Memungut serakan-serakan pahala yang banyak manusia buang

April 20, 2011



Aku menghambur disela kerasnya jiwa
Memungut serakan-serakan pahala yang banyak manusia buang.

Menyesakkan kala mengingat penghisaban pertama.
Sementara Aku tak pernah mampu sampai di tingkat kekhusyu’an teratas, Rabb.
Makin lengkap kefakiran ini.
Maka kupungut serakan-serakan pahala yang banyak manusia buang.
Meski tak pernah cukup menambal dosa.
Menutup nista.
Ah biarlah.
Setidaknya kutahu,
“Innassholata tanha ‘anil fahsyai wal mungkar”.
Dan Cukuplah ini menjadi alasan.

Maka kupungut serakan-serakan pahala yang banyak manusia buang.
Karena Aku merindu setitik saja cintaMu.
Sebagaimana firman ini melantun syahdu:
Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan yang lebih Aku sukai
 daripada amalan yang telah Aku wajibkan atasnya.
Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan  ibadah-ibadah sunnah,
 hingga Aku mencintainya.
 Bila Aku telah mencintainya,
Aku akan menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar,
menjadi penglihatannya yang dengannya ia melihat,
 menjadi tangannya yang dengannya ia memukul,
 dan menjadi kakinya yang dengannya ia berjalan.
 Bila ia meminta, pasti kan Ku berikan.
Bila ia memohon perlindungan, maka pasti Ku lindungi ia.
Tidak pernah Aku merasa bimbang sebagaimana ketika Aku mencabut nyawa seorang mukmin yang tidak menyukai kematian,
sementara Aku tidak ingin menyakitinya.”

Ah Ya, Maka Aku semakin bersemangat memungut serakan-serakan pahala yang banyak manusia buang.
Dihamparan ketidakpantasan,
Aliran harap inipun tak pernah kering,
 menanti panggilan termanis.
“Yaa Ayyatuhannafsul Mutmainnah!
 irji’i ila robbiki raadhiyatammardhiyyah.
Fadkhuli fii ibadi.
Wadkhuli Jannatii.”
Sekujur tubuhku bergetar.

Ah Ya.
Maka kujemput berkahMu dengan serakan-serakan pahala yang banyak manusia buang.

_Rafiqah Ulfah Masbah_

You Might Also Like

0 komentar

Say something!

Subscribe