Membangun Peradaban Tinggi dari ujung Jemari

Desember 04, 2011


 oleh : Rafiqah Ulfah Masbah


        Adagium Latin ini tak terlalu salah; Verba Volant, Scripta Manent. Yang terucap kan lenyap tak berjejak, yang tertulis mengabadi. Menulis sebelum ini memang merupakan sesuatu yang tidak akrab dengan diri ini, hingga saya sadar dan berpikir, sudah cukupkah hanya dengan membaca, hanya dengan mendengarkan, hanya dengan merasa?.  Kemana hendaknya menyimpan rekam ilmu dari pelatihan-pelatihan yang saya ikuti, buku-buku yang saya baca, atau berita yang saya dengar, juga candaan sambil lalu yang penuh dengan makna. Apakah sekadar tuk tinggal menjadi bunga di akal fikiran saya saja, atau cukup bersemayam dijiwa untuk saya rasa?. Saya mengerti selanjutnya, Menulis adalah bagian dari upaya mengikat jejak pemahaman. Demikianlah kita fahami kalimat indah imam Asy-Syafi’i ini; Ilmu adalah binatang buruan, dan pena yang menuliskan adalah tali pengikatnya.
            Pena. Makhluk pertama yang diciptakan. Bahasa. Ilmu pertama yang yang diajarkan. Baca!. Ayat pertama yang diturunkan. Kita mafhum akhirnya bahwa menulis juga merupakan tugas dari iman. Hari ini jika kita mengabdikan diri sebagai seorang manusia yang hidup tuk saling memperbaiki satu sama lain, Menulis adalah salah satu cara kita berdialog kepada semua penduduk dunia bahkan yang tak kita kenal rupa dan nama.Mereka adalah saudara-saudara yang bisa diajak saling sapa, dan membagi nasehat-nasehat sederhana, meski tak pernah berjumpa.
            Setiap kata yang lahir dari hati, baik itu terungkap melalui lidah ataupun jari juga akan sampai ke hati. Kata itu menggugah tergantung bagaimana ia ditempatkan.Ia bisa menjelma bait kebaikan juga lagu keburukan. Sebab bukan hanya pahala yang bersifat jariyah, kata Salim A. Fillah, melainkan ada juga dosa yang terus mengalir. Menjadi penulis adalah pertaruhan. Karena karya yang tercatat bisa terus terbaca sepanjang zaman meski raga tak lagi di dunia.
            Kita tentu hanya berharap menjadi pemilik pena yang bijak. Yang dari jarinya mengalir kesantunan dan kearifan, melantun irama kebaikan, mengisi dunia dengan warna berbeda, hingga tanpa  kita sadar, mungkin saja kertas usang  berisi tulisan yang acap kali kita anggap tak berkualitas kemudian terserak-serak dapat menjadi awal, awal bagi penggugah perubahan besar.Dan semua itu menambah ketinggian nilai diri kita dipenghisaban alam akhirat.
            “Sejarah Islam ditulis dengan hitamnya tinta ulama dan merah darahnya para syuhada”(Abdullah Azzam). Maka Islam menjelma peradaban imiah dengan pena sebagai pilarnya dan perjuangan yang mengokohkan.Peradaban maju yang kita nikmati saat ini hanyalah implikasi ditemukanya kemampuan membaca dan menulis. Kemajuan ilmu pengetahuan selalu di awali dengan proses,dan proses itu akan hidup jika budaya literasi dilakukan. Semua ini menunjukkan betapa menulis adalah nafas bagi sebuah peradaban manusia.
Jika sebuah bacaan cukup membuka jendela wawasan, jika sebuah bacaan cukup menjadi pengetuk kebodohan. Jika membaca bisa menjembatani kebaikan. Menulislah untuk membaca, dan membacalah untuk menulis. Agar kita tahu, kita sedang menggandeng kata dakwah, sebuah upaya timbal balik tuk jadi lebih baik dan membaikkan. Kita hanya seorang pembelajar yang coba membagi sedikit nilai yang kita temukan dari lorong-lorong sempit hidup ini. Hanya belajar. Hanya sedikit. Hanya menulis.
Akhirnya hanya sebuah kalimat ajakan inilah yang selalu bisa saya tebarkan, Mari membangun peradaban tinggi dari ujung jemari.

You Might Also Like

2 komentar

Say something!

Subscribe