Membaca lagi ‘Keistiqomahan’ diri

Mei 18, 2011


Sore ini aku menangis, akhirnya terhayat lagi salah satu nasyid ini :

Sekeping hati dibawa diberlari
Jauh melalui jalanan sepi
Jalan kebenaran indah terbentang
Didepan matamu para pejuang.

Tapi, jalan kebenaran tak akan selamanya sunyi
Ada ujian yang datang melanda,
Ada  perangkap menunggu mangsa.

Akan kuatkah kaki yang melangkah,
Bila disapa duri yang menanti
Akan kaburkah mata yang menatap
Pada debu yang pasti kan hinggap.

Berharap senang dalam berjuang
Bagai merindu rembulan ditengah siang
Jalannya tak seindah sentuhan mata
Pangkalnya jauh, ujungnya belum tiba.
_Suci Sekeping Hati_



            Allahu Rabbi, benarlah. Jalan-jalan kebenaran ini bukanlah seperti hamparan permadani surga, tapi hamparan duri yang menyembilu sampai ke tulang-tulang. Semakin kami berusaha berlari menuju-Mu ya Allah, semakin tak rela dunia melepaskan pegangannya.
Allahu ya Karim..Maka benarlah, jalan kebaikan ini memang bukanlah jalan-jalan yang ramai, yang dipenuhi sesak. Melainkan hanya sedikit, sepi sekali. Karena memilih jalan ini berarti siap memasuki pusaran hutan yang ganas. Tak semua bisa keluar dengan selamat.
Allahu ya Rahman, maka hari ini aku menangis lagi, saat seseorang mengajakku merasai, memaknai ‘istiqomah’ itu kembali. Ahh,, sungguh betapa beratnya satu kata ini. Berat sekali. Seperti membayangkan membawa gunung dipundak sementara harus berjalan diatas duri yang tajam. Ahh,,, sakit sekali,  ya Allah. Berat...sekali.
Maka biarlah kali ini aku menangis Rabb. Menangis saja. Bukan untuk meratapi diri. Tapi agar aku bisa menyiram kembali hati. Memurnikannya lagi.
            Aku bahkan tak tahu, sampai kapan akan berdiri. Aku bahkan tak pernah tahu, lubang apalagi yang siap menyergap diri. Aku bahkan tak tahu sama sekali, masihkah saat ini aku berjalan dijalan yang benar. Ataukah memang tak pernah benar, karena hanya aku ‘benar-benarkan’.
            Duhai Rabbi, maka dimanakah lagi hamba mengadukan kefakiran, kebodohan, dan kelemahan ini melainkan hanya padaMu saja ya Allah. Sang penggenggam keadaan.
            Duhai Rabbi, sungguh aku tak bermaksud bagiMu untuk mengurangi bebanku. Tapi hanya agar aku diberikan hati yang lapang untuk menerima segala cerca, untuk menampung segala ketaksukaan, untuk menempatkan semua rasa kecewa. Karena aku takut ya Allah, jika aku bahkan tak memiliki ruang-ruang untuk kekecewaan tersebut. Karena aku takut ya Allah, justru itulah yang membuatku jatuh dan makin terpuruk.
            Duhai Rabbi, Aku melihat segalanya berubah begitu saja, kian cepat, dimana saja, dan bisa dengan segala cara. Aku mungkin baru saja melangkahkan satu kaki. Dan orang-orang seperti sudah hendak melemparkan batu ke wajah ini. Ah tidak. Bagaimana mungkin aku mengeluhkan itu. Ah tidak. Bagaimana mungkin aku menjadikan ini alasan untuk berhenti sampai disini. Ah tidak. Bahkan Rasul yang paling Kau cintai sekalipun itu punya cerita yang lebih pedih sebelum ini. Ah tidak. Bahkan RasulMu yang paling lembut hati itu saja, harus berpeluh ujian hidup sedemikian keras. Bagaimana mungkin aku mengeluh?!.
            Maka ku baca lagi keistqomahan ini, aku memang tak mungkin berharap seluruh manusia dimuka bumi ini berjalan di jalur yang benar, Aku memang tak bisa memaksakan semua orang untuk mau melihat bahkan peta pegangan yang Kau berikan, Aku memang tak mungkin, tak mungkin. Karena isi kepala setiap orang itu sengaja Kau ciptakan berbeda. Karena yang dirasakannya pun tak sama. Karena bahkan jikapun kami saling mencintai, ekspresinyapun berbeda. Ah ya, mungkin itulah kenapa yang selalu diperbuat terhadap kebenaran adalah, disalahfahami.
            Maka kubaca lagi keistoqomahan ini. Ini tentang terwarna dan mewarnai. Ini tentang siapa yang kuat dan tidak. Ini tentang kekokohan jiwa. Tentang prinsip. Tentang ego diri. Maka siapakah yang bisa memenangkannya?. Aku tak pernah tahu. Itu tergantung bagaimanakah Engkau hendak menampakkan keteranganMu ya Allah.
            Aku hanya bisa memaksakan kaki ini untuk tetap tegak. Tegak diderasnya perbedaan, di klimaksnya kedzaliman, dikerdilnya ilmu,  gelapnya mata, dan sepinya sekitar. Kadang aku bahkan hanya mampu mengajak bicara nurani. Meraba-rabanya kembali, yang telah buram oleh kotornya perbuatan. Ya. Paling tidak, aku menemui sedikit cahayaMu disana. Cukuplah itu untukku ya Allah.
            Maka kubaca lagi keistiqomahan ini. Karena aku pun tak ingin seperti orang yang Kau maksudkan ‘sombong’ itu ya Allah. Ya. Yang meremehkan orang lain dan menolak kebenaran.
            Dan kubaca lagi keistiqomahan ini. Hingga aku mengerti. Hingga akhirnya kebenaran sejati itu menampakkan wajahnya pada dunia. Ya. Dan sungguh aku berharap bukan bagian dari mereka, yang keringatnya kelak sampai ke mata kaki, atau pinggang, atau bahkan mereka yang ditenggelamkan olehnya...
            Ya. Membaca lagi keistiqomahan ini. Akhirnya, aku kembali harus memilih, mana yang terbaik... apakah pergi atau tetap disini. Karena terkadang meninggalkan tak selalu berarti mengabaikan. (-_-)

_Rafiqah Ulfah Masbah_

You Might Also Like

0 komentar

Say something!

Subscribe