Emangnya Mimpi mesti Mikir?

November 25, 2011


(Seri Akhwat-akhwat unik sekitarku)



          Aku tidak begitu mengenal akhwat yang satu ini. Aku hanya tahu, dia ADS asal Masamba Sulawesi Selatan. Dia salah satu akhwat yang cukup jarang kulihat raut kebosanan terhadap kehidupan. Segar kala menatapnya. Semangat selalu merembesi diri saat bertemu dirinya. Ya. Itu untukku. Tentu itu juga penilaian subjektifku.
          Sebutlah namanya Ina. Ina saat kutemui beberapa hari yang lalu sehabis membantu penyelenggaraan kegiatan MITI baru saja pulang dari Bali. Ina adalah salah satu dari delapan finalis di ajang "GEMA LOMBA KARYA ESAI NASIONAL 2011" yang di adakan oleh UNIVERSITAS GENESHA Bali.
          Kami berbincang sejenak disalah satu kamar Ramsis UNHAS yang ia tempati, hanya sebentar. Dan aku langsung memaksa kakiku keluar dan memijak satu demi satu anak tangga untuk sampai ke lantai tiga. Ya. Kamar salah satu teman yang juga merupakan sahabat terdekat Ina yang rencana akan kusingggahi tuk menginap.
          Singkat cerita. Sebelum terjun bebas ke alam mimpi. Aku mengucap sebuah kalimat singkat padanya sambil tersenyum, “Ina hebat yah..”
Ria nama gadis  itu kemudian balik menatapku dan tanpa kuminta menceritakan kisah unik di balik berangkatnya Ina ke Bali sebelum itu.
          “Ina itu memang hebat ukh.” Matanya menerawang, “Ia memilih keajaibannya.”
          “Maksudnya?” tanyaku penasaran.
          “Malam itu Ina coba-coba menulis.” ujar Ria, “Awalnya Cuma coba-coba. Dan malam itu juga tulisan itu selesai. Ina baca ulang dan shock sendiri membacanya, Seperti ada sebuah kegaiban menghinggapi jari-jemari Ina. Dan ia nyaris tak percaya kalau itu benar-benar tulisan yang ia buat sendiri, dengan fikirannya, dengan tangannya.”
          Ah ya, itu seperti ungkapan ‘Aku takjub pada tulisanku sendiri’, aku membatin.
          “Akhirnya, Ina juga lagi-lagi coba-coba mengirimkan karya tulis tersebut,” lanjutnya, “Dan, MasyaAllah, Mahabesar Allah, Ina lolos. Ina ke Bali. Salah satu impian besar Ina yang selalu ia utarakan kepada kami, Saya ingin suatu hari nanti menginjakkan kaki di Bali! Saya ingin suatu hari nanti menginjakkan kaki di Bali!, itu yang selalu ia ulang-ulang dengan antusias.” Mata Ria mulai mengembun.
          “Dan kau tahu ukhty, Dari diri sahabat baikku itulah aku akhirnya benar-benar percaya apa yang orang sebut Kekuatan Mimpi. Disitulah aku kemudian benar-benar membuktikan perkataannya, ‘JANGAN PERNAH TAKUT BERMIMPI ukh! JANGAN PERNAH TAKUT BERMIMPI!’. Ina selalu mengulang-ulang kalimat tersebut tuk ingatkan kami, sahabatnya yang seolah begitu enggan hidup dengan harapan besar. Ya. Ina mungkin tak sehebat apa yang ia impikan. Tapi mimpi-mimpi itulah yang menghebatkan dirinya.” Ria menatap mataku dan tersenyum. Aku balas tersenyum padanya.
          “Sudah larut ukh. Istirahat dulu. Seharian ini pasti sangat melelahkan. Pagi-pagi besok kita masih harus tancap gas ke LAN. Lagian bukannya anti habis itu juga mesti jadi pendamping di kegiatannya ForStar?”
          Aku cuma mengiyakan. Tak berapa lama Ria sudah berkelana ke alam mimpi. Aku berbaring dengan mata yang sangat sadar kembali mengilas cerita Ria barusan.



Ina. Malam ini aku lagi-lagi belajar. Belajar dari gadis 18 tahun yang kusebut hebat ini.
Ya. Tentang mimpi. Aku merenung. Mungkin, Aku telah berani menuliskan mimpiku. Tapi tak pernah membuka catatan itu karena begitu ragunya pada diri sendiri. Karena selalunya melihat itu terlalu besar. Aku belajar dari Ina. Untuk selalu percaya. Bahwa selalu ada Sang Maha Hebat di balik sesuatu yang paling tidak hebat sekalipun.
Aku teringat adikku pernah menegur. Teguran sambil lalu. “Emang Mimpi mesti mikir kak?”. haha, yah.. iya sih. Mungkin kita terlalu banyak mikir. Mengambing hitamkan kata realistis. Akhirnya kita menjadi apa yang Mario Teguh sebut TIDAK SPONTAN.
“Tahu anak kecil?” kata Pak Mario di salah satu edisi MTGW. “Waktu kita kecil, dengan entengnya kita menyebutkan mimpi-mimpi jadi pilot, jadi Dokter, pengen terbang, pengen jadi Presiden, pengen punya mobil dll.”
“Semakin kita tumbuh, semakin kita menyebut diri kita realistis. Semakin juga kita menjadi  tidak spontan. Ah, jadi dokter? Otak saya pas-pasan. Apa, ke bulan?. Ngapain juga, kurang kerjaan. Punya mobil? Ngumpulin duit tujuh turunan juga gak bakal bisa. Daaan pembenaran-pembenaran lain yang mematikan kehebatan-kehebatan kita.”
Hmm.. Lamunanku makin larut. Dan ngomong-ngomong malam juga sudah sangat larut. Aku berkewajiban memenuhi hak tubuhku. Dan qabla doa dan lelap, kupesankan pada diriku sendiri, kuucapkan dengan penuh kesungguhan, “Fiqah! Bermimpi sajalah. Toh, mana mungkin Allah menganugerahimu keinginan yang besar jika tak menyiapkan untukmu rencana yang besar pula.”
Sahabatku, Aku terbangun paginya dengan gairah yang terasa makin meluap. Menyambut amanah, Menyongsong harapan, impian.
Sahabatku.
Ya. Hari ini indah.
Esok juga indah.
Dan akan lebih Indah, menyaksikanmu, Engkau yang membaca tulisan ini berhasil dengan mimpi-mimpi yang kau punya.
Kuselipkan doa pengharapan untuk kalian. Semoga nanti kita bisa sama tersenyum. Sama bahagianya, menghias dunia dengan kuntum-kuntum kesuksesan yang selalu kita pupuki semangat.
Sahabat,
Hari ini indah!
Esok juga indah! ^_^



Salam cinta, salam berkah.. :-)
Semoga bermanfaat.


(Syukron to Ina, Ria, adikku tersayang, dan kalian, sahabatku yang hebat!) :-)

*Rafiqah Ulfah Masbah*

You Might Also Like

1 komentar

  1. http://bidikmisi-unhas.blogspot.com/2011/11/satu-lagi-prestasi-mahasiswa-bidik-misi.html

    BalasHapus

Say something!

Subscribe