Ibu dan bapak sehari-hari bekerja apa dik?”
            “Jualan makanan kak..” Ia tersenyum.
            “Ihsan sudah sekolah?” tanyaku lagi.
            “Belum kak. Ini, sekarang masih kumpul-kumpul, kalau uangnya sudah cukup, Ihsan mau daftar sekolah tahun depan.”  jawabnya dengan raut muka yang sumringah. Meski basah harus lengket dikulitnya. Ia masih terus mengikutiku.
            “MasyaAllah.” Lidahku bergerak refleks. Mataku takjub.
            “Kata Ayah, laki-laki harus lebih besar dari dunia ini kak. Ihsan sih memang masih kecil. Masih enam tahun. Tapi kalau usia Ihsan sudah enam puluh, Ihsan harus sudah lebih besar dari Pak Presiden. Hehehe...” Ia tertawa. Bahunya yang kecil bergerak naik turun. Aku ikut tertawa. Dibawah ganas hujan ini tak ada bahkan segaris pun gambaran kesedihan diwajahnya.
           
            Sudah sampai, aku menepi di bawah gedung bertingkat tiga FKM UNHAS. Pelataran sudah sepi. Aku terlambat. Hm, Aku sempat mendesah dalam hati sampai kulihat Ihsan memperhatikan wajahku dengan ekspresi bingung. Segera kurogoh uang dari tas cokelat kesayanganku ini. Uang-uangku berceceran didalam sana. Tak lagi sempat berbaris rapi di dompet.
            “Ini dek.” Aku menyodorkan 10 lembar uang 5000 pada bocah itu sambil tersenyum.
            “Wah banyak sekali kak yang dikeluarkan.” protesnya sambil tertawa.
            “Tidak apa-apa, buat kamu saja semuanya.”
            “Sebanyak ini? Jangan kak. Ihsan tidak bisa terima.”  ucapnya kesah.
            “Sudah, San. Anggap saja sedekah dari kakak. Kalau ditolak kakak tersinggung berat.” Aku masih tersenyum.
            Ia menduduk. Matanya jelas melukiskan keengganan. Tapi akhirnya ia mengambil uang ditanganku dengan sedikit ragu. Anehnya, ia tiba-tiba berjalan pelan menghampiri seseorang. Aku mengernyit dahi.
            “Ini Bu, buat Ibu yah. Ini sedekah dari kakak yang ada disana.” Ihsan berbalik dan menunjukku.
            “Makasih banyak Nak. Makasih.” Aku hafal. Itu Ibu tua yang sering memulung disini. Ia menyalami tangan Ihsan dengan begitu gembira, matanya kaca.
            Lama aku menatap Ihsan. Menagih.
            “Loh. Kok uangnya malah dikasih?” tanyaku heran dan sedikit tersinggung.
            “Maaf kak. Ibu Ihsan mengajarkan Ihsan untuk mendapatkan uang dari usaha dan jerih payah Ihsan sendiri. Kata kakak uang itu sedekah. Jadi Ihsan berikan ke ibu-ibu itu. Ihsan mau terima uang dari hasil kerja Ihsan sendiri kak. 5000 sudah cukup. Hehe. Tenang kak, kakak tetap dapat pahala kok.”
            Anak itu tertawa lagi, dan lagi-lagi tertawa. Betapa bahagianya dia. Aku berdecak tak percaya. Entah bagaimana membahasakan perasaan. Dan Ihsan berlalu pergi. Aku masih terperanga dan hampir tak ingat bahwa anak itu sudah pamit. MasyaAllah..
***

            Meski hujan telah reda, gigil masih terasa hingga tulang. Hm, Kuharap mestinya ada pelangi. Pelangi yang ceriakan siang ini. Seperti senyum kakak yang tadi. Dia baik sekali Tuhan. Semoga aku juga bisa jadi pemuda yang baik. Ah, aku bahkan belum bertanya namanya. Bagaimana mungkin aku lupa. Aku segera berbalik, berlari kecil ke tempat tadi dan berteriak dengan suara yang tidak nyaring.
            “Kakak !! Namanya siapa?”.
            Kulihat kakak yang baik itu menoleh kearahku dan melambai, ia berjalan mendekat.
            “Rain dek. Nama saya Rain.”
            Kakak itu  masih tersenyum tenang sebelum ekspresinya membuyar dan berteriak histeris.
            “Ihsan!! Awas!!” Aku belum sempat berpikir.
            Brak! Dan gelap.
***
            Aku duduk membatu didepan kamar rumah sakit. Kejadiannya terlalu cepat. Dadaku bergerak tak berarturan. Fikiranku melayang aral. Tadi hujan sempat reda, tapi sekarang membadai. Tuhan, selamatkan Ihsan. Selamatkan dia. Hanya kalimat itu yang masih tertata rapi dibenakku.
            Adzan maghrib berkumandang. Seorang pria ber-jas putih keluar dari ruang itu. Kakiku tegak tanpa diperintah. Hanya ada satu tanya.
            “Bagaimana Dok?”
            Pria paruh payah itu diam bebarapa saat. Menatapku dengan  mata menguatkan. Ya. Sudah jelas. Tapi aku tetap menunggu jawaban.
            “Maaf.”
            O Tuhan, Kurasa aku sudah tahu jawbannya. Jantungku nyaris lepas. Hatiku mendidih. Mataku gelap. Aku menghambur keluar rumah sakit. Tak ada lagi dayaku tuk menatap wajah Ihsan terakhir kali. Ku dengar dokter memanggil-manggil dari belakang. Tak kuhirau. Aku terus berlari. Mata ini bahkan tak lagi bisa berair. Mendadak kakiku lemas. Dan semua hitam.



***
            Desember 2011.
Di Perjalanan, aku terbiasa menyapa dan mengajak bicara siapa saja yang berdiri atau duduk didekatku. Tergantung mereka merasa nyaman atau tidak selanjutnya. Hari ini, yang duduk disampingku dalam penerbangan Jakarta-Singapura tampak tak biasa. Seorang ibu. Sudah cukup sepuh dengan keriput wajah mulai menggayut. Dalam pandangku, beliau agak kumal. Tenaga kerjakah? Setua ini?
Tetapi begitu aku menyapa, si ibu tersenyum lepas. Sekilas, semburat cahaya kebijaksanaan terlukis dari garis-garis ketuaan diwajahnya.
“Mau kemana bu?” tanyaku sambil tersenyum ta’zhim.
“Singapura nak,” jawab beliau bersahaja.
“Akan bekerja atau...”
“Bukan Nak. Anak pertama Ibu bekerja sebagai dosen disana.”
Ah, aku menyesal sudah bertanya demikian.
“Ibu mau nengok cucu. Anak Ibu baru saja melahirkan.” lanjut beliau.
“MasyaAllah. Sungguh bahagia menjadi ibu dari anak yang sukses.” Aku mengerjap mata.
Beliau  hanya mengangguk dan berucap “Alhamdulillah.”
“Oh iya, kalau adik-adiknya, Bu?”
Si Ibu menundukkan kepala. Beliau menghela nafas panjang.
“Anak Ibu Cuma dua Nak. Yang kedua laki-laki. Sekarang masih sementara kuliah S2 di Makassar.” Jawabnya menggantung.
 “Ada apa Bu?” Aku bertanya dengan wajah penuh bingung. Apa ada yang salah?
“Entah kenapa anak Ibu yang satu itu selalu bertingkah aneh Nak.”Suaranya mulai bergetar.
“Dia sangat obsesif untuk kuliah disana. Bahkan semua beasiswa keluar negeri ditolaknya. Tapi bukan itu. Ada sebuah nama yang selalu dia sebutkan. Katanya dia harus bertemu orang itu. Sampai kapanpun dia tidak akan meninggalkan kota itu sebelum bertemu dan berterimakasih. Ibu tidak tahu siapa dia, Nak. Tadinya Ibu fikir mungkin anak Ibu ada gangguang kejiwaan atau semacam itu. Tapi kata Dokter dia normal. Ibu sungguh tidak mengerti hingga detik ini. Anak Ibu menyebut orang itu dengan nama Rainbow.”
Aku menelan ludah. Darahku melonjak. Rainbow?. Nama Itu... Apa mungkin?. Kupaksakan diri untuk bertanya.
“Si.. Siapa nama anak Ibu??” tanyaku dengan bibir gemetar.
            Beliau menatapku datar.
“Ihsan Nak. Muhammad Ihsan.”


 ***

_Rafiqah Ulfah Masbah_

You Might Also Like

3 komentar

  1. Jangan Lupa Mampir ya! keren nih ceritanya

    BalasHapus
  2. kak yg ini keren, lanjutanx nda ada?? heheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih, ky ^_^ duh, sudah lama sekali tulisan ini

      Hapus

Say something!

Subscribe