Beliau tidak sekedar Guru, (beliau adalah Nuur Tuhan Yang Agung)

November 25, 2011



Aku tidak mengetahui nama lengkapnya. Dan memang tidak pernah tahu dan menghafalkannya. Aku hanya tak pernah melupakan, meski itu hanya sebuah nama panggilan. Pak SAID. Ya. Begitu beliau dipanggil. Seorang guru agama saat aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar.
Beliau tidak hanya sekedar Guru bagiku. Tapi cahaya Allah yang bersinar terang di masa-masa itu, Masa kecilku yang sangat labil terhadap segala sesuatu.
Dulu. Aku adalah anak perempuan yang pemalu, sangat tak percaya diri, minderan, dan sangat sensitif. Sensitif. Dikit-dikit nangis, dikit-dikit nangis. mudah tersinggunglah pokoknya. Itulah mengapa teman-teman senang menjadikanku objek sindiran. Meski aku cukup betah menempati peringkat yang baik dikelas, aku hanyalah seorang anak perempuan yang tidak tahu bagaimana menghadapi seorang teman, atau bagaimana seharusnya mengangkat wajah pada dunia. ^_^ Ya. Itu dulu. Sampai beliau mengajarku. Semua berubah. Berubah tanpa kurasa.
“Anak-anak, semua sudah bisa baca Qur’an belum?” tanya beliau dengan wajah yang penuh sinar hari itu. Seluruh kelas berteriak-teriak. Ada yang bersanding kata tidak, ada pula yang iya. Dan aku hanya diam. Seperti biasanya, aku terlalu malu.
  Dengan bekal sebuah mushaf di tangan, Pak Said menghampiri kami satu per satu. Menunjukkan ayat-ayat tertentu untuk kami baca. Dan tibalah beliau dihadapanku. Tepat dihadapanku, menyodorkan mushaf tersebut.
“Nah, sekarang giliranmu Nak. Siapa namanya?” tanya beliau dengan senyum khas yang tak pernah akan kulupakan.
“Fiqah pak.” jawabku singkat sambil menunduk.
“Coba baca ini.” Beliau mengisyratkan aku membaca sebuah surah di jus 30.
Sungguh aku sangat tak percaya diri. Sangat tak percaya diri. Aku mulai membaca basmalah. Aku urung mendahuluinya dengan ta’udz, karena teman-temanku yang lain tidak melakukannya. Aku tak ingin dikatai sok.begitulah fikiran bodohku.
Pak Said mengisyaratkan seluruh kelas untuk diam. Ayat-ayat itu mengalun pelan dari lidahku. Pelan sekali. Dengan suara yang terbata karena begitu gugupnya. Dan, selesai!. Pak Said menatapku dalam dan berucap mantap.
“Ini yang saya cari. Bagus Nak. Kamu pandai!.”
Kawan. Aku tak akan melupakan ekspresi wajahnya saat mengatakan itu. Kata-kata itu seperti cahaya. Cahaya yang yang buatku akhirnya sudi menatap dunia. Sebuah kalimat kecil. Tapi sejak saat itu. Semuanya berubah. Drastis!
Pak Said akhirnya selalu mempercayakanku mengikuti perlombaan-perlombaan Islami antar sekolah. Mulai dari tahfidz, Tilawatil Qur’an, dll. Aku sedikit-sedikit mulai temukan apa yang orang-orang sebut Kepercayaan diri.
Hari-hari di Sekolah Dasar berlalu sangat cepat, aku semakin bersemangat saja memperbanyak pengalaman dengan lomba-lomba yang ada. Tingkat mesjid, kelurahan, alhamdulillah. Menyenangkan. :-)
***
Kelas Enam SD. Tingkat akhir. Di sebuah ruang kepala Sekolah SD Inpres Tamalanrea V. Hari itu penerimaan Ijazah. Kulihat dari luar pak Said memanggilku dan menjongkok dihadapanku.
“Nak, kok nilai agamanya begini?” tanya Pak Said dengan raut kecewa tapi tetap lembut.
Aku tak kuasa menjawab apa-apa. Hanya kurasa hatiku tidak lebih baik. Mungkin jauh lebih hancur. Lebih hancur. Bukan. Bukan juga karena angka enam yang tertulis disana. Tapi lebih karena aku merasa telah mengecewakannya. Dan ah ya. Air mataku menetes. Seolah ingin kukatakan pada beliau.
“Saya tidak tahu Pak. Saya bahkan lebih kecewa.” Tapi lidahku terlanjur kaku.
            Kurasa pak Said bisa mengerti dukaku. Ia mengalihkan wajahnya dengan lebih cerah kali ini. Ia tersenyum.
“Tidak apa-apa Nak. Bukan nilai ijazah yang penting. Kalau kita shalat, kita puasa, kita belajar. Apa yang dicari?”
            “Pahala Pak.” jawabku polos.
“Jadi yang penting nilai dari Allah atau nilai dari sekolah?”
“Nilai dari Allah.” Aku tersenyum kali ini.
“Tidak apa-apa yah. Pokoknya kedepan hari Fiqah mau terus belajar. Agama itu bukan sekedar pelajaran biasa. Tapi bagian hidup kita.”
Aku sesungguhnya tidak begitu paham maksudnya ketika itu. Aku kembali hanya tersenyum kemudian menjabat taangan beliau.
Beliau mengusap kepalaku, sambil berdiri dan tak lupa mengucap kalimat terakhir,
“Fiqah tetap anak yang pandai dan baik.” Dan beliau berlalu masuk kembali ke ruang kantor.
Aku masih berdiri mematung. Mengingat-ingat kembali pesan pak Said. Tak sadar aku berjanji dalam hati akan terus belajar menjadi gadis yang sholihah. Sejak saat itu. Aku berjanji, berjanji pada diriku sendiri.
***
SMP. Entah bagaimana semuanya terbawa begitu saja. Aku sangat bersemangat dengan hal-hal yang berbau keagamaan. Tak perlu panjang paksa seperti orang tua lain kepada anak-anaknya yang membandel. Awalnya, mungkin Pak Said adalah motivasi. Lambat laun, aku semakin sadar makna dari kata-kata beliau. Agama itu adalah bagian dari hidup kita. Aku mengetahuinya sebagai jalan hidup yang orang-orang beriman pilih. Islam. Sebuah ketundukan sepenuhnya kepada Allah.Bukan karena siapa-siapa, bukan karena apa-apa. Hanya karena Ialah Zat yang Mahatinggi. Yang Mahakuasa. Tiada yang punyai hak tuk disembah selain Dia. Meski ibadah-ibadahku mungkin masih belepotan. Tapi setidaknya, aku telah menyadari Islam sebagai suatu jalan hidup mutlak. Dan aku tidak mengerti selainnya.
***
            Kelas II SMA. Seorang kawan mengajakku duduk-duduk di sebuah majelis.
            “Ikutan yuk. Pengajiannya bagus.”
            Hmm..yah. Pengajian. Itu yang kita kenal dengan istilah Liqo’at, Tarbiyah, halaqoh. Yang meski artinya satu sama lain berbeda. Tapi begitulah sebutan-sebutannya. :-)
            Hmm.. Ini satu hal berbeda. Tapi tak lepas  dari nuur-Nya. Karena jika tidak atas perkenanNya pekakan hati. Mungkin aku enggan. Tapi bisa bertahan hingga hari ini, sungguh itu semata berkat kasihNya yang agung.Ya. dari semua rangkaian yang terjadi di tahun-tahu sebelum ini.
            Tapi nilai seseorang, kemahfuman, tidak selalu berbanding lurus dengan lamanya ia menuntut ilmu. Tidak. Tidak sama sekali. Seseorang boleh jebolan pesantren. Boleh sudah tertarbiyah bertahun-tahun. Tapi hanya kitalah dan Allah SWT  yang tahu sudah menjadi apa kita.
Hari ini adalah hari guru. Setiap orang punya gurunya. Aku duduk di teras rumah dan  terkenang. Yang pertama kali. Wajah itu. Dengan dahi kehitaman dan kata-kata yang selalu sarat makna. Guruku. Nuur Tuhan yang Agung.
Entah mengapa tiba-tiba air mataku menetes. Ingin sekali rasanya aku menemui beliau sekadar bertukar kalimat salam dan menanyakan kabarnya. Ataukah bagaimana rupanya kini. Apakah rambutnya sudah semakin putih. Atau masihkan ia mengenalku. Ah. Tapi aku malu. Hari ini. Aku bahkan belum sama sekali bisa dikatakan baik. Apa yang harus kujawab jika beliau menanyakan kabar diriku?.
Tapi Tuhan. Aku hanya ingin berterima kasih. Berterima kasih. Aku hari ini. Juga cahayaMu dalam diri seorang pak Said. Beliau. Aku ingin berterima kasih padanya. Dan ingin sekali aku berjumpa. Tapi dimanakah beliau kini?.
Rabbi... Semoga Engkau gantikan semua baktinya tuk hantarkan kami, anak-anak didiknya, menjadi manusia yang penuh kasih. padaMu, pada sesama yang lain oleh Surga yang yang isinya tak pernah terlihat oleh mata, tak pernah terdengar oleh telinga, bahkan tak pernah terlintas di jiwa.
Ya. Setiap orang punya gurunya. Dan setiap guru punya kisahnya. Mereka adalah insan yang mengabadi di setiap nama-nama kami hari ini.
Kawan, Pak Said namanya. Beliau tidak sekedar Guru bagiku, beliau adalah Nuur Tuhan yang Agung. :-)
Barakallahu fykum..


*Rafiqah Ulfah Masbah*

You Might Also Like

0 komentar

Say something!

Subscribe