**AKHWAT PENGGODA**

November 22, 2011

**Serial akhwat-akhwat Unik sekitarku**

“Sesungguhnya dunia ini Indah & Mempesonakan.
Sesungguhnya Allah menyerahkan dunia ini kepada kamu sekalian dan Allah akan melihat bagaimana kamu sekalian berbuat atas dunia ini.
Maka berhati-hatilah kamu sekalian dalam masalah dunia
dan berhati-hati pulalah terhadap WANITA.”
(HR. Muslim)



            Akhwat, panggilan yang entah sejak kapan seolah terkhusus bagi wanita-wanita yang merupakan aktivis, atau mereka dengan jubah dan kerudung panjang, atau mereka yang kata orang awam selalu bergandeng dengan istilah dakwah. Entah sejak kapan. Akhwat dalam konteks ini juga bermacam-macam modelnya. Hingga lahirlah istilah ikhwan/akhwat diam-diam merayap, ada juga akhwat/ikhwan jadi-jadian. Sekali lagi. Itu hanya istilah. Istilah-istilah yang muncul seiring berkembangnya topeng-topeng palsu dikalangan para aktivis dakwah.
            Dikesempatan kali ini, saya hanya akan mengangkat sebuah kisah nyata tentang model akhwat yang seorang kawan justru mengistilahkannya “racun (akhwat penggoda)”.
            Ya. Katakanlah namanya Qilan. Saat ini Qilan merupakan mahasiswi semester tujuh disebuah Universitas ternama di Indonesia. Qilan adalah salah seorang aktivis dakwah yang cukup diandalkan. Dia memang sudah disentuh oleh pembinaan yang orang-orang sebut Tarbiyah sejak duduk di bangku sekolah. Namun, Tampilan yang segar, wajah  yang manis, suara yang indah, yah.. good looking, plus low profil, juga talenta-talenta yang seolah komplit menyatu dalam dirinya menjadi poin plus-plus itulah sumber masalahnya. Dimanapun Qilan menetap, atau organisasi apapun dimana Qilan bergelut. Ia selalu saja terlibat suatu permasalahan klasik. Ya. Virus Merah Jambu.
            Pada dasarnya, Qilan tidak pernah bermaksud dengan sengaja untuk menjadi sumber fitnah yang besar. Qilan justru akan sangat deperesi jika dihadapkan dengan masalah-masalah seputar manusia yang berjenis laki-laki. Qilan adalah akhwat yang sebenarnya baik. Ia merupakan tipe wanita yang lembut dan cukup santun. Tapi itulah masalahnya. Paradigma kelembutan. Terkadang sebagian dari kita, kaum perempuan, mendefinisikan kelembutan sebagai sesuatu yang lembek. Kelembutan tidak selalu lembut, kata teman saya. Ketegasan seorang wanita terhadap laki-laki juga merupakan penanda kelembutan hatinya, indikasi bahwa hati tersebut masih bersih sehingga dipenuhi kepekaan terhadap hal-hal yang dapat memanggil keburukan mendekat.
             Qilan tidak memahami hal tersebut dengan baik. Dia tampil menjadi sosok yang sangat –sangat ramah, ramah kepada semua orang tanpa terkecualikan. Dia tidak menerima dirinya sebagai sosok yang sebenarnya cukup menjadi magnet bagi mata-mata yang senang jelajatan, atau telinga-telinga serigala yang tajam, juga terhadap kecendurungan fitrawi manusia yang berjenis laki-laki terhadap keindahan jauh lebih tinggi melampaui dirinya sendiri. Qilan menolak menerima itu. Bagi Qilan, dia adalah akhwat yang bahkan sangat biasa-biasa saja, tidak ada apa-apanya. Sementara kenyataan, orang-orang disekitar Qilan selalu menganggapnya lebih. Buktinya, Qilan selalu dipercaya memegan jabatan-jabatan strategis di kampus dan organisasi, Qilan selalu dipercaya memegang amanah-amanah penting, Qilan juga sangat banyak ditawari kesempata-kesempatan untuk mengembangkan bakat-bakatnya, tapi terkadang ia masih terlalu banyak pertimbangan.
            Selain itu,  maaf harus saya katakan, berkali-kali teman-teman Qilan baik itu laki-laki bahkan perempuan disaat Qilan datang di suatu tempat terbengong dan refleks berucap, “wah.. cantik!”.  Ya. Sahabat-sahabat Qilan yang juga merupakan rekanan seperjuangannya di jamaah suatu kali saat Qilan berniat membeli produk perawatan wajah (ini adalah salah satu krim pencerah, Qilan memang memiliki kulit yang agak gelap) padanya bahkan dengan santainya berkata, “Serius nih kamu maubeli?. Wah, kayak gini aja udah cantik, gimana nanti. Hmm.. Qilan..Qilan..”. Qilan Cuma tersenyum kecil, “yah.. investasi buat suami.” tampiknya. Bahkan ibu-ibu, teman Bunda Qilan sering memujinya setiap kali datang bertamu atau tak sengaja bertemu gadis itu.
           Ya. Faktanya Qilan sering dan bahkan sangat sering mendengarkan hal-hal tersebut. Dia dengan sesadar-sadarnya mengetahui bahwa dia punya daya pesona lebih. Tapi Qilan menolaknya. Dia sangat santai berakrab-akrab ria dengan laki-laki, meski tidak dalam artian fisik. Tidak sulit bagi laki-laki untuk dekat dengan Qilan. Selalu ada saja hal menarik dari dirinya. Penampilannya yang modis namun syar’i, sikapnya yang penuh keceriaan, retorikanya yang memukau, tulisan-tulisannya yang mengesankan, kecerdasannya.  Intinya, siapapun yang coba-coba mendekati gadis ini, sulit untuk berbalik pergi.
          Qilan terlalu merendah terhadap dirinya sendiri, sehingga ia mau berbuat lebih. Kerendah diri-an yang juga disalah artikan. Sikap Wara’ (hati-hati) pun ditanggalkannya. Pada akhirnya, Qilan sendiri yang akan menangis tersungkur, kebingungan, hanya dengan sekali percakapan singkat, ikhwan. Ikhwan bahkan dengan santai memanggilnya manis. Ia terheran-heran, bertanya-tanya apakah dosanya sehingga dihukum dengan ujian kaum laki-laki secara terus menerus. Mulai dari sebelum hijrah sampai sudah menjadi Murobbiyah, mulai dari laki-laki yang paling slengean sampai ikhwan yang belakangan ini diketahui merupakan ikhwan yang sangat-sangat terjaga. Mulai dari preman sekolahan, sampai ketua osis dan cowok paling populer. Mulai dari laki-laki dibawah usianya sampai yang sangat senior. Mulai dari anak kuliahan sebayanya sampai dokter lulusan luar negeri juga ikhwan lulusan Kairo, mulai yang paling bau kencur, sampai orang kantoran. Ya. Mulai dari pacaran (dimasa sebelum hijrah), selingkuh-selingkuhan, ditinggal mati, sampai dilamar langsung yang sejauh ini sudah keempat kalinya. Semua sudah berurusan dan dihadapi oleh Qilan. Gila!. Mungkin itu yang terbayang dikepala kita semua. Akhwat macam apa ini?.
           Ya. Qilan secara tidak sadar telah memposisikan sendiri dirinya dalam suatu istilah yang disebut teman saya tadi. Akhwat Penggoda.
           “Qilan itu terlalu lemah hatinya, dan disaat seperti itu dia seringkali justru menghindari ilmu.” Itulah komentar Murobbiyah Qilan terhadap dirinya. Qilan adalah akhwat luar biasa dengan sejuta talenta. Ya.Tapi banyak yang sudah dibutakan. Ada sebuah penyakit kronis yang bersemayam dalam diri seorang Qilan yang tak banyak diketahui orang. Qilan memelihara racun. Racun yang suatu saat nanti akan membunuhnya. Dan juga terus memangsa orang-orang sekitarnya. Racun. Racun KETIDAKTEGASAN.
            Dan sampai kisah ini kutulis. Qilan sedang pada tahapan berbenah diri kembali. Saya  berharap dia benar-benar belajar kali ini untuk tidak mengulang kesalahn yang sama, membabat sifatnya yang seperti bumerang tersebut.  Ya. Mari kita sama-sama berdoa agar Qilan benar-benar menjadi lebih baik.
***
            Banyak hal yang bisa kita pelajari dari kisah ini. Semua hal yang terjadi pada sosok seorang Qilan selalunya bermula dari pesona-pesona yang sebagian kita sering sepelekan. Semua bermula dari apa yang Qilan yakini sebagai kebaikan hati, tetapi justru lahan subur bagi setan memupuki naluriah-naluriah iblis. Qilan menyadari betapa hatinya rapuh jika diuji terhadap lawan jenis,  tapi ia tak pernah berhati-hati. Qilan tahu bahwa setiap keakraban yang ia ciptakan akan selalu berujung pada kotornya hati kedua belah pihak, tapi Qilan tak pernah belajar, dan masih saja terus mempertahankan sikapnya. Qilan seharusnya menyadari betul, setiap kali ada yang terpancing membuka pembicaraan untuk sekedar mengenalnya, akan seterusnya terpancing untuk lebih dan lebih lagi mengenal sosok Qilan, Sementara Qilan tak membatasinya sama sekali. Qilan bersedia menanggapi, meski bagi Qilan kata-katanya cukup pada koridor yang benar. Tetap saja. Justru itu menjadi tambahan pesona lain.
           Ya. Qilan tak pernah menjadi begitu tegas jika ada percakapan-percakapan yang mulai melenceng. Karena Qilan pernah mencoba, tapi yang terjadi ia malah menjadi kasar. Sementara tegas dan kasar itu berbeda. Sejak saat itulah, mungkin Qilan ogah mencoba hal yang sama dan justru malah terus berusaha menyejukkan orang-orang sekitarnya. Bahkan itu ikhwan. Kebaikan yang disalah tempatkan, bukan lagi merupakan kebaikan. “Laa Taqrobuzzinaa!”. Kita diminta bahkan untuk tidak mendekatinya.
           Ukhty sayang, Allah SWT sudah menciptakan kita dengan dasar keindahan. Seberapapun kita bersikekeh bahwa diri kita buruk. Tetap saja, setiap wanita  memiliki sisi keindahannya masing-masing. Itu  merupakan hal yang relatif.

           Kita tahu, betapa banyak Allah SWT membahas tentang wanita di Al-Qur’an, sangat banyak hadits, juga atsar yang menegaskan betapa spesialnya seorang wanita, sekaligus berbahayanya mereka. Terdapat kitab fiqh khusus wanita. Sangat-sangat banyak buku-buku umum, buku-buku psikologi, yang tak pernah tuntas mengupas topik yang bernama wanita. Dengan semua itu, kita harusnya merenung dalam-dalam. Wanita adalah emas yang sudah demikian detailnya di atur dalam agama ini, permata yang demikian berharga sehingga harus dijaga sedemikian rupa. Jika kita tidak bijak menempatkan diri, memposisikan sikap kita secara baik, kita bisa saja menjadi sumber runtuhnya agama ini.
Saudariku yang kucintai karena Allah, Jadilah wanita yang penuh kelembutan yang tidak selalu berarti lembut. Ingatlah. Bahwa kita tidak hanya bertanggung jawab terhadap apa yang kita rasakan, tapi kita juga turut bertanggungjawab terhadap hati saudara-saudara kita.

Kemampuan seorang wanita menjadi tombak peradaban tampak dari bagaimana ia memelihara kehormatannya.

         Dipunggung seorang wanita terdapat hak seorang suami terhadap dirinya untuk menjaga kehormatan, bertengger tanggung jawab pada anak-anaknya  terhadap teladan dalam akhlak, menggantung harapan besar agama tuk lahirkan generasi berimtaq.
          Ketika kita sadar betapa tingginya peran seorang wanita bagi dunia ini. Dan untuk memelihara diri sendiri kita masih tidak berhati-hati. Maka patutlah sekali-sekali kita bertanya. Manusia macam apakah yang akan kita lahirkan untuk berjalan diatas dunia. Pemeliharakah? Atau perusak?, Pejuang kebenarankah? Atau pelaku maksiat? Pemuda-pemudi kebanggaan umat kah? Atau justru sampah masyarakat?

“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah dibelakang mereka...” (QS. An-Nisa’,4 : 9)

        Dari diri kitalah mimpi tentang peradaban yang cemerlang di ukir. Ya. Ingatlah untuk sering-sering bertanya, “AKAN JADI APA AGAMAKU JIKA AKU MENJADI BURUK?”

Semoga Bermanfaat :-)

“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasannya adalah wanita shalihah”
(HR. Muslim)



Salam Berkah
Rafiqah Ulfah Masbah

You Might Also Like

1 komentar

  1. apa qilan teman kamu,sekarang gimana kabarnya?

    BalasHapus

Say something!

Subscribe