MEMBANGUN PERADABAN TINGGI DARI UJUNG JEMARI

November 07, 2011



Mata boleh menangis, Tubuh boleh payah, Kaki boleh patah, Mulut boleh kehabisan suara.
Tapi aku tak pernah mati dengan setiap apa yang kutuliskan dari hati, dari mata, dari semua yang ada.
Meski ia tak dapat kusentuh, kutakar, kukira...
Aku bisa hidup, hidup dengan bahagia dari dalam kata-kata yang Tuhan ajarkan...
Ya. Meski semua yang ada di dunia ini mulai tampak memuakkan,
Aku terus merasa kaya, tak pernah kehabisan kata tuk kususun, menjadi kalimat, paragraf, dan buku berjilid-jilid tebal.
Aku mencintai ini...
Aku selalu menemukan diriku yang lain dari ungkapan-ungkapan yang terlukis.
Disaat aku lupa, atau bahkan ingin merengek,
Aku bisa mengajak bicara hati dari tinta-tinta penaku yang retak.
Disaat kurasa hatiku agak mengeras, Menulis dapat mengasah kepekaan.
Disaat kurasa semangat hidup redup ditenggelamkan asa, 
menginspirasi orang lain melalui tulisan-tulisan dengan sendirinya mendongkrak gairah.
Bagiku, Menulis juga merupakan cara. Caraku berdialog kepada semua penduduk dunia bahkan yang tak kukenal rupa dan nama.
Mereka adalah saudara-saudaraku yang bisa kuajak saling sapa, dan membagi nasehat-nasehat sederhana, meski tak pernah berjumpa.

Ya. Aku bisa mengekspresikan semuanya sesukaku.
Mengungkap bahagia dengan gamblang.
Menyirat tegur dan singgung dalam syair-syair bisu.
Aku bisa menggambar satu rupa dengan berbaris-baris cerita.
Sangat menyenangkan!
Salah satu ungkapan terimakasih terbesarku padaNya,
karena Ia menganugerahiku cinta.
Dan mencintai kata adalah salah satu dari hal paling utama yang bisa membauat seluruhnya,
Duniaku, kehidupan menjadi besar.
Dan itulah mengapa aku tak ingin berhenti menulis, dan terus menulis.
Karena bahkan seisi dunia ciptaanNya takkan pernah habis dideskripsi.
Apalagi jika topik itu tentang 'Dia'.
Jari-jari mendadak lincah.
Setiap kata berebutan tuk mengambil tempat dideret pujian.
Dan aku banyak belajar soal kebijaksanaan,
dari keharusanku memilah kata yang tepat.
Dan aku masih banyak belajar seni memikat,
menjelma ungkapan amarah, menjadi lukisan senyuman.
Belajar menjadi besar dalam kesederhanaan.
Semua itu, akan banyak kau temui bahakan sebelum titik kau cipta, dan baru mengangkat pena.

Mungkin itulah mengapa banayk orang berkata,
"Ujung pena seorang kritikus lebih membunuh dari berjuta-juta peluru."

***
Untuk sahabat-sahabat, adik-adikku yang terus bertanya bagaimana harus mulai menulis, yang terus memusingkan dimana mencari inspirasi, atau teknik menulis yang memukau, ataukah menulis itu persoalan bakat.
Sudahlah. Berhenti bergulat dengan semua pemikiran itu.
Menulislah!
Menuilis saja.
Diawal-awal akan kau jumpai dirimu yang tidak sempurna,
perlahan-lahan menjadi lebih arif.
Dan mencintai. Mencintai dirimu sendiri dari corat-coret kecil tadi.
Menulislah.
Bahkan jika tak ada yang adapat kau tuliskan,
tuliskanlah ketidakmampuanmu menulis apa-apa.
Itu juga merupakan tulisan. :-)

***
Hanya ada dua orang yang tidak akan dilupakan oleh dunia,
yakni pemilik ide brilian dan penulis.
Jika kau tak dapat menjadi keduanya, maka jadilah salah satu dari kedunya.
***

Aku menemukan kalimat ini dicatatan seseorang yang paling pertama mengapresiasi positif tulisan kecilku.
Seseorang yang tak kukenal baik, tapi penuh inspirasi.

# Itu adalah tulisan pertama, setelah bertahun-tahun aku vacum tuk mau menuliskan bahkan sebaris syair. Aku berhenti menulis sebelum itu. Kufikir, apa bagusnya menuliskan ungkapan hati. "Tulisan paling egois yang pernah ada adalah tulisan tentang diri sendiri." kata seorang pembicara disebuah Workshop Kepenulisan saat aku masih duduk dibangku kelas 1 SMU. Dan perkataan itu membekas.
AKU MOGOK MENULIS. Itu yang kulakukan saat itu.

Maka lihatlah betapa bodohnya tuk selalu menerima mentah-mentah argumentasi orang lain.


Pertama kali aku membuat catatan tersebut, aku tahu sebenarnya sangat tak bagus.
Dan beliau mengirimi kalimat singkat di obrolanku, 
"Tulisannya bagus. Terus menulis!" Sangat sederhana.
Aku tidak percaya. Tapi itu ajaib.
Dan lewat tulisan ini pula, aku berterima kasih setuluh hati padanya..
Aku akhirnya bisa lebih bersemangat mengakrabi sisi-sisi diriku yang lain.
Yang sempat kutelantarkan hanya karena 'juga' permainan kata.

Itu adalah salah satu pengalaman berharga.
Agar kita tahu betapa tajam sebuah kata.
Maka mari menjadi pemegang pena yang bijak.
Yang dari jarinya mengalir kesantunan & kearifan, melantun irama kebaikan, mengisi dunia dengan warna berbeda.
Hingga tanpa kita sadar, mungkin saja kertas usang berisi tulisan yang acap kali kita anggap tak berkualitas kemudian terserak-serak dapat menjadi awal, awal bagi penggugah perubahan besar.
Dan semua itu menambah ketinggian nilai diri kita dipenghisaban akhirat. :-)

Ingatlah untuk selalu memulainya dengan hati.
Tulisan yang bersumber dari hati,a kan sampai ke hati.

Maka sekali lagi sahabat-sahabat terkasih, adik-adikku yang baik...
Mari..
**MEMBANGUN PERADABAN TINGGI... DARI UJUNG JEMARI** ^__^




Dari Sahabat untuk Ummat

_Rafiqah Ulfah Masbah_

You Might Also Like

2 komentar

  1. kunjungi juga http://muchlisin.blogspot.com/2011/05/rahasia-menulis-salim-fillah.html

    BalasHapus
  2. bagian lembar apa yang kosong menurut diri mu

    BalasHapus

Say something!

Subscribe