Mencari titik-titik Rasional dalam Kejatuhan ini....

Juni 30, 2011



      Aku pernah mendengar seseorang berkata :
“Kematian bukanlah akhir dari perjalanan hidup yang tengah engkau lalui. Namun kematian adalah ketika orang-orang mengabaikanmu, padahal engkau berada ditengah-tengah mereka.”


Agaknya itulah gambaran yang paling mewakilkan perasaanku dibangku kuliah saat ini. Ketika kehadiranku sama sekali terasa tanpa sebuah arti dan makna. Ketika aku tak mampu mengambil tempat dijajaran terdepan disaat orang-orang mampu melihat bahwa aku ada. Merasa bahwa namaku ada didaftar hadir kelas. Ketika bahkan tak ada yang menyadari bakatmu sama sekali. Ketika engkau bahkan tak mampu berkontribusi lebih bagi orang lain. Yang seolah tak ada daya guna sedikitpun dari diri. Itulah. Itulah yang terasa dihati ini.


Ketaksanggupanku menerima pengabaian. Dalam persaingan yang terasa membekukan urat-urat saraf. Disaat aku akhirnya memilih untuk abai dan pergi dengan dunia dimana orang-orang menghargaiku, sibuk dikursi-kursi dimana aku lebih luwes untuk bergerak. Dan yang terpenting, mereka menganggapku ada. Mereka sadar bahwa aku mungkin bagian kecil yang cukup penting. Itu cukup. Sangat cukup. 


Tapi sungguh tak ada satu pun yang berhak ditangisi. Aku ahirnya mengerti dengan kalimat agung ini : Tidaklah sulit, engkau memikul kehidupan ini, dalam jarak yang dekat, dengan kedua kaki yang lemah. Akan tetapi, engkau akan kesulitan melanjutkan perjalanan, ketika engkau mendapatkan dirimu tanpa kedua kaki itu di malam yang mencekam.”


Aku paham. Bahwa terkadang yang perlu aku kokohkan adalah diriku sendiri. Hatiku sendiri. Semua keburukan berawal dari perasaan yang tak stabil. Dari hati dimana semua prasangka bermula. Berdiri atas rasa yang kupilih sendiri dan melangkah dengannya. Orang lain berhak memperlakukan diriku sesuai dengan perilakuku. Aku tak boleh mengharap orang lain memuliakanku sedang aku tenggelam dalam ‘lumpur’. “Jangan mengharap orang lain menghargaimu,” kata seorang penulis dalam salah satu buku yang pernah kubaca, “Jika kau tak mampu mengendalikan diri. Dan, jangan mengharap orang lain menghargaimu, jika kau tak memperdulikan harga diri sendiri!”.


Ah ya, aku mengerti. Orang-orang menghormati kita karena mereka tahu bahwa kita memang berhak mendapatkannya. Akan tetapi, mereka tidak mungkin akan menghormati kita hanya karena kita berupaya mempengaruhi mereka dengan kedudukan palsu kita.”


Aku tak mungkin selamanya hidup dengan menyalahkan diri sendiri. Aku tak mungkin selalunya hanya bisa mencecar diri lantas menyerah dengan tangan tergelepar terhadap keadaan. Ini hanya bagian kecil tantangan yang harus aku menangkan.hanya kecil. Tapi jika aku kalah, selamanya dan seterusnya aku tak akan pernah menjadi apa-apa. Tak pernah bisa menjadi apa-apa.


Aku tahu saat ini bukanlah tentang bagaimana orang-orang memandangku yang harus membuat fikiranku tersita dengan sangat. Karena sungguh Orang-orang yang hanya memikirkan bagaimana  diri mereka dihadapan orang lain, kata seorang sastrawan suatu waktu, benar-benar telah mati seribu kali, karena mereka telah berlebih-lebihan dalam perasaannya sendiri.


Dan aku tak ingin mengambil rasa semacam itu. Aku hanya perlu sedikit mendongakkan wajah lalu tersenyum hangat pada kenyataan dan merangkaki setapak demi setapak ketertinggalanku atas cuti panjang terhadap kompetisi-kompetisi hati dimana aku tanggal, pergi bersama kepengecutan. Aku hanya perlu sedikitnya memperbaiki saklar diri dan menyala sedikit demi sedikit, sebagaimana pun redupnya aku. Aku hanya perlu menyala setidaknya untuk mengenali sendiri diri ini. Mengenal. Mengenal diriku sendiri. Karena bagaimana tidak, Allah pun menerangkan bahwa barangsiapa yang mengenal dirinya maka ia akan mengenal Allah. Maka sampai kapan aku mampu mengenalNya sementara atas sesuatu yang paling dekatpun aku samar. Apatah lagi terinsyaf dengan hal-hal agung lainnya yang terserak untuk menagih hamdalah-hamadalah lisan dan jiwa.


Aku hanya perlu bangkit dari rasaku sendiri. Itulah yang menjadi tugas utama yang tengah memeras keringatku sekarang. Mungkin tiadalah pentingnya barang secuil saja bagi orang-orang untuk paham betapa beratnya menanggug rasa ini. Bertahan dalam pergulatan jiwa dan seluruh pertempuran rasa. Bagiku aku tak pernah berhasil sebagai manusia. Tak akan pernah sukses dengan satu saja kata cinta sebelum aku menang atasnya.


Seorang kawan pernah bertanya padaku. Karena mungkin dilihatnya beban bertumpuk-tumpuk dari raut wajah yang terlipat-lipat, karena mungkin dirasanya tak sedikit masalah yang kutanggung dari mata sayu yang bahkan kelopaknya pun sulit terangkat sekadar menyambutnya dengan hangat.


Lantas ketika aku menceritakan semuanya. Ia berkata “hanya itu??”. Catat ini. Kata HANYA. Aku tersenyum saja mendengarkan tanggapannya. Disana aku kemudian mengerti. Tak ada satupun manusia yang mampu memahami perasaanmu lebih dari diri mu sendiri. Meski bagaimana pun segala gambaran di fisik telah nyata menyiratkan betapa beratnya hal kecil yang mungkin dianggapnya sesederhana itu. Tapi memang seperti itulah kita dalam jalinan ini. Hanya mampu merasakan kadang-kadang, meski tak bisa paham. Tapi bukankah indah. Disaat kata pun belum sempat terucap, air mata kita sudah menetes-netes membersamai tangis saudara kita. Maka memang seperti itulah. Perasaan adalah suatu topik yang tak akan bisa dimengerti bahkan dengan menuliskannya dalam buku tebal yang berjilid-jilid. Dan tentu memahami perasaan seorang wanita kata teman saya tadi, jauh lebih sulit. Saya tiba-tiba teringat dengan sebuah syair ini:


Dengan satu mata, terkadang dirimu melihat dunia seperti sesungguhnya.
Akan tetapi, engkau tidak akan melihat
apa yang ada dibelakang perasaan seorang wanita
meski dengan seribu mata.....”

Maka disaat ini, aku kuatkan semuanya. Menguatkan azzam. Mengokohkan niat. Memperbaharui prasangka. Mendalami makna. Mengartikan manfaat. Membuang semua keraguan. Mengentaskan jerat-jerat kebodohan. Untuk selanjutnya tak lagi mengulang kesalahan yang sama. Untuk berikutnya berhenti merasa tak pantas dan pasrah dengan kebengalan keadaan. Untuk sigap terhadap kesempatan-kesempatan yang tadinya selalu kubuang-buang.
Ya. Aku mungkin bahagia dengan diterimanya aku disemua tempat yang aku mau dahulu. Tapi hidup ini bukan hanya duniaku saja. Tapi tak sesempit itu. Banyak orang besar yang belum pernah aku temui sampai aku terinsyaf betapa kecil dan tak ada apa-apanya aku selama ini. Kekagetan yang tak tersiapkan. Maka bagaimana membahasakannya. Itu jauh lebih rumit bagiku secara pribadi. Tapi sungguh ini awal yang baik. Disaat aku bisa sedikit demi sedikit mampu mencoba memberi harga atas diri ini, dengan nilai yang lebih tinggi. Bukan. Bukan untuk menempati kesombongan. Tapi memberi ruang bagi cita dan semangat.


Engkau agung, karena manusia menghormatimu.
Engkau mengagumkan, karena orang-orang terpesona padamu.
Engkau ramah, karena orang-orang bisa bergaul denganmu.
Engkau lembut hati, karena orang-orang menemukan dalam dirimu sisi-sisi kemanusiaan yang tidak mereka temukan dalam diri orang lain.
Dan engkau mulia, karena manusia mengetahui dimensi kepribadianmu yang sesungguhnya.
Kendati semua orang telah menyematkan sifat-sifat diatas kepadamu, namun bisa saja penilaian-penilaian ini berubah dengan tiba-tiba, apabila engkau berperilaku semaumu, dengan model yang tidak mereka senangi, dan mengganggu.....
_DR Hasyim Abduh Hasyim_

            Dan terakhir, Maka ijinkalah saya tuliskan nasehat kecil Jim Rohn ini untuk diri sendiri dan semoga pun manfaat untuk yang lain :

Biarkan orang lain menjalani kehidupan yang kecil, tapi kamu jangan.
Biarkan orang lain memperdebatkan soal-soal kecil, tetapi kamu jangan.
Biarlah orang lain menangisi kepedihan-kepedihan kecil, tapi kamu jangan.
Biarlah orang lain menyerahkan masa depan mereka kepada orang lain, tetapi kamu jangan.

+++
Untuk semester 3 yang lebih baik. Ayo Fiqah. Hamasah!!!! Keeping smile!! Be the best!! You Can!!
+++


-Rafiqah Ulfah Masbah-
~Dalam renungan subuh buta,
memaknai nilai-nilai yang berantakan,
menyelami segala rasa kecewa & tak suka
membaca rasionalitas~

You Might Also Like

0 komentar

Say something!

Subscribe