START For STAR

April 25, 2011


Kita tidak perlu menjadi HEBAT untuk
bisa MEMULAI sesuatu,
tapi kita harus MEMULAI sesuatu untuk menjadi HEBAT.
Mira Lesmana



            Sudah fitrah manusia penuh kekurangan disana-sini. Tak selalu benar dalam memilih. Dan tak harus selalu berhasil ketika bertanding. Kita diikat oleh takdir. Tapi Allah Mahabaik. Pilihan-pilihan selalu hadir untuk kita jalani. Dan sekali lagi, bagaimana nasib kita dalam hidup dan setelah mati kembali kepada diri kita pribadi.

            Namun disinilah masalahnya, banyak manusia seolah hidup untuk diri sendiri. Dan lupa, bahwa setiap keputusan yang ia ambil detik ini selalu memberi pengaruh bagi orang lain.

            Maka diawal, saya mengajak sahabat sekalian untuk berhenti menunggu kesempurnan. Hanya memulai. Sebagaimanapun kapasitas diri. Bukankah kita adalah jama’ah yang selalu saling melengkapkan yang lain ?.

Kita mungkin bukan siapa-siapa yang tiba-tiba hadir disini. Tidak dengan kapasitas keilmuan yang tinggi, tidak dengan kompetensi organisasi yang memadai, juga tidak dengan ketangguhan fisik yang baik. Lebih-lebih mempertanyakan eksistensi. Ketiadaan kita mungkin awalnya tidak berarti, kehadiranpun tidak menjadi solusi.  Ya. Apapunlah. Tak perlu membahasnya terlalu jauh. Karena saya sendiri sudah terlalu tersinggung. (Kelihatannya saya memang sedang membicarakan diri sendiri sih ^_^).

Biarlah dunia memandang sebelahmata, tapi Allah Maha Melihat manusia-manusia yang mau belajar. Manusia-manusia yang mau berusaha. Seberapa jauh pun mereka tertinggal, jangan lupa. Setiap orang butuh berhenti sekali-sekali. Dan selalu ada kemungkinan untuk menyusulnya kembali.

Berhenti menunggu kesempurnaan. Hanya memulai. Karena setiap orang punya kompetensi berbeda-beda. Dan kita bertindak sesuai dengan keahlian yang kita punya. Bermanfaatlah dengan segala yang kita bisa. Memberi dari kelebihan mungkin hal biasa yang sudah seharusnya dilakukan. Namun, ketika memberi dari kekurangan kita, disinilah pemaknaan hidup yang lebih tinggi lagi. Sekedar mengutip sebuah kalimat yang pernah saya baca, “Memulai adalah suatu pekerjaan terhormat. karena terlalu sedikit bahkan yang terbilang cukup yang bersedia segera melakukannya.”

 Sahabat, Dalam barisan dakwah ini, mungkin saja ujian terbesar yang selalu kita pahami adalah konsistensi. Ah, ya. Tapi kita mungkin lupa. Bertahan itu dilakukan setelah memulai sesuatu. Dan, mirisnya, wabah yang belum berkesudahan di negeri tercinta ini adalah masih, “Ogah” dan “Nanti”. Kepengecutan untuk menyudahi pertimbangan-pertimbangan yang terlalu banyak dan alasan-alasan yang dibuat-buat.

Sekali lagi, Berhenti menunggu kesempurnaan. Hanya Memulai. Memulai untuk belajar, untuk memikirkan, kemudian paham, lalu mulai menanam paradigma besar, dan mulai bertindak dengan indah. Dari permulaan-permulaan itulah kita belajar. Mampu membedakan yang salah dan benar. Bukankah pengalaman adalah guru yang paling nyata dan bijak?.

Mengutip kata-kata bertenaga seorang ulama besar, Syaikh Amjad az-Zahawy : “Dunia islam kini tengah terbakar, kewajiban kita adalah memadamkannya sesuai dengan jangkauan tangan kita, tanpa menunggu yang lain...”. Maka mulailah sekarang juga. Karena Islam tidak bisa menunggu lagi sampai kita sarjana, master, insinyur, dokter, profesor, untuk menyampaikan ilmu dan memberi pembelajaran. Dakwah ini hadir untuk siapa saja yang peduli, untuk siapa saja yang mencintai kebenaran, dan untuk siapa saja yang memilih kebaikan sebagai jalan hidupnya. Regas semua ketakutan. Sejak awal Allah telah menyemangati kita. Ingatkah, bagaimana kita diberi kekuatan untuk berteriak sekuat tenaga, menggetarkan bumi & alam semesta ketika pertama kali dilahirkan. Kita mengepalkan tangan sebagai tanda siap berjuang. Azan dilantunkan di telinga kanan dan ikamah ditelinga kiri sebagai perintah untuk mencapai kemenangan... Hayya ‘alal Falaaah... Maka jelas, indikator dalam kehidupan ini adalah perjuangan.

Maka Mulailah disini, dijalan yang mungkin sedikit dilalui, yang tak ramai, terlebih dihampari duri yang selalunya membuat hati merintih. Tapi biarkan ayat satu ini senantiasa melantun sebagai motivasi penggugah semangat.
“Intanshurullaha yanshurkum wayutsabbit aqdaamakum....”
(“Jika engkau menolong agama Allah, niscaya Allah menolongmmu dan meneguhkan pijakan kakimu...”). QS. Muhammad :7

Jika engkau masih merasa bahwa segala yang ada di sekitarmu gelap & pekat, 
tidakkah dirimu curiga 
bahwa engkaulah yang dikirim oleh Allah untuk menjadi cahaya bagi mereka? 
berhentilah mengeluhkan kegelapan itu, 
sebab sinarmulah yang sedang mereka nantikan, 
maka berkilaulah!

            Saya  jadi sangat bersemangat meneriakkan slogan ini,
“with ForStar???, be a STAR!!!!!”. Allahu Akbar!!!! J
Semoga bermanfaat.... ^_^

Rafiqah Ulfah Masbah


You Might Also Like

0 komentar

Say something!

Subscribe