Ujung Kembara

Juli 22, 2013


tibalah kau di titik terjauh sebuah kembara. padahal letakku dekat saja; di ruang tercerah tiap sunyi yang kau sembah

sepenuhnya hidup hanyalah rentang panjang perjalanan.
sepantarnya kita hanyalah kumpulan kedatangan dan peninggalan.

tak kah kau ingat, kasih, pada perayaan gusar yang paling temaram, aku—kau berteriak lantang diantara jajaran kapal di dermaga kota kita “jika hidup adalah mencari, untuk keberlangsunganku sendiri, takkan mau kutemukan dirimu hingga mati.” ya, yakin kita, surga tempat terbaik mengabadikan hati.

aku—kau berjalan dalam sejajar garis yang takdir jaga. kita mengalahkan terjal gemunung paling angkasa, menebas belantara hutan paling keramat, menenggak habis air mata matahari, menikam purnama-purnama, meracau musim dan cuaca

lalu tibalah aku di titik terjauh sebuah kembara. padahal letakmu dekat saja; di ujung bayangku yang paling samar.

tetapi napas kita—bukan kaki, adalah pejalan yang lebih perkasa.
waktu dengan segala kuasa menyampirkan lengan pada garis-garis udara yang terhirup masuk ke hidung-hidung kita.
lantas temu, ternyata hilir yang tak mampu perahu pilih.

kita dicumbui jabat-jabat
berkhianat pada sumpah-sumpah.

aku—kau sepakat menghidupi keterlanjuran dengan menjadi badan separuh-separuh
aku menjadi kaki yang kiri, kau menjadi kaki yang kanan.
kita berjalan bersama perkara dengan dada yang penuh koyak
demi memenuh-genapkan tualang

dan tibalah kita di titik ujung sebuah lelah. padahal kita dekat saja. telah hilang sekat.

lalu demi apa aku kau tinggal? demi apa kita harus memenggalkan diri, hidup bertahan hanya dengan satu kaki? aku tak seperkasamu, kasih.

lepas kau lucuti lambung dan vaginaku, lepas kau tenggak habis darah dari dadaku.
hidup macam apa yang minta kau kekalkan?
hidup macam apa jika yang bersisa hanyalah nyawa?
dunia mana yang sudi menerimaku dengan segala cacat nganga dan bernanah?

kekasih, sepantas apa kugemakan tanya perihal mengapa kau harus pergi?
lidahku lesap, dilahap geligi kita.
kerap kali dahaga seperti bir yang menjarah sulbi-sulbi kewarasan.
jika segala cair dari badanku leleh ditelan sekian kemarau yang tak bertanggal, katakanlah, kasih, adakah jantung yang detakannya abadi?

saban hari, bila kau dapati gerimis jatuh sangat asin
minumlah dari tadah tanah yang menawar airnya.
lukaku makam disana.
mengganjar sumpah untuk hanya
mati sebagai hidupmu.

Makassar, 2013


Dibacakan pada Closing Ceremony MIWF 2014

You Might Also Like

0 komentar

Say something!

Subscribe