Mengarahkan Takdir, Mengukir Peta Hidup

Mei 11, 2011


MINDSET NASIB
Tuhan memberiku ketenangan untuk menerima hal-hal yang tidak bisa kuubah,
Keteguhan hati untuk mengubah yang bisa kuubah.
Dan mengetahui perbedaan antara keduanya.
Reinhold Niebuhr

            Banyak orang yang hidup dalam keadaan statis yang ketika ditanyai berdalih, membuat justifikasi mengatas namakan Nasib. “Setiap orang itu sudah memiliki garis hidup,”katanya, “yah.. mungkin sudah nasib saya punya otak tumpul atau hidup melarat seperti ini.”. Oh ya?. Apa seperti itu?. Hanya sampai disitu sajakah pemahaman kita tentangnya?. Apakah demikian Allah mengajarkan kepada kita?.
            Jika demikian, mengapa firmannya sampai berbunyi. “Sesungguhnya Allah tidak mengubah apa-apa yang ada pada suatu kaum, sehingga ia mengubah apa-apa yang ada pada jiwa mereka...” (Ar-Ra’d : 11). Bukankah ini bisa menjadi salah satu patokan, bahwa bagaimanapun, campur tangan kita pada takdir Allah juga berperan.
            Tidak salah memang  jika kita mengatakan bahwa setiap manusia sudah tertulis takdirnya di Lauh Mahfudz. Ya memang demikianlah adanya. Semua sudah tergambar dengan baik dan rinci. Sebagaimana ketika kita berongkang-ongkang kaki tanpa jerih payah hidup, telah tertakdir mendapatkan rezeki X misalnya, namun jika kita mau sedikit berusaha lebih keras, kita akan mendapat rizki Y. Logikanya kan demikian. Iya tidak?.
Saya jadi teringat kata-kata seorang Ustadz, “Hidup miskin itu adalah takdir, tapi mati miskin itu adalah lalai”. “Bagaimanapun menisbatkan maksiat kepada takdir Allah adalah terlarang,” kata Ustadz Salim A. Fillah dalam buku Jalan Cinta para Pejuang. “Adalah seorang santri suatu malam memanjat pohon rambutan di depan rumah Ustadznya,” lanjut beliau memberi contoh. “Dan ia membawa karung. Diunduhnya semua yang terjangkau oleh tangannya. Arkian santri-santri sekompleksnyapun kenyang rambutan malam itu. Keesokan harinya, tanpa penyelidikan yang muluk-muluk, para santri yang tak kebagian rambutan sudah menunjukkan tersangkanya pada Ustadz.
            Sang guru bertanya, “Mengapa kau curi rambutan?”
            “Takdir Ustadz..”
            Sang Ustadz menjewer telinga santrinya itu sampai tubuhnya seolah ikut menjerit.
            “Adao.. Sakit Ustadz. Kok saya dihukum? Padahal saya mencuri itu kan sudah takdir Allah?”.
            “Lho, jeweran ini juga takdir Allah.”
            Begitulah takdir. Kita tidak bisa menisbatkannya dalam kemaksiatan. Karena selalu ada ruang antara rangsangan dan tanggapan. Dan ruang itu berisi pilihan-pilihan. Maka itulah gunanya misteri takdir.”papar Salim A.Fillah panjang lebar. “Agar kita memilih diantara bermacam tawaran. Untuk menyusun cita dan rencana. Lalu bertindak dengan prinsip indah, “Kita bisa lari dari takdir Allah yang satu ke takdir Allah yang lain, dengan takdir Allah pula.”

MENGARAHKAN TAKDIR
Takdir bukanlah mengenai kesempatan,
Melainkan mengenai pilihan.
Ia bukanlah sesuatu yang kehadirannya ditunggu,
Melainkan sesuatu yang harus diraih.
_William Jennings Bryan_

Di awal  kita telah menyinggung, bahwa segalanya bermula dari apa yang kita pilih dalam hidup ini. Dalam mengarahkan takdir, pilihan-pilihan itulah yang akan menjadi batu loncatan bagi kita, apakah ianya ke depan, atau membuat kita semakin mundur ke belakang.
            Ya. Segalanya adalah pilihan. Antara tidur 8 jam sehari, atau memaksa bangun dibekunya malam untuk bermunajat dan melakukan aktivitas lain. Antara menghabiskan uang dengan perilaku konsumtif, atau justru untuk investasi. Antara menjadi beban, atau justru meringankan beban.
            Segalanya adalah pilihan, antara hidup bermanfaat, atau terhina. Tapi lihatlah prinsip hidup agung tak tergugat seorang mu’min yang hanya mematok 2 pilihan  hidup. Antara mati syahid, atau hidup mulia. Subhanallah!.

Tanpa rencana,
hidup kita hanya akan disibukkan
...dengan berpindah dari satu masalah
ke masalah yang lain,
tanpa jelas untuk apa.

Tanpa rencana,
kita akan mencari kerja,
bekerja keras, dan
melalui semua kesulitan hidup,
tanpa tahu untuk apa.

Yang hidup dengan rencana - saja,
sering dikagetkan oleh kehidupan,
apalagi yang santai menua tanpa rencana.

Mario Teguh
            Dalam mengarahkan takdir, mulailah dengan menemukan satu tujuan, dan keinginan besar kita akan mengikutinya. Nah, disinilah poin penting selanjutnya, mengukir peta hidup. Tetapi sebelum itu saya ingin mengajak anda merenung terlebih dahulu.
Sahabat, ketika kita ditanya, Apakah kehidupan ini panjang?. Mungkin ada yang menjawab ‘ya’ dan ada pula yang berkata ‘tidak’. Rentan waktu hidup manusia saat ini, taruhlah semacam Rasulullah, berkisar sampai 63 tahunan. Jika kita berhitung-hitung. 1 tahun = 365 hari, Dalam sehari, kita menggunakan waktu sekitar 1-2 jam atau 25 hari/tahun untuk beribadah. Kemudian menggunakan waktu untuk makan sekitar 2 jam atau 30 hari/tahun. Untuk sekedar ngobrol = 1 jam atau setara 15 hari/tahun, rata-rata kita mengalami sakit = 5 hari/ tahunnya. Untuk nonton dan jalan-jalan = 5 hari/tahun. Untuk waktu-waktu libur baik hari minggu, libur sekolah, libur nasional, yang biasa kita gunakan untuk bersantai tanpa rutinitas berarti menghabiskan sekitar 125 hari/tahunnya. Sisanya = 160 hari. Dan jangan sampai lupa, waktu tidur kita yang normalnya 8 jam/ hari setara dengan 120 hari/tahun. Wow! Fantastis kan. Betapa banyak kita menyia-nyiakan hidup untuk tidur. Saya jadi teringat gurau salah seorang dosen saya di FKM, Prof.Indar, “Ciri orang yang tidak menikmati hidup itu,” kata beliau, “Adalah terlau banyak tidur. Gimana tidak, banyak tidur sama artinya senang berlama-lama dengan kematian. Iya tidak?”. Saya sepakat dengan kata-kata beliau, persiapan untuk kematian sesungguhnya saja belum apa-apa, ini malah sudah asyik berlama-lamaan dengan kematian kecil. Hmm...
Kita lanjut, jadi sisa dari pengurangan-pengurangan tadi secara kasat adalah 5 hari. Hanya untuk 5 hari ini paling tidak kita bisa menghasilkan sesuatu yang produktif. Cukupkah?. Jika masih berfikir cukup. Selanjutnya sahabat harus tahu, bagaimana 1 hari di padang Mahsyar dibanding relativitas waktu bumi = 50.000 tahun lamanya. 63 tahun waktu hidup yang sahabat katakan lama jika dihitung-hitung, hanya setara dengan 2 menit, 2 detik saja. Masih mau berkata lama?.
Pantas jika dalam hadits Riwayat Bukhari, Rasulullah SAW mengingatkan, “Jadilah engkau di dunia ini seperti asing atau seperti orang yang sekedar lewat.” Sebagaimana ciri orang yang sekedar lewat itu,
1.      Mereka memahami bahwa mereka pergi hanya sementara.
2.      Mereka menyadari bahwa semua akan mereka tinggalkan
3.      Mereka merasa akan/ harus kembali, dan
4.      Mereka yang sadar akan kembali tidak akan punya cukup waktu untuk bersenang-senang, dan tidak mempersiapkan bekal apa-apa.
Agar hidup yang singkat dan Cuma sekali-kalinya ini tidak sia-sia, disinilah pentingnya kita membuat peta hidup. Yuukkk....

MENGUKIR PETA HIDUP
Sebuah cita-cita yang tidak dituliskan,
Hanyalah harapan belaka.
            Dalam sebuah penelitian Mc Corrmack di Harvard Business School, setiap mahasiswa baru akan diwawancarai tentang target-target hidupnya, 10 tahun kemudian, setelah lulus dari sana, mereka kembali di interview satu per satu. Hasilnya menakjubkan. 13 % dari mahasiswa yang sebelumnya memiliki target hidup namun tidak menuliskannya, memiliki pencapaian hidup 2x  lipat lebih besar daripada 89% mahasiswa yang bahkan tidak memiliki target hidup sama sekali sebelumnya. Yang lebih menakjubkan lagi, mahasiswa yang hanya 0,3%,  yang memiliki target hidup kemudian menuliskannya, memiliki pencapaian hidup 10x lipat lebih besar dibanding yang tidak menuliskannya.
            “Peta hidup merupakan jalur-jalur menggapai tujuan hidup paling akhir.” kata Pak Dwi Henry Cahyono (Gus Uwik) dalam salah satu trainingnya. Karena kita akan menuju sebatas apa yang kita gambarkan dikepala. Tetapi jangan pula melupakan bahwa, ketika sebersit mimpi tidak tergambar secara jelas, mudah bagi manusia melupakannya, dia tidak akan memiliki sesuatu yang kita sebut power.
Kita kemudian bisa membuktikan bagaimana beda antara pemilik peta dibanding si pengembara dengan tangan kosong. Ibarat si buta berjalan tanpa tongkat. Sulit!. Tak berarah!. Jatuh bangun!. Bingung!. Ya. Begitulah kira-kira gambarannya.
            Sahabat, jika bisa diumpamakan, “Manusia itu,” kata Mac Anderson dalam bukunya The Power of Attitude, “seperti batang dinamit. Kekuatannya ada di dalam.”, “Tapi tidak ada yang terjadi hingga sumbunya terbakar.” Peta hidup kita inilah yang akan menjadi apinya. Api yang meledakkan potensi, meladakkan kreatifitas, meledakkan semangat kerja, meledakkan keyakinan untuk kita menyala menyentuh mimpi-mimpi kita.
            Jika anda masih ragu dan bertanya mengapa harus dituliskan secara nyata, saya ingin membagi sebuah kisah tentang seorang bernama Mac Anderson tadi, pendiri Successories, Inc., tokoh dalam merancang dan memasarkan produk-produk untuk motivasi dan penghargaan. Ia juga adalah CEO dari McCord Travel, perusahaan perjalanan terbesar di Midwest, sekaligus pemilik sebagian saham/VP dari penjualan & pemasaran Orval Kent Food Company, pabrik terbesar yang memproduksi salad siap saji di Amerika. Dan pelajaran ini ia dapatkan ketika ia masih muda. “Ketika itu saya adalah seorang mahasiswa baru di Murray State University di Murray, Kentucky,”ia mulai bercerita. “dan direkrut oleh seorang teman bernama Eddie Grogan untuk menjual buku-buku keluaran Southwestern Company. Perusahaan tersebut sudah menjalani bisnis ini selama lebih dari 100 tahun dan setiap musim panas mempekerjakan beberapa ribu mahasiswa. Eddie sudah melakukan tugasnya cukup bagus musim panas lalu dan memperoleh pendapatan empatkali lebih besar daripada gaji saya ketika bekerja di sebuah toko pakaian pria. Saya begitu bergairah dan ingin mencoba pekerjaan itu untuk mendapatkan pengalaman baru dan memperoleh uang tambahan. Akan tetapi ada satu masalah kecil. Ayah tidak ingin saya mengambil pekerjaan itu. Bukan hanya karena ayah tidak ingin saya melakukan pekerjaan tersebut. Namun beliau juga berpikir saya tidak akan mampu.
            Dan begitulah. Sekarang saya memiliki sebuah misi. Seorang anak yang akan membuktikan bahwa pikiran ayahnya salah.
            Bagaimanapun juga musim panas datang, dan perasaan ragu menyelinap di dada. Lebih jauh lagi, saya sadar bahwa ini akan menjadi pekerjaan yang sulit—lebih dari enam puluh jam per minggu selama tiga bulan. Mungkin saya tidak memiliki kedisiplinan untuk itu atau mungkin saya tidak bisa menghadapi penolakan dari penjualan langsung yang dilakukan dari pintu ke pintu.
            Namun demikian, pada akhirnya, saya memutuskan untuk mencoba. Sebuah kesempatan untuk membuktikan bahwa ayah salah menyikapi keraguan dan ketakutanku. Saya menulis sepucuk surat untuk diri sendiri dan berjanji akan membacanya setiap hari. Saya masih menyimpan surat  tersebut, dan inilah isinya: 

Dear Mac,
            Ini adalah sebuah kesempatan seumur hidup. Kau akan mengetahui terbuat dari apa dirimu. Ayahmu berfikir kau tidak bisa melakukannya. Kau bisa membuktikan bahwa dia salah. Ini tidak akan mudah dan saya yakin nantinya kau akan seringkali ingin berhenti. Bertahanlah di sana dengan setiap ketekunan yang bisa kau kerahkan.
            Dan pada akhir musim panas ini, ketika kau memandang ke cermin. . .  ucapkan dengan bangga. . .  saya berhasil.
            Buat ia bangga untuk mengatakan, ini putra saya.

            Nah, apakah saya memang membuat ayah bangga? Anda pasti yakin bahwa saya berhasil. Dari sekian ribu mahasiswa dari sejumlah universitas di seluruh penjuru negeri, saya berhasil meraih posisi ketujuh dalam penjualan untuk musim panas itu. Tetapi yang jauh lebih penting, saya merasa bangga pada diri saya sendiri. Saya telah membuktikan bahwa saya memiliki keberanian dan ketekunan serta disiplin untuk melalui masalah tersebut. Hal ini juga menjadi dorongan besar bagi rasa percaya diri saya.
            Pertanyaan yang sering saya tanyakan pada diri saya sendiri adalah. . .  apakah saya akan berhasil tanpa surat yang saya tulis itu? Dan jawaban yang kembali muncul dalam pikiran saya adalah. . . Tidak! Tidak diragukan lagi, ini merupakan sebuah pekerjaan paling sulit yang pernah saya lalui seumur hidup. Jam kerja yang panjang, penolakan yang sulit diterima, dan setidaknya pada bulan pertama, belasan kali saya ingin berhenti bekerja.
            Saya merasa yakin seratus persen bahwa perbedaan dalam kesuksesan atau kegagalan pada musim panas itu adalah karena 84 kata yang saya tulis pada selembar kertas buku catatan itu. Pelajaran-pelajaran yang saya dapatkan sungguh kuat: disiplin, kerja keras, cita-cita. Namun hal paling penting yang saya pelajari adalah kekuatan dari kata-kata. . .  ketika dirangkaikan menjadi satu tujuan.”
            Sekarang, jika anda sudah memahami betapa pentingnya menuliskan bahkan sekedar sebentuk kecil mimpi anda, mulailah disini, dengan menemukan  tujuan hidup anda.
Awal-awal anda mungkin masih samar mengenalinya. Ada beberapa langkah yang memungkinkan untuk anda lakukan, salah satunya seperti dr. Andhyka Sedyawan katakan dalam salah satu trainingnya, Amazing You, adalah membuat Nisan diri. Tuliskan segala hal yang anda ingin dunia kenal dan kenang tentang diri anda sekiranya anda telah tiada. Disitulah mungkin akhirnya anda mampu meraba-raba hal yang sungguh-sungguh anda punya untuk diwujudkan. Berikut juga ada dua tips praktis untuk memudahkan anda menemukan jawabannya :
1.      Sadarilah bahwa Anda adalah spesial, Temukan bakat Anda. Kita semua adalah unik dan memiliki bakat khusus. List hal-hal yang menjadi kekuatan & kelemahan Anda. Ingat ini. Dapatkan pula umpan balik dari orang terpercaya disekitar anda. Sehingga anda akan mendapatkan gambaran realistis mengenai bakat-bakat Anda.
2.      Temukan apa yang membuat Anda bersemangat—Temukan keinginan besar Anda & berusahalah dengan keras untuk menyemangati hidup. Namun demikian, jangan abaikan peringatan ini... bersabarlah. Tujuan dalam hidup mungkin tidak muncul ke permukaan dalam semalam, namun seperti halnya cinta, ia akan menemukan kita saat kita benar-benar mengharapkannya.
Sahabat-sahabat saya yang baik, ketika segalanya kian terang untuk anda. Maka, mulailah sekarang. Saat ini juga. Gambarkan peta hidup itu secara nyata.gambarkan dengan rinci, akan kemana anda, akan berbuat apa, atau akan seperti apa anda kedepannya. Jika perlu tempelkan peta hidup itu dengan gamblang dan besar di dinding kamar anda, atau disampul diary harian anda. Setelah itu, serahkan pena dan penghapusnya kepada Allah. Biarkan ia yang menghapus apa yang tak layak, dan menggantinya dengan yang lebih baik. Dan ingatlah ini. Optimis. Karena kesuksesan itu adalah hak semua orang, kemuliaan itu adalah hak kita semua. Asal, kita mau BERUSAHA.
Nah, dengan demikian. Berarti kesiapan itu sudah ditangan. Untuk konsekuensi baik maupun buruknya, untuk perjalanan yang akan menyenangkan dan menyembilunya. Untuk air mata yang harus tertumpah, keringat yang mesti tercurah, lelah yang harus dibayar, Anda siap. Sudah siap. Segera kita akan berkompetisi bersama. Dan Rasulullah beserta para sahabat dan mujahid lainnya sudah menunggu kita membersamai mereka di mimbar kemenangan. Maka bersegeralah, bergegaslah, kita sudah akan berlomba sahabat, bagaimana mungkin anda belum memiliki peta ditangan. Come on friends!.Lihatlah kesana, Di ujung jalan itu kita akan bertemu, untuk bersama melepas senyum, menyampai selamat atas keberhasilan kita menempuh jalan-jalan yang telah kita buat dengan indah...
Saya. Tentu berharap, kelak anda ada disana, menjadi bagian dari kelegaan terbesar. :-)
So, Let’s make it! Then do it!. Now!.
Salam berkah!. ^_^
_Rafiqah Ulfah Masbah_

You Might Also Like

3 komentar

  1. Berjuanglah Sungguh-sungguh
    Berdoalah Sungguh-sungguh
    Selanjutnya Biar Allah Yang menentukan

    BalasHapus
  2. syukron buangettt,, muantapp.. gerrah saya baca nya,, mohon ijin mengutip beberapa tulisan di atas, insyaAlloh bermanfaat buat umat,,, ;) ok??

    BalasHapus
  3. InsyaAllah, impian2 yang kita tulis adalah seperti surat doa kepada Allah. tinggal kitanya saja mau berusaha atau tidak. :)

    BalasHapus

Say something!

Subscribe