Surat kecil untuk sosok dibilik benci

Juni 26, 2011

Aku mengerti, kali pertama kita berjumpa, itu sudah menjadi takdir Allah..
Sebelum dan sesudah kita mengenal, Kita adalah saudara seakidah.
Maka, dalam jalinan kita, tentu, aku, kamu maupun dia telah bersepakat untuk selanjutnya banyak-banyak bersabar terhadap cela yang ada,  menjadi yang paling paham, menjadi yang paling menanggung luka.

Kita telah menyadarinya disaat pertama kali menyebut nama.

Namun saudaraku, terkadang justru untuk sedikit perbuatan kecil yang ternyata terlalui melukai, aku salut jika hatimu tak tercerai. Dan tentu itulah yang paling diharap diri ini.
Tapi mungkin tidak.

Dengan caramu merendahkanku seperti itu, kau sudah tak bisa bohong bahkan pada dunia bahwa kekecewaan telah berada diluar hatimu.
Dan ya. Kecewa. Marah. Mungkin hanyalah pilihan-pilihan yang bisa kuambil salah satunya untuk menjadi balasan perasaan.

Tapi apakah demikian saat kita belajar tentang ukhuwah bersama?. Tapi apakah senyum-senyum yang dulu terhias di sudut-sudut diari hari akan kuhapus karena 1 halaman hitam yang kau tumpahkan tinta?. Aku tidak. Aku tidak akan pergi dari hati kalian meskipun jarak kubentangkan. Aku tidak. Meski kau menolak. Karena, tahukah. Terlalu mudah untuk manusia saling mengenal. Tapi yang paling sulit dari perkenalan itu, adalah menjaga keberlangsungannya..

Maka aku tidak. Caramu merendahkanku itu. Hanyalah satu alasan bagiku untuk teruji seberapa dalam telah termaknai ukhuwah kita selama ini. Dan aku tidak. Semua hal yang ada, hanyalah konsekuensi dari ketidakmengertianku terhadapmu. Hanya teguran bahwa ternyata aku tak bisa menjadi saudara yang baik. Yang mampu selalu memahami hatimu, yang peka terhadap teguan kecil disudut matamu. Yang tak selalu sesuai dengan harapmu.

Maka caramu merendahkanku seperti itu, anggaplah saja bentuk cintamu yang tak lagi bisa digambar keindahan....

Maka tak ada alasan untukku kecewa, apalagi marah.

Aku paham saudaraku...

Meski aku mungkin menangis menahan sakit dengan kekata yang kau teriakkan pada seluruh manusia menampakkan keburukan diri yang sungguh pedih.
Namun, dalam tiap takdir luka yang kau beri, Aku senantiasa berharap tertakdir pula kemaafanku mengiringi.

Maka ku harap suatu waktu yang keluar dari mulut-mulut kita hanyalah terima kasih.
Yang tumpah dari hati-hati kita hanya kasih..
Hingga dalam takdir ukhuwah kita, malaikat pun cemburu... :-)




Dari saudara di pinggiran yang mungkin tak menarik lagi untuk dikenal..

_Rafiqah Ulfah Masbah_

You Might Also Like

0 komentar

Say something!

Subscribe