Bukan Pengingkar

Oktober 07, 2011




Pernah ada sepersekian usia yang habis dengan tinta bercak-bercak. 
Melukis matahari meski esok mungkin tak temui lagi pagi. 
Mengukir panorama yang sejatinya tak nyata. 

Aku menelan kmbali kengerihan saat mereka coba menyerak halaman yang katanya mesti kusingkir. 
Bukan lagi dengan gelas duri, melainkan cangkir emas putih. 

Pada sabit yang merona.. 
Bagiku tiap detail yang menjelma 'aku' detik ini, adalah hanya cara. 
Suatu Bab permulaan yang tetap diakhiri dengan penutup. 
& sebuah buku tak mungkin hanya punya akhir tanpa prolog; isi. 

Di bingkai terakhir kali yang masih mencetak tebal namamu. 
Engkau masih mewarisiku janji yang tak mati. 
Yang tak pernah bisa dimengerti. 
Hanya sebuah gumpalan penegas di hati. 
Kesejatian yang tak terbantah. 

Sungguh takkan kulampaui ruang keterbatasan tuk hanya sekadar bertanya. 
Cukuplah aku bersulamkan keyakinan merasai sentuhan-sentuhan maya. 

Meski tak mahir menjelajah dimensi. 
Aku masih bisa temui tegur dari beberapa mimpi saat rohku berjalan, mungkin menziarahi pusara khayal. 
Khayal yang menjelma satu wajah. 
Tatapan seribu makna yang entahkah sebuah teguran atau nasehat. 
Tak lazim diterima logika. 
Tapi aku. 
Tahu. 
Itu. 

& aku tak pernah ditinggalkan mimpi. 
Memang mungkin jelmaan yang kurindu. 
Ya. Bukan Pengingkar. 
Aku tahu tanganmu tak pernah melepaskan diri dari tepian waktu yang berjurang terjal. 
& engkau menengokku ditiap pagi yang abu-abu.. 
& menemani senyumku ditiap istirahat malam. 
Aku
Masih
tentu

Bisa 
Memeluk bayangan. 



*Rafiqah Ulfah Masbah* 
>>Pada dini hari yang membentuk sabit, 
masih dengan mutiara yang terwaris di nisan pagi. ~_~

You Might Also Like

0 komentar

Say something!

Subscribe