Setidaknya Lihatlah Sekarang

Mei 10, 2011

Aku mengenalnya kini sebagai seorang muslimah yang mengabdikan dirinya dijalan da'wah.
Aku mendapati wanita itu kini banyak menghabiskan waktu dlm berbagai kegiatan bermanfaat.
Aku mengenalnya kini tidak lagi seperti dulu.
Ya. Dulu.
Di masa
-masa jahiliyah itu.

***




Gadis itu, sibuk bercengkrama dengan laptop biru yang selalu dibawanya kemana-mana. Biasalah, entah darimana semangat itu begitu saja muncul. Belakangan ini dia doyan banget nulis. Tema yang sama. Pengembangan diri. Dia begitu bergairah dengan hal-hal yang berbau motivasi. Buku-buku, pelatihan-pelatihan. Kapan yah mulainya?. Seingatku pasca IMI, ya Indonesian Motivator Institute yang diadakan oleh trainer asal Bandung yang dinobatkan sebagai trainer termuda se-Asia Tenggara. Setia Furqon Kholid. Entahlah, mungkin dia segitu terinspirasinya. Tapi aneh sih, itukan pelatihan untuk menjadi seorang trainer, lah ini kok malah nulisnya yang lancar, trainingnya malah yang agak macet.
"Lagi ngapain, Ra?" seorang wanita bertubuh mungil menghampirinya.
"Hei. Biasalah, hobi baru." jawabnya dengan senyum terkembang.
"Wah, wah, bagus, Ra. Kembangkan terus yah. Saya sudah beberapa kali baca note-note yang kamu posting, keren-keren kok!"
"Ah, biasa aja. Wong saya kebanyakan terinspirasi dari kata-kata & keadaan sekitar yang saya pungut-pungutin, disambung-sambung, terus dikembangkan dikit. Jadi deh!"
"Lha, itu lebih hebat lagi namanya. Gak semua orang bisa loh. Itu namanya bakat, Ra.",
"Ah, kamu ini.", "Pokoknya ditunggu yah bukunya."
"Amin.... Itu salah satu dari daftar mimpi yang begitu saya inginkan. Hmm... Doa'in aja yah....!"
"Oke deh, siiipp cantik!!" godanya dengan senyum yang menggelitik.
              Anak ini kalau sudah ngegombalnya jago begini pasti nih ada maunya. Riana mulai memperbaiki posisi duduknya.
              "Ra, laper gak?. Makan yuukk!!"ajak Riana dengan wajah memelas, tapi lebih nampak sedang mempraktikkan pelajaran actingnya di kelas drama kemarin siang sih,
              "hmm.. Mulai deh. Sudah ketebak." Tiara tersenyum kecut. Riana cuman cengengesan.
              "Tuh, di tas ada roti. Buat kamu deh!"
              "Yah.. Tiara. Itu sih mana cukup."
              "Riana..Riana... Badan kamu aja yang kecil yah. Tapi perut gak pernah deh perasaan penuh-penuh. Ya udah, kita ke kantin deh. Tapi kamu yang traktir yah!" kali ini gantian Tiara yang cengengesan,
              "Eh, enak aja. Wong saya kok yang minta traktir, habisnya uang bulananku udah tipis banget nih, Ra. Serius deh. Tipisnya udah kayak selembar rambut dibelah tujuh. Hehe.."
              "Bisa aja kamu tuh. Ya udah deh, sekali ini saya yang bayar."
               "Yeess asikk.. Kamu emang temen paling baik & manis sedunia." Riana menikmati euforianya. Tiara hanya geleng-geleng sambil senyam-senyum.

***

              Kantin kampus agak panas kali ini, semua tempat duduk nyaris penuh. Tiara & Riana beruntung mendapatkan meja untuk dua orang di pojok dekat jendela, dari sini angin lebih mudah membelai kulit mereka yang sedari tadi basah karena cuaca siang yang panas. Maklumlah, beberapa hari ini hujan tidak ada tanda-tanda berniat untuk menyapa penduduk Makassar. Allah mungkin hendak menguji militansi kita, yah.. Secara dalam kondisi cuaca seperti ini, rasanya tenaga terkuras sepuluh kali lipat lebih cepat. Dan ujian kali ini lebih besar lagi buat Tiara & Riana, selain tenggorokan kering, kantong mereka juga ikut-ikutan kering (kemarau kali yah, hehe), beasiswa mereka belum cair, terpaksa deh mesti ekstra ngirit. Jadi kali ini mereka cuman pesan masing-masing semangkok mi kuah dan dua aqua gelas dingin. Tidak tanggung-tanggung Riana langsung menyeruput air mineral dihadapannya bak musafir baru ketemu air. Dalam beberapa detik, satu gelas bocor kedalam perutnya.
              "Huuff,,, bener-bener deh. Haus minta ampun. Panas banget sih cuaca." protes Riana sambil menunggu pelayan membawa mi pesanan mereka.
              "Pekan lalu waktu hujan kamu juga marah-marah gara-gara cucian gak kering-kering, sekarang giliran panas ngamuk juga?" sanggah Tiara dengan tenang dan tetap tersenyum, wajahnya nampak lebih teduh disapu angin, gadis 18 tahun yang tercatat sebagai MABA Universitas Hasanuddin tahun 2010 itu nampak manis dengan gamis biru tua yang dipadukan dengan jilbab biru muda yang menjulur sampai pinggangnya, terlihat sekali seperti gelombang laut ketika diterpa angin. Tengah hari seperti ini, setidaknya ia tampil lebih segar.
              "Iya sih Ra. Habisnya...."
              "Udah deh, Ri. Cuaca yang tidak menentu ini juga ujian buat kita. Nikmatin aja. Kalau kebanyakan ngeluh, malah makin nambahin kepahitan. Masih ingatkan kata ustadz di Ta'lim kemarin..?"
              "Iya, iya bu Ustadzah. Selemah-lemah kesabaran adalah meninggalkan keluh kesah, iya kan?" tampik Riana dengan muka rada kusut, sebuah buku tulis tipis yang sedari tadi dialih fungsikan sebagai kipas angin terus mengayun ditangan kanannya.
              "Nah, itu tahu. Memang gak salah deh sahabatku yang satu ini ngalahin angka tes IQ ku, daya ingatnya tajam banget. Setajam silet."canda Tiara. Riana tertawa, rada tersanjung juga.
              "Kamu tuh bisa aja."
              "Eh iya, bentar sore temenin ke toko Abdi Agung bisa gak, Ra?",
              "Wah, jam tiga nanti saya mesti ngisi halaqoh, Ri."
              "Weleh-weleh... Murobbi kita satu ini sibuk banget sih." ejek Riana, "bentar malam juga pasti sibuk tuh di mesjid.", "sabtu-minggu aja gak ada libur-liburnya, Hmm..hmm...hmm...".
              "Yah...inikan demi dakwah yang kita cintai. Hehe" jawab Tiara sekenanya.
              "Huhh... Mulai deh, lebay mode on.". Mereka tertawa bersama. Seketika itu, Pesanan mereka juga datang.
              "Makasih yah, mba!"ucap Tiara pada si pelayan sambil mulai menghirup aromanya. Perut yang sejak tadi berdendang rock, sepertinya tidak lagi bisa kompromi untuk langsung diberi jatah.

              Tiara dan Riana nampak serius menikmati hidangan mereka.
              "Riana.." suara Tiara agak sendu,
              "Hmm..??"jawab Riana tanpa menoleh sedikitpun dari santapannya.
              "Gak berasa loh Ri, tanggal 13 Mei, Jum'at depan sudah setengah tahun semenjak tragedi itu."
              Riana tiba-tiba menoleh, ia menatap lekat wajah sahabat dekatnya itu, matanya menerawang, ekspresinya datar. Riana teringat.
              "Astagfirullah... Hampir aja saya lupa, Ra. Bener-bener gak berasa yah sudah setengah tahun kepergian almarhum k'Hilal. Yang sabar yah, Ra. Semoga kak Hilal saat ini diberi tempat yang baik disisinya. Meskipun dulu kadang bikin saya agak kesal juga sih. Tapi terlepas dari itu semua, insyaAllah almarhum adalah orang yang baik semasa hidupnya. Saya tahu Ra. Pasti masih berat buat kamu menerima semua ini. Kehilangan orang seperti dia tidak akan mudah. Saya paham... Kamu gak pa2kan?" Riana coba memberikan kalimat sebijaknya untuk paling tidak memberi sedikit ketenangan dihati Tiara. Riana tahu pasti, Tiara punya cerita kelam sebelum ini, Tiara pernah berada pada masa-masa yang sulit. Ya. Ketika ia terjebak dijalan yang salah. Tiara sempat menjalin kasih selama sekitar dua tahun lebih dengan lelaki yang bernama Hilal itu. Lelaki yang Tiara kenal saat bergelut di Remaja Mesjid Jannatul Firdaus sekitar rumahnya saat masih duduk di kelas 2 SMA itu meninggal dunia dalam suatu kecelakaan bus saat membawa rombongan tour di Malaysia tanggal 13 November 2010 lalu. Tiara cukup terpukul waktu itu. Tapi, Tiara ternyata jauh lebih tegar dari kelihatannya. Kehilangannya yang teramat sangat, tidak sama sekali membuatnya tenggelam. Hanya butuh sedikit waktu baginya untuk menenangkan diri. Kemudian kembali bangkit. Ia selalu cobakan senyum dan bersikap tenang menghadapi orang-orang disekitarnya yang semua mengenal betul hubungan antara Tiara dan almarhum Hilal. Tiara menjadi lebih banyak berbenah pasca kejadian itu. Tiara kini memang tampak lebih baik. Tapi siapa yang tahu isi hatinya. Almarhum Hilal bukan orang sembarangan untuk Tiara. Dari laki-laki itulah perubahan-perubahan besar dalam hidup Tiara banyak bermula. Begitulah yang setidaknya Riana pahami.
              "Nggak kok Ri. Saya baik-baik saja. Saya cuman terbayang, betapa cepat semua berubah." Tiara menghela napas panjang sebelum meneruskan ucapannya,
              "Tiara kecil yang usil, Tiara di awal-awal SMP saat belajar bagaimana menjadi anak gaul, berada dilingkungan yang sangat hedon, ikut-ikutan pacaran, pakaian yang sembrono, sikap yang bebas. Yah.. Sampai mengenal k'Hilal. Lelaki luar biasa yang dulunya bahkan bermimpi dicintai olehnyapun tak pernah." Tiara tersenyum. matanya masih menerawang, meraba-raba kembali lembar-lembar ceritanya yang mungkin sudah terserak.

              "Kak Hilal laki-laki yang sangat baik, Riana. Sosok yang sempurna dimata saya waktu itu. Laki-laki baik-baik, jebolan pesantren, prestasi seabrek, tampilan yang segar, sikap yang ramah, disegani dimana-mana, keterampilan yang saya rasa tidak banyak orang yang dikaruniai talenta selengkap dirinya. Bahkan saya sendiri juga sempat minder karena gak tahu masak, kalah jago sama dia. Hufff... Pokoknya, waktu itu.....bermimpipun untuk gadis seburuk diriku tak pernah. Entah apa yang dilihat laki-laki itu dari seorang gadis biasa dengan masa lalu yang rumit, pas-pasan, dan tak ada sama sekali yang bisa dibanggakan untuk menjadi wanita pertama yang mengganti statusnya. Ya.. Dari yang sebelumnya gak pernah pacaran sama sekali. Ahhh... Saya jadi merasa sangat bersalah menjadi bagian dari lembar buram dicatatan sejarahnya.
          Hmmm.... Dari laki-laki itulah mulanya saya sangat bersemangat untuk berislam dengan baik, disanalah seorang Tiara mulai mengenal apa yang kita kenal sebagai tarbiyah, disitulah mulanya Tiara umur 15 tahun belajar mengenakan jilbab yang istiqomah, yang ditertawai disana-sini, tapi begitu menikmatinya karena dorongan seorang laki-laki yang belakangan ia pahami tak selayaknya menjalin hubungan dengannya karena alasan haramnya pacaran dalam Islam, Ya. Disanalah Tiara yang tadinya sangat hedon, kembali berkutat dengan mushaf yang hampir-hampir tinggal berdebu di lemari. Tiara yang dulunya sering mengikuti lomba-lomba tilawatil Qur'an, waktu itu nyaris sudah kehilangan keterampilan membaca Qur'an-nya." suara Tiara mulai serak.
              "Sampai berjalannya waktu, disaat saya tahu semuanya salah, ternyata tak semudah itu keadaan membenarkan. Perjuangan untuk berpisah dengan laki-laki yang kian berjasa itu, tidaklah terasa mudah. Keluarga yang sudah mengenal, meskipun tetap ada ketegangan dipihak keluarganya, tapi ia sangat setia pada saya. Banyak sekali pengorbanan dari segi waktu, materi, tenaga yang diberi, dan disisi lain, lingkungan semakin menuntut untuk bersegera meninggalkan kemaksiatan itu. Sudah terlalu buruk pencitraan yang saya tampakkan. Dan itu bukan hanya tentang diri saya, tapi juga pandangan dunia terhadap akhwat lain secara luas. Segalanya kian sulit untuk saya waktu itu. Riana tahu kan pergolakan batin yang harus saya alami ketika itu?." Riana hanya mengangguk dan terus mendengarkan Tiara dengan serius.
              "Sampai diujung ketaksanggupan saya menghadapi segalanya, Allah mengambilnya begitu saja dari sisi saya. Sesuatu yang tak pernah terbayang sama sekali. Ditinggal mati oleh seorang yang begitu diharapkan menjadi pendamping hidup setidaknya beberapa tahun lagi. Dan.... Segala harap, sekaligus dilema hancur berantakan seketika. Rasanya pahit sekali. Tapi sungguh apa yang telah berlalu tak bisa sama sekali disesali. Saya mencoba memahami itu. Saya hanya iri dengan almarhum, Ri. Saya sama sekali tak pernah mendapati kematian yang segitu banyak orang yang merasa kehilangan. Rumahnya yang bertingkat dan luas itupun nyaris tidak cukup menampung orang-orang yang berdatangan sillih berganti. Bahkan, teman-teman LAUNUN yang waktu itu dikarantina di Jakarta saat ajang Suara Indonesia membela-belakan pulang melihat saudaranya yang sebelum itu sempat menjadi salah satu personil mereka, yang karena alasan kuliah memilih tak ikut bersama Launun di ajang SI untuk terakhir kalinya. Saya hanya terbayang seperti ini, betapa orang yang bersama saya selama ini memang bukan orang sembarangan. Sosok yang pynya arti lebih untuk banyak orang. Dan saya haru, Ri. Sampai akhir hidupnya ia tetap setia dengan saya." Tiara terdiam air matanya sudah berlinangan sejak tadi.
              "Entahlah. Saya hanya merasa Allah benar-benar Mahabaik, kematian yang mulia untuknya, meninggal dalam keadaan telah memimpin dzikir dibus, dan juga nikmat kesempatan untuk saya memperbaharui diri. Sesuatu yang entah bagimana mengungkapkannya." Riana membersamai tangis sahabatnya itu, kali ini Riana pun angkat bicara. "Saya paham, Ra. Saya paham. Kamu sudah bertahan sampai sejauh ini. Bangkit dari keterpurukan ketika berada dalam kondisi kamu pun saya tidak yakin bisa. Tapi sejak awal, ketika saya mendesak kamu memutuskannya, saya yakin kamu kuat, Tiara. Hanya terlalu takut. Kamu kalah oleh rasa takut kehilangan itu. Tapi sudahlah... Allah sudah menunjukkan jalanNya, Allah telah menghamparkan pembelajaran mendalam bagi kalian. Ambil ibroh dari semua ini, Ra. Apa yang telah terjadi pada Tiara diwaktu sebelumnya adalah sejarah. Tiara sekarang adalah Tiara yang dalam pandangan saya jauh lebih baik dari sebelumnya."
              "Tapi, Ri. Saya merasa malu, malu dengan masa lalu yang begitu berantakan, saya malu tampil bak wanita suci. Dan apakah yang kelak harus saya ceritakan pada calon pendamping hidup saya dengan diri yang begitu penuh dengan noda?. Saya hanya malu apa saya masih pantas mengharapkan ikhwan yang baik kedepannya?. Saya cuma malu, Ri.. Hiks..hiks.." Tiara menelungkupkan kedua tangannya diwajahnya, tangisnya kian deras, beruntung tidak banyak yang bisa memperhatikan mereka, karena posisi mereka memang tertutup oleh tiang besar kantin. Jika tidak, mungkin saja mereka sudah menjadi objek sensasional.
              "Tiara, lihat saya!. Kamu tentu jauh lebih tahu, kesalahan kedua setelah dosa yang dilakukan itu adalah berputus asa dari rahmat Allah. Setiap orang punya kisah kelam dalam hidupnya. Seberapa buruknya hal itu tidak menjadi tolak ukur kemuliaan seseorang dihadapan Allah SWT. Allah sudah demikian baik memberi kamu kesempatan umur sampai saat ini. Itu artinya Allah masih ingin melihat Tiara menjadi lebih baik. Setidaknya lihatlah sekarang. Tiara yang ada dihadapan saya bukan lagi Tiara yang cengeng membicarakan panjang lebar masalah cinta-cinta-an, bukan lagi Tiara yang dulunya cuma bisa bilang 'iya' kalau kak Hilal sudah melarang, bukan lagi Tiara yang lemah, bukan lagi Tiara yang banyak menghabiskan banyak waktunya untuk kesia-siaan. Tiara... Allah itu Maha Penerima Taubat, teruslah memperbaharui taubat, Ra. Kokohkan diri dijalan ini. Jagalah nikmat keislaman yang masih bisa kamu hirup dengan bebas sekarang. Sudah yah..." Riana menyeka air matanya, kemudian menyodorkan tissu kepada Tiara.
              "Yang kuat, Ra. Kamu berhak untuk hidup yang lebih baik. Istiqomahlah. Ingat. Setidaknya lihatlah sekarang. Berpandanglah kedepan. Banyak permasalahan ummat yang masih harus kita fikirkan, Ra. Yah...." Riana mencobakan senyum paling tulus untuk ditampilkan.
              "Iya. Makasih, Ri. Jazakillah khair."
              "Wa iyyaki". Riana memeluk Tiara yang masih sesengukan itu dengan penuh kasih.
              "Sudah. Tuh mi nya udah bengkak, Ra. Saya gak mau tahu loh, harus dihabisin!" perintah Riana, coba menghibur sahabat yang dicintainya itu.
              "Ah,, udah gak nafsu, Ri.",
              "Eittzzz... Katanya gak boleh mubazzir?. Yang ngajarin saya siapa coba...??" goda Riana.
              "Iya, iya." santap Tiara dengan sedikit terpaksa, kali ini ia harus mengalah, yang dikatakan Riana memang benar. Riana hanya menertawakan.
              "Eh. Tapi kamu masih sering gak Ra silaturahhim ke rumah kak Hilal?"
              "Oh iya Ri, itulah masalahnya, saya udah jarang banget contact-contactkan dengan keluarganya kak Hilal."jawab Tiara sambil tetap mengunya mi-nya,
              "Nah, tu kan!!. Sekali-sekali sempatin jalan-jalan kesanalah. Kalau butuh teman, saya siap selalu. Apa sih yang nggak buat dirimu.. Hehe.."
  "huuhh... Gaya mu itu loh!!" Tiara mencubit tangan Riana. Riana tetap cengengesan.

***

              Riana masih memperhatikan saja Tiara menghabiskan mi bengkaknya sambil senyam-senyum.
"Untung sebelum acara nangis-nangisan tadi, mi saya sudah habis duluan, kalau gak, aduh saya juga malas banget makan mi yang udah bengkak begitu. Hehe."batinnya.

***


-Rafiqah Ulfah Masbah-

You Might Also Like

0 komentar

Say something!

Subscribe