Cukuplah menjadi Embun dipucuk-pucukmu

Juli 01, 2011




Beningku masih melekat dipucuk hatimu...
Aku tidak pergi selamanya..
aku mungkin hanya embun
yang memberimu segar disubuh-subuh buta.
Beningku masih melekat dipucuk-pucuk tasbihmu...
Aku tidak pergi..
Hanya membiarkan kering untuk panas matahari berganti  memberimu makan..
Beningku masih melekat dipucuk-pucuk kesadaranmu...
menggantung menjadi mutiara-mutiara yang menampakkan satu lagi kuasa Tuhan..
Aku mungkin hanya embun...
yang merembesi gulita-gulita malam..
Bahkan mungkin samar kau kenal...
Aku mungkin hanya embun..
yang menggembul menampakkan pesonamu disaat pak Imam berjalan ke mesjid depan rumah lalu tak sengaja membasahi tanganNya.
Dan Ia berucap, “MasyaAllah.”
sambil menatapmu dalam-dalam.
Aku mungkin hanya embun..
yang berharap mampu menyungging tahmid dari sosok-sosok yang terbelalak disayup tanda-tanda..
Aku hanya embun..
Beningku selalu melekat dipucuk-pucuk hijaumu...
Aku disini, disaat senyap membuat semua mata lekang dari warnamu.
Meski aku hanya embun..
Itu cukup..



_Rafiqah Ulfah Masbah_

You Might Also Like

0 komentar

Say something!

Subscribe