1 lagi tentang CINTA

Juni 17, 2011

Bismillahirrohmanirahim...



Seseorang bertanya padaku kali ini :

“Mana yang Ukhti pilih,” tanyanya, “MENCINTAI ATAU DICINTAI??? ALASANYA???



Ya. Antara Mencintai atau Dicintai.

Sesuatu yang sebenarnya bukanlah menjadi pilihan sebagai seorang manusia dengan fitrahnya untuk saling cinta-mencintai.



Dicintai  adalah indikasi keistimewaan diri kita, entah itu dihadapan manusia maupun dimata SangPencipta. Maka mereka yang kadar kecintaan orang lain padanya tinggi, pastilah ia adalah manusia yang punya sesuatu hal lebih dalam dirinya. Itu indikasi. Dicintai juga adalah bentuk keberartian kita. Ya, hal tak terlepas dari ciri orang-orang besar. Lebih jauh, karena itupun menjadi kebutuhan. Manusia butuh dicintai oleh orang lain, hingga kita mengenal apa itu arti sebuah kepercayaan. Maka kita paham bagaimana rasa spesial itu sebenarnya. Dicintai manusia, terlebih olehNya yang tak tertakar betapa indah ketika seorang hamba dicintai oleh Rabbnya. Namun, disela keindahan bentuk dicintai itu. Disanalah senantiasa bertengger apa yang kita sebut dengan Kesombongan, congkak, tinggi hati. Karena seseorang terkadang terlalu tak sanggup mengarahkankan buncahan emosi dimana setan mulai mencolek sedikit saja nafsunya. Itulah bahayanya.



Mencintai. Ya. Suatu kata kerja. Bagi kerja-kerja yang peruntukannya untuk Allah, maka bukankah ianya bisa menjadi ibadah?. J Sehingga mencintai bagiku adalah sebuah perbuatan mulia. Tapi dalam proses mencintai itu terkadang terselip penyakit. Ketika kecintaan kita menjadi asas bagi semua tindakan. Dimana setelah melewati batas tertentu ia akan menjadi penyembah atas cintanya.

Maka mungkin itulah kenapa, Ibnul Qayyim Al Jauziyah, imam rujukan kita, dalam Raudhatul Muhibbin-nya menorehkan kalimat, “Andaikata orang yang jatuh cinta itu boleh memilih. Ia pasti akan memilih untuk selama-lamanya tak jatuh cinta.”

Tapi sungguh tidak semua kata didunia harus kita terima. Karena hanya dari lisan yang tak terdusta (Rasulullah SAW) itulah mungkin kita bisa sepenuhnya percaya. Bagi saya. agaknya mungkin kurang pas kalimat yang bernada menyerah pada cinta tersebut. (Tentunya ini hanya sedikit nila bagi lautan madu karya-karya agung Ibnul Qayyim). Ya. Bagi yang tetap meyakini cinta itu sebagai kebenaran, silahkan saja menurut saya.. Tapi mungkin Dengan sedikit mengubah konteks ‘Jatuh cinta’ menjadi ‘Bangun Cinta’. ^_^

+ + +



Kembali. Tapi pertanyaannya mungkin, ketika dihadapkan pada keadaan dimana harus memilih diantaranya. Maka yang manakah yang harus saya pilih?.



Untuk konteks antara diri saya dan Allah SWT. Maka saya sebut diri saya egois. Saya tak mau cukup dengan mencintaiNya sementara tak mendapatkan cintaNya. Sungguh bukankah jika kita tidak termasuk orang beriman, maka pastilah orang yang celaka. Sementara Kecintaan Allah tentulah hanya hak mereka yang beriman?.



“Tiadalah hambaKu,” begitu Allah berfirman dalam sebuah hadits Qudsi,”Mendekatkan dirinya kepadaKu dengan sesuatu yang lebih aku sukai, daripada saat dia jalani apa-apa yang Aku wajibkan untuknya. Dan hambaKu itu tidak puas hanya dengan menjalankan yang wajib saja. Maka dia terus mendekat kepadaKu dengan hal-hal yang Aku sunnahkan, sampai Aku mencintainya.”

“Maka jika Aku telah mencintainya,” lanjutNya, “Aku akan menjadi pendengaran yang dia gunakan untuk menyimak. Aku akan menjadi penglihatan yang dia gunakan untuk menyaksikan. Aku akan menjadi tangan serta kakinya yang dia gunakan untuk bertindak dan bergerak. Jika dia memohon padaKu, Aku akan menjawab pintanya. Jika dia meminta perlindungan maka Aku pasti melindinginya.”



Indah sekali bukan?. Tapi mari kita cermati dengan baik firman ini. Syarat yang menjadi jalan bagi kita untuk DicintaiNya. Semua adalah perbuatan yang diakibatkan oleh karena kita MencintaiNya. Sehingga dengan itu kita memilih untuk berbuat dan berbuat. Hingga Ia pun mencintai kita. Semua bermula dari mencintai. Ya. Untuk juga dicintai.



Maka begitupun, jika pertanyaan itu diberlakukan dalam hubungan dengan manusia. Maka saya memilih untuk MENCINTAI.



Seperti yang saya katakan tadi, Mencintai adalah kata kerja. Maka suatu pekerjaan yang kita lakukan pastilah memiliki nilai. Dalam suatu keadaan timbal balik. Yang utama tentu menjadi subjek. Dan coba saya tanya, tidakkah agar kurang mengenakkan ketika kata ‘objek’ disetarakan dengan istilah ‘korban’??.

Korban adalah yang dikenai, terdengar pasif. Tak punya kekuatan. Iya kan?.

Ketika kita berbicara soal “subjek”= pelaku, Ada unsur kuasa disana. Sesuatu dimana kita punya hak untuk mengenai sesuatu. Dalam kata cinta. Maka saya memilih subjek yang melakukan pekerjaan tersebut. :-)



Ada yang unik dari jalinan indah antara manusia. Ketika seseorang dikenai keburukan oleh sebab kita. Maka kita turut andil dalam menanggung dosa. Begitupun sebaliknya. “Tak terkecuali dalam cinta,” kata Salim A. Fillah, “Selalu ada ruang diantara rangsangan dan  tanggapan. Dan disanalah terletak pilihan-pilihan.” Coba bayangkan ini. Ketika kita dicintai. Dan kita menangkap tepat dengan “salah pilih ekspresi”. Maka tanggung jawab atas hati saudara kita yang tersalah pantulkan itu pun menjadi hak kita. Jika tersebab diri kita, hati saudara kita terkotori atasnya. Maka itu semua tanggungan kita.



Maka sebanyak orang-orang itu. Jaring tanggung jawab pun tak terpisah antara kita dan hati mereka.

Sementara atas perbuatan kita mencintainya, itu adalah tanggung jawab kita sendiri. Sebanyak kita mencintai dengan salah, sebanyak itupun balasan dibebankan. Sebanyak kita mencintai dengan benar, sebanyak kemuliaan itu pula menjadi teman kita.



Mungkin itulah yang dipelajari John C. Maxwell hingga ia menulis dalam bukunya Winning with People. “Anda bisa mendapatkan teman lebih banyak dalam dua bulan dengan menjadi tertarik pada orang lain, Daripada dalam dua tahun dengan mencoba membuat orang lain tertarik pada Anda.”



Ya. Bukankah sudah disabdakan oleh Rasulullah sebagaimana direkam oleh Ath Thabrani yang intinya, Orang yang paling besar kecintaannya pada saudaranya adalah yang paling dicintai oleh Allah.

Maka kita paham dicintai itu hanya akibat. Dan mencintailah sebabnya.



Itulah kenapa bagi saya.pekerjaan pertama yang harus dilakukan oleh kita dalam hablu minannaas ini adalah mulai mencintai.

Karena memilih mencintai mensyaratkan kita menghargai perbedaan. Dimana berarti kita bersedia untuk memula memberi bukan menerima. Cinta akan meminta semua dari kita, pengorbanan , pengertian. Ya, menjadi pengangkat, menjadi yang paling memahami, menjadi yang paling menghargai. Dan itulah pekerjaan-pekerjaannya Pecinta.

Maka para pecinta bagiku adalah ksatria. Kesediaan menanggung beban. Itulah yang kusebut KEBERANIAN.

Dan sayangnya, para pecinta terkadang justru bisa tersenyum disaat darahnya mengalir untuk menghapus derita saudaranya. Ia bisa merasakan cabikan dalam ketika seseorang menggores sedikit saja kulit saudara yang dicintainya. Ia bisa menjadi yang paling geram, ketika ada sekelompok orang mencungkil sedikit saja keburukan yang dicinta. Dan mampu menjadi yang paling pertama berteriak bahkan sebelum yang tercinta membisikkan kata. Maka sungguh agung seorang pecinta bukan?. :-)



Dalam Law of Attraction (Hukum ketertarikan), apapun yang  kita pancarkan akan direspon dengan berkali-kali  lipat dalam kehidupan kita. Maka begitupula dengan cinta. Sekali lagi, Mencintai itu hanya alasan untuk dicintai.

“Sebab memulai ungkapan cinta adalah penanada cinta yang lebih tinggi,” kata Salim A. Fillah, “Sebab cinta yang lebih tinggi mengantar pada kemulian cinta Ilahi.”

Ya. Karena Dicintai hanya akibat dari perbuatan cinta kita...

Hingga itulah kenapa saya memilihnya....^_^

Wallahu a’lam..... :-)



^_Rafiqah Ulfah Masbah_^

You Might Also Like

0 komentar

Say something!

Subscribe