Alangkah Lucunya Dakwah Ini

Oktober 21, 2011



Alangkah lucunya dakwah ini. Ketika para Ustadz menjadikan dakwah sebagai profesi. Maka tak heran para Asatizah itu pun berlomba memperkaya diri. Dari mulai BlackBerry, sampai mobil Mercy semuanya pun dibeli. Apakah tak mereka baca siroh Muhammad SAW sang Nabi. Rasulullah SAW tidak meninggalkan dinar, dirham, hamba sahaya perempuan ataupun laki-laki. Beliau SAW hanya meninggalkan himar putih, pedang, dan sebidang tanah yang sudah disedekahkan kepada para Ibnu Sabil sebagaimana yang telah diriwayatkan Imam Bukhori (Fiqh Siroh: Al-Buthy).


Alangkah lucunya dakwah ini. Tatkala Qiyadah menuntut Jundinya untut selalu taat dalam mengabdi. "Sudah, tsiqoh sajalah akhiy/ukhty" adalah dalil mereka selama ini. Aneh, padahal mereka hanyalah manusia bukanlah para Nabi. Maka, kasihanlah para si Jundi. Mereka selalu diancam tentang ancaman keluar dari jama’ah bakalan melanggar aturan syar’i. Mereka diancam dengan hadits Nabi SAW bahwa menginggalkan jama’ah akan mati dalam keadaan jahili. Tapi mereka lupa akan kalam Illahi, “mereka menjadikan orang alim (Yahudi) dan rahibnya (nasrani) sebagai Tuhan Selain Allah...” At-Taubah (9) : 31; coba baca apa nggak ngeri?


Alangkah lucunya dakwah ini. Ketika Qiyadah menyuruh kita untuk memperkaya diri. Dia bilang bahwa seorang Muslim itu harus Kaya dan banyak materi. Dia juga bilang bahwa dulu Nabi SAW ketika menikah maharnya adalah puluhan unta yang zaman sekarangnya diqiyaskan dengan mobil Mercy. Dia juga bilang bahwa Abu Bakr, Umar, Utsman, Abd Rohman ibn Auf adalah para bangsawan yang hartanya tak bisa dihitung dengan jari. Akan tetapi, Qiyadah itu juga lupa untuk bilang bahwa infaq mereka juga sangat-sangat tinggi. Mereka serahkan seluruh hartanya untuk Allah dan Muhammad SAW sang Nabi. Bahkan Abu Bakr seluruh hartanya ia infakkan di jalan jihad yang sangat ia cintai. Sebuah pertanyaan, apakah Qiyadah mengambil contoh dari Nabi SAW atau malah Qorun sang kaya raya yang dimurkai. Surat At-Takatsur yang lebih tepat untuk menjawab hal ini.


Alangkah lucunya dakwah ini. Ketika manuver Qiyadah sering membingungkan para Jundi. Dari mulai melegalkan miras, judi, sampai ingin membubarkan Komisi Pemberantasan Korupsi. Atau mementaskan dangdut dengan dalih supaya lebih dekat dengan rakyat negeri. Berubahlah Qiyadah menjadi makelar umat yang umatnya bisa dijual dan dibeli. Maka dibuat-lah acara untuk mengejar kuantitas ketimbang kualitas yang mumpuni. “Dan janganlah engkau mencampur adukkan kebenaran dan kebatilan...” Al-Baqarah [2] : 42; coba dah dibaca lagi.


Alangkah lucunya dakwah ini. Terutama bagi mereka yang mengaku da’i. Nyatanya sudah tidak ada lagi hijab antara da’i perempuan dan da’i laki-laki. Terlebih lagi ketika zaman sudah beralih ke teknologi yang super tinggi. Mungkin jika Karl Max masih hidup ia akan berkata Facebook sudah menjadi candu, kini. Padahal situs itu adalah situs jejaring sosial bukan situs jejaring pribadi. Maka, sudah selayaknya yang dikeluhkan adalah masalah sosial bukan masalah diri sendiri. Bukankah Allah memerintahkan kepada manusia untuk tidak bersedih hati? Tak percaya? tolong dibaca at taubah 40 sekali lagi.


Alangkah lucunya dakwah ini. Ketika HP sudah menjadi kacang goreng, dimana saja bisa ditemui. Maka berbondong-bondonglah para da’i membeli barang mungil ini. Ditambah dengan berbagai macam bonus yang ditawarkan provider membuat mereka menjadi lupa diri. Diskusi agama lawan jenis via SMS selalu menghiasi hari-hari mereka yang sunyi. Maka setan pun masuk melalui celah yang mungkin tak disadari. Bukankah kesungguhan setan dalam menyesatkan manusia sudah tidak diragukan lagi? Al-A’arof [7] ayat 7, kali ini yang menjadi saksi.


Alangkah lucunya dakwah ini. Ketika mereka da’i lebih memilih menonton Indonesia vs Arab Saudi. Ketimbang untuk sholat ‘Isya di masjid yang mungkin jaraknya hanyalah beberapa kaki. Atau ketika adzan Shubuh menjelang mereka masih saja sujud di atas ranjang empuk yang membuat nyaman diri dan memberatkan kaki. Atau meninggalkan puasa sunnah dengan alasan lelah karena rutinitas sehari-hari.

Alangkah lucunya dakwah ini. Ketika mereka da’iyah membiarkan dirinya dilihat orang lain dengan sesuka hati. Mereka upload foto cantiknya di dunia maya yang tanpa mereka sadari menjadi konsumsi para laki-laki. Secara tak sadar mereka juga terkena virus feminim yang makin menjadi-jadi. Mereka secara tak sadar terkadang menuntut persamaan dengan kaum laki-laki. Maka tak sedikit dengan alasan dakwah banyak diantara mereka yang pulang syuro sudah larut malam hari.


Alangkah lucunya dakwah ini. Jika tulisan ini dianggap sebagai cerminan orang yang iri apalagi sakit hati. Ini merupakan pendapat salah satu jundi yang bisa juga dianggap sebuah koreksi. Lagi-lagi ini bukan untuk cari sensasi. Dan Insya Allah ini hanya dibuat dengan niat yang bersih dan dilandasi cinta yang suci.



Oleh Dinar Zul Akbar
mukminsehat.multiply.com

You Might Also Like

0 komentar

Say something!

Subscribe